Share This Article
Langkah kaki ratusan pemuda meramaikan Lapangan Bumi Perkemahan Gerakan Pramuka (Bupercap) Rajabasa, Bandar Lampung. Di bawah terik matahari, riuh tawa dan sapaan hangat memenuhi lokasi perkemahan pada Minggu (25 Oktober 2026).
(Onoff.id): Sehari sebelumnya, Sabtu (24 Oktober 2026), perkemahan kerukunan yang mempertemukan para pemuda dan pelajar se-Provinsi Lampung ini resmi dibuka oleh Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana.
Dalam sambutannya, Eva mengungkapkan bahwa agenda ini mencatat sejarah sebagai gelaran perdana di Kota Bandar Lampung. Kegiatan ini menjadi ruang belajar nyata bagi generasi muda untuk merajut kebersamaan di atas perbedaan keyakinan.
Kegiatan yang digagas oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bandar Lampung bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bandar Lampung ini bertajuk “Kemah Kerukunan Pemuda dan Pelajar Lintas Agama”.
Carfiki Gea, mahasiswa Universitas Bandar Lampung (UBL), datang bersama rombongan berjumlah 20 orang dari kelompok umat Kristen menggunakan sepeda motor.
Meski baru pertama kali menginjakkan kaki di arena perkemahan ini, Gea mengaku langsung bisa berbaur dengan teman-teman dari berbagai keyakinan.
“Seru banget perkemahannya, apalagi teman-temannya memang benar-benar berbaur. Kayak baru datang, tapi langsung saling sapa ‘halo’, terus kenalan sama yang lain,” ujar Gea antusias.
Bagi Gea, tingkat toleransi dan solidaritas antarumat beragama di acara ini sudah sangat baik. Para peserta tampak membaur tanpa sekat, saling menyapa tanpa memandang latar belakang keyakinan.
Ia menilai kegiatan semacam ini sangat layak untuk dijadikan agenda tahunan demi merawat kerukunan jangka panjang.

Melebur tanpa Sekat Keyakinan
Kesan mendalam juga dirasakan oleh Marcelina Angelica Joanita yang mewakili agama Katholik. Siswi kelas 10 SMA Yadika Bandar Lampung itu mengaku awalnya memiliki kepribadian yang cenderung tertutup (introvert). Namun, perkemahan ini berhasil mengubah sudut pandangnya.
“Aku di sini dapat banyak teman dan relasinya semakin banyak. Apalagi dengan beragamnya pertemanan di sini membuat saya semakin menambah wawasan baru dan juga sangat asyik acaranya,” ungkap Joan penuh semangat.
Remaja asal Paroki Way Kandis, Keuskupan Tanjung Karang ini menceritakan bagaimana para peserta menjaga ruang ibadah rekan-rekan yang berbeda keyakinan.
Saling menghargai, memberikan waktu, dan tidak mengganggu saat tibanya waktu beribadah menjadi kunci utama keharmonisan mereka selama berkemah.
Bagi Joan, perbedaan bukanlah penghalang, melainkan wadah yang membuat pertemanan mereka semakin berwarna.
Selama sehari penuh berkemah, ia juga memperkaya wawasannya melalui berbagai materi seputar lingkungan hidup, keorganisasian, hingga pentingnya merawat kerukunan lintas iman.
“Jangan pernah merasa berbeda meskipun memiliki Tuhan yang tidak sama, karena kita tetap satu dan bisa hidup rukun sebagai sesama umat beragama,” tuturnya.
Rasa canggung di awal kegiatan tak hanya dirasakan oleh Joan. Fatimah Rizqiyan Kamila, siswi SMA IT Al-Firdaus asal Kemiling yang datang bersama rombongan pondok pesantrennya, mengaku sempat merasa malu ketika harus berinteraksi dengan peserta dari latar belakang agama yang berbeda.
Kendati demikian, pengalaman pertamanya mengikuti perkemahan ini justru meninggalkan kesan yang tak terlupakan.
Bersama 35 peserta dari sekolahnya yang mewakili agama Islam, Kamila mendapati momen berharga tatkala ia dan rekan-rekan peserta lainnya belajar memahami doa-doa dari tradisi agama lain.
“Kita bisa rukun meski beda-beda agama, terus kita juga jadi tahu doa-doa dari agama lain itu bagaimana,” ujarnya.
Hal serupa diungkapkan Salma Riah yang mewakili agama Buddha. Salma merupakan peserta asal Medan yang kini menempuh pendidikan di SMA Bodhisattva, Teluk Betung.
Bersama belasan rekan sesama pelajar Bodhisattva, Salma sempat merasa takut dan canggung di awal acara. Namun, ia memilih untuk menjalaninya dengan mengalir. “Yang paling berharga itu ya ketemu teman baru, bisa kenalan antarumat beragama,” ucapnya.

Kesan serupa turut disampaikan oleh Ni Putu Mia Artika yang mewakili agama Hindu. Menurutnya, kesempatan mendapatkan materi baru yang belum pernah ia temui di bangku sekolah, dipadu dengan pengalaman merajut persahabatan lintas iman, menjadi pengalaman paling berharga selama di perkemahan.
“Jujur seru sih, karena kan dapat materi baru yang kita enggak pernah pelajari, terus ketemu teman baru dari berbagai agama,” ujar Mia.
Meski sempat diliputi rasa malu di awal, ia perlahan memberanikan diri untuk mencairkan suasana dan mengenal rekan-rekan barunya lebih dekat.
Melalui obrolan hangat di bawah tenda, gelak tawa di tengah lapangan, hingga sesi belajar bersama, para peserta menitipkan satu harapan serupa. Mereka berharap gelaran moderasi beragama seperti ini dapat terus diadakan secara berkelanjutan di masa mendatang.(*)

