Share This Article
Agaknya tak perlu diragukan lagi kalau Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah seorang kreator, tentu juga sebagai pembelajar, dan pernah menjadi Presiden ke-6 Republik Indonesia. Pun halnya di bidang seni. Kali ini ia menyorongkan “Diana (yang disebutnya) Memang Manja”. Dan sungguh, membikin aku tergoda untuk mengenalnya.
(Onoff.id): Menggeluti penciptaan lirik lagu dan menyusuri torehan kuas di kanvas kiranya bukan lagi hal baru buat SBY. Publik juga sudah sangat mafhum akan itu.
Soal kegemaran membaca? Hmmm…ini lebih-lebih, tak perlu diragukan lagi. Seorang Rocky Gerung yang kesohor sebagai komentator politik, juga filsuf dan kini menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), pernah berkali-kali menyanjung bagaimana SBY sangat doyan membaca dan merupakan kawan diskusi yang smart.
Bagi saya sanjungan tersebut berasa sangat istimewa, sebab keluar dari mulut seorang RG yang dikenal demen mengobral kata “dungu”. Dan saya setuju dengan pendapat “Anak menteng” yang satu ini.
Tapi kreasi SBY kiranya tak berhenti sebatas lagu dan lukisan. Karakter sebagai pembelajar agaknya telah menggiringnya untuk menulis fiksi. Sesuatu yang terbilang langka dilakukan politisi, terlebih oleh mantan Presiden di republik ini.
Tulisan SBY kali ini bukan pula puisi singkat atau esai ringan, melainkan buku novel. Sebuah rangkaian tulisan yang butuh nafas panjang untuk merampungkannya. Dan itu jelas tak mudah dilakukan, bahkan untuk alumnus jurusan sastra sekalipun.
Hal lain yang membikin kagum, setidaknya buat saya, adalah pilihan judul novel tersebut. Bayangkan, seorang mantan Presiden RI yang dikenal bertutur kata rapi dan berpenampilan rambut klimis, tetiba menyodorkan novel bertajuk “Diana Memang Manja”. Wadidaw….sangat menggelitik.
Novel ini dirilis Kamis (29 Oktober 2026) kemarin. Sayangnya, saya belum bisa mendapatkan informasi di mana bisa membeli buku itu, setidaknya sampai tulisan ini dibuat. Saya penasaran ingin menyelami alam pikir dan dunia imajinasi seorang SBY melalui novelnya.
Konon, terbetik kabar, sebagian dari novel ini ditulis SBY di sela-sela menjalani pemeriksaan medis (medical check-up) di Rochester, Minnesota, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.
Samar-samar juga diketahui, cerita novel “Diana Memang Manja” menyoroti kisah yang menyentuh, termasuk kenangan emosional dan kedekatan tokoh dengan figur seorang ayah.
Sosok ayah dilukiskan sebagai pribadi sederhana dan pekerja keras. Ada juga potongan momen kebersamaan mereka tengah menonton Dunia Dalam Berita setiap pukul sembilan malam. Sebuah setingan waktu yang langsung melempar memori pembaca ke era Orde Baru.
Seakan tak pernah kehabisan gagasan di usia senjanya, kelar novel pertama, SBY langsung gaspol mempersiapkan novel kedua. Pada satu kesempatan ia pernah bilang, novel berikutnya mengangkat tema politik, uang, dan kekuasaan.
Saya coba kutip ucapannya langsung, “Novel yang berikutnya lagi adalah it is about politics, money and power. Novel ini berangkat dari percakapan saya bulan Januari lalu dengan empat orang rekan di sebuah kafe di kawasan Cipaganti, Bandung,” ujar SBY.
Ia menambahkan, novel keduanya ini akan mengangkat kisah perjalanan politik, mulai dari proses meraih kekuasaan hingga bagaimana kekuasaan digunakan setelah berhasil diperoleh.
Mungkin akan ada yang menyebut, ah tidak seistimewa itu. Biasa saja. Ini cuma selingan semata. Cara SBY mengisi waktu luangnya.
Boleh jadi perspektif itu benar. Terlepas benar-salah, tapi ini tetap menjadi sesuatu. Setidaknya buat para anak muda.
Pengalaman menggeliuti dunia literasi digital selama ini, membuat saya kerap berinteraksi dengan pelajar SMA dan SMK di Lampung. Ada kasuistik menarik saat bercengkerama dengan mereka.
Ada cukup banyak siswa yang merasa dilematis. Pada satu sisi ingin memenuhi dahaga literasinya dengan membaca karya fiksi, termasuk novel. Namun di sisi lain masih ada pandangan keliru yang menyebut tidak ada gunanya bagi pelajar membaca novel. Hal itu dianggap perbuatan mubazir, semata membuang-buang waktu tanpa ada hubungannya dengan akademis.
Saya melihat peluncuran novel “Diana Memang Manja” ini memberi makna tersendiri. Bahwa ternyata seorang mantan Presiden Republik Indonesia memandang penting eksistensi karya fiksi, dalam hal ini novel.
Mestinya, para orang tua, kepala sekolah dan guru, bisa juga memahami realita itu bahwa tak “berdosa” bila pelajar membaca fiksi.(*)
Menjadi jurnalis sejak 1999. Pemerhati literasi digital dan tertarik pada sastra. Menulis buku-buku fiksi dan non-fiksi. Tinggal di Kota Bandar Lampung.
