Share This Article
Saif Umar atau akrab disapa Ustaz Saif, meyakini bahwa nilai dakwah bukan sekadar menyampaikan kata-kata di atas mimbar, melainkan sebuah ikhtiar panjang untuk merangkul umat.
(Onoff.id): Perjalanan panjang sebagai pendakwah membawa Saif melintasi berbagai medan pengabdian, mulai dari berdakwah di pedalaman Nusa Tenggara Timur dan Timor Leste, hingga mengelola pesantren dan memberantas buta huruf Al-Quran di Lampung.
Pria kelahiran Lampung Utara, 17 Juli 1992 ini, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Ia telah berkecimpung di dunia dakwah selama 20 tahun sejak usianya masih 13 tahun.
Saif menyelesaikan pendidikan S1-nya di STID Mohammad Natsir Jakarta. Kemudian melanjutkan studi S2 di IAI An-Nur Lampung, hingga saat ini menempuh pendidikan S3 di UIN Raden Intan Lampung.
Saif juga telah menyelesaikan hafalan 30 juz, serta memantapkan keilmuan Al-Qur’annya dengan mengambil Sanad Qira’at Imam Hafsh dan Syu’bah di Jakarta.
Pengalaman paling menantang sekaligus berkesan dalam perjalanan dakwahnya terjadi pada kurun waktu 2014 hingga 2015. Kala itu, usai menuntaskan S1, ia ditugaskan terjun langsung ke medan dakwah pedalaman Nusantara, melintasi wilayah Timor Leste hingga Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di wilayah Timor Leste, tepatnya di Distrik Viqueque, ia mengaku berhadapan langsung dengan kondisi masyarakat muslim yang tergolong sangat minoritas (sekitar 7 persen) serta medan geografis yang berat.
Kiprah dakwah pedalamannya kemudian berlanjut ke pelosok Kalimantan Barat pada 2015 hingga 2016. Di sana ia sekaligus mengabdi sebagai Dosen Ilmu Qur’an & Adab di Akademi Dakwah Indonesia Sambas.
Saif mengaku kehadiran sosok ustaz atau tokoh agama di pelosok sangat dinantikan oleh masyarakat.
“Ternyata di pelosok sana, saudara-saudara kita sangat menantikan kehadiran ustaz untuk membimbing mereka. Pengalaman itu memberi kesan tersendiri dan menjadi semangat bahwa kita yang berada di lingkungan mayoritas muslim harus lebih bersemangat menyebarkan ajaran Islam,” ujarnya.
Meneladani M Natsir
Kiprah dakwah Saif kini berlanjut di Lampung. Sebelumnya ia sempat menjabat sebagai Mudir Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Dewan Dakwah Lampung pada 2016–2022 dan Ketua Pemuda Dewan Dakwah Provinsi Lampung pada 2020–2024.
Saat ini kesibukannya berfokus pada pembinaan santri di Pondok Pesantren Tahfizh Qur’an Menara Sembilan Indonesia (PPTQ MSI), yaitu lembaga pendidikan Islam yang dikelolanya.
Ia juga aktif mengemban amanah sebagai Bendahara Forum Silaturahmi Dakwah Standarisasi (FSDS) MUI Lampung.
Selain memastikan pengelolaan dan mutu guru di pesantren berjalan dengan baik, ia bersama para aktivis dakwah juga mendedikasikan gerakan sosial keagamaan untuk mengentaskan buta huruf Al-Qur’an di sekitar Bandar Lampung.
Mengingat data penelitian yang mencatat sekitar 72,2 persen umat Islam di Indonesia masih menghadapi kendala dalam membaca Al-Qur’an, masjid-masjid di daerah diubah menjadi pusat pendidikan Al-Qur’an yang masif.
Ia sendiri secara konsisten membimbing pengajaran Al-Qur’an dan kajian rutin di berbagai tempat, seperti Masjid Baiturrahman Rajabasa, Masjid Nurul Falah Gedong Air, Masjid An-Nur Gunung Terang, hingga Masjid Nurul Amal.
Sejak berkiprah di dunia dakwah, Saif sangat terinspirasi oleh sosok Perdana Menteri pertama RI, Dr. Mohammad Natsir.
Menurutnya, teladan Natsir dalam mempersatukan berbagai perbedaan mazhab, politik, dan budaya di Indonesia tanpa memecah belah masyarakat menjadi landasan kuat agar dakwah senantiasa hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Bagi Saif, menjaga keikhlasan dan stamina mental agar tetap istiqomah di jalur dakwah berakar dari muhasabah diri yang konsisten.
“Jika kita meluruskan niat semata-mata karena Allah untuk memberikan manfaat seluas-luasnya bagi manusia, sebagaimana halnya sejalan dengan hadis Nabi (khoirunnas anfa’uhum linnas), maka semangat menyebarkan kebaikan ini tidak pernah padam,” pungkasnya.(*)

