Share This Article
Kritik keras datang dari Parlemen Indonesia menyusul lelucon kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kepala negara Paman Sam itu menjadikan popularitas nama Mohammad sebagai bahan ejekan dalam kampanye politiknya.
(Onoff.id): Pernyataan tersebut memicu reaksi tajam di Senayan. Komisi I DPR RI mendesak Kementerian Luar Negeri segera mengambil langkah diplomatik yang terukur guna menyikapi polemik ini.
Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono, menegaskan para pemimpin global wajib menjaga etika komunikasi publik. Simbol dan nama keagamaan memiliki nilai sakral yang tidak boleh direndahkan dalam panggung politik.
“Menurut saya, setiap pemimpin dunia perlu mempertimbangkan dampak dari pernyataannya, terutama ketika menyangkut simbol, nama, atau hal-hal yang memiliki makna penting bagi suatu agama. Kebebasan berpendapat tetap perlu disertai tanggung jawab dan penghormatan terhadap keyakinan orang lain,” ujar Dave, seperti dilansir detik.com, Senin (19 Oktober 2026).
Dave mendorong kementerian terkait menjalin komunikasi terarah dengan pihak Amerika Serikat. Langkah ini bertujuan menyampaikan pesan pentingnya menghormati sensitivitas umat beragama tanpa memperkeruh hubungan diplomatik bilateral.
Nada serupa disampaikan Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta. Ia menilai tindakan mengejek identitas keagamaan sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin tertinggi negara.
“Nama Muhammad memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Islam. Karena itu, menjadikannya bahan olok-olok, terlebih oleh seorang kepala negara, tentu sangat tidak patut,” tutur Sukamta.
Sukamta mengingatkan ketegangan geopolitik tidak boleh membenarkan pelecehan terhadap simbol agama tertentu. Dunia internasional saat ini membutuhkan teladan kedamaian dan sikap saling menghargai.
Pernyataan kontroversial itu bermula ketika Donald Trump berpidato di hadapan para pendukung setianya. Ia melontarkan candaan bernada merendahkan terkait penamaan warga asal kawasan Timur Tengah.
“Kalian tahu, jika ragu tentang nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja Mohammad,” ucap Trump dilansir Reuters.
“Peluangnya benar sekitar 65 persen. Halo, Mohammad. Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Tidak pernah salah,” tambahnya.(*)

