Share This Article
Mungkin selama ini keberadaan Linmas hanya dipandang sebagai pelengkap. Tapi pada perhelatan Kemah Bhakti Satya Linmas ditegaskan, betapa besarnya peran Linmas di tengah masyarakat.
(Onoff.id): Di bawah sengatan terik matahari, tangan-tangan jemari yang biasa mengurus rumah tangga itu mendadak sigap memegang pacul. Di atas tanah yang bergelombang, Wiwik Nofiyanti bersama rekan-rekannya meratakan lantai tapak kemah sebelum mendirikan tenda.
Jadwal keberangkatan yang mendadak dimajukan sehari dari rencana semula, tidak menyurutkan langkah 12 perwakilan anggota Satlinmas (Satuan Perlindungan Masyarakat) Kelurahan Bumi Waras itu untuk menjadi yang paling siap di lokasi Perkemahan Bakti Satlinmas.
Persiapan ini sebenarnya telah bergulir sejak tiga minggu sebelumnya. Dari total 50 anggota Linmas di Kelurahan Bumi Waras, 12 orang terpilih untuk membawa nama kelurahan.
Selama tiga pekan, malam-malam mereka diisi dengan latihan rutin bersama kelurahan lain se-Kecamatan Bumi Waras. Ini ikhtiar demi menampilkan pertunjukan terbaik pada malam pentas seni.
Potret kesigapan yang sama terekam di sudut lapangan. Beberapa personel pria berseragam hijau lumut dan kaus hitam khas penegak ketertiban, tampak bahu-membahu menancapkan tiang-tiang bambu penopang gapura tenda.
Di bawah komando seorang petugas berpakaian kaos oblong hijau, mereka mengencangkan tali rafi, memastikan fondasi tempat singgah berdiri kokoh di atas tanah yang baru selesai dibersihkan dari ilalang.
Semangat bergotong royong itu juga bergelora di tenda kontingen Kelurahan Kelapa Tiga Permai, Kecamatan Tanjung Karang Barat. Sebanyak 10 anggota terbaik diutus bersama ribuan peserta lain.
Tak kalah antusias, rombongan Satlinmas dari Kelurahan Way Tataan, Kecamatan Teluk Betung Timur, juga datang dengan mengirimkan 10 personel yang disatukan dalam satu tenda. Salah seorangnya adalah Carlis Amirzon.

Membentuk Ikatan Korsa
Keriuhan itu menjadi bagian dari perhelatan Kemah Bhakti Satya Linmas yang digelar selama dua hari satu malam, tepatnya pada Kamis hingga Jumat, 24-25 September 2026.
Berlokasi di Bumi Perkemahan Pramuka Karya Bakti Herman H.N., Kemiling Permai, Bandar Lampung, suasana perkemahan kian hidup dengan total kehadiran mencapai sekitar 1.260 Linmas yang datang dari 126 kelurahan se-Kota Bandar Lampung.
Setelah melalui tahapan gladi bersih dan pembagian seragam APD Linmas, para anggota mengikuti serangkaian agenda padat. Puncaknya terjadi pada Kamis, ketika seluruh peserta memadati lapangan untuk mengikuti apel bersama Raffi Ahmad hingga batas magrib.
Malamnya, kehangatan api unggun membakar semangat para peserta yang berlaga dalam lomba atraksi dan ketangkasan baris-berbaris (PBB) antar-kecamatan.
Di balik padatnya jadwal latihan fisik, perkemahan ini juga membuka wawasan para satlinmas mengenai tupoksi dan peran mereka di tengah masyarakat, serta ruang pemersatu yang penuh tawa.
Kejelian salah satu srikandi Linmas asal Bumi Waras berbuah manis saat ia berhasil membawa pulang hadiah sepeda dari Wali Kota, setelah berhasil menjawab pertanyaan seputar kebijakan pendidikan Kota Bandar Lampung.
Sementara di area tenda, malam-malam dilewati dengan penuh keakraban, lengkap dengan bumbu cerita jenaka khas mereka.
Bagi sebagian besar anggota, termasuk Carlis Amirzon dan rekan-rekan dari Way Tataan, menginap di alam terbuka seperti ini adalah pengalaman pertama seumur hidup mereka.
“Kami senang bisa kumpul, menginap bareng. Bisa ngobrol langsung sama rekan dari tempat lain yang sebelumnya mungkin cuma sempat lihat aja,” ungkap Carlis, Jumat (25 September 2026).

Bertukar Kesan
Kalau soal kesan atau pengalaman unik selama di perkemahan, Carlis langsung menyebut momentum antre di kamar mandi. Karena jumlah peserta yang banyak membuat antrean cukup panjang dan memakan waktu lama.
Momen lain yang berkesan, sambung dia, pada saat malam api unggun. “Di situ berasa kebersamaannya. Suasana juga jadi terasa gimana gitu, kayak syahdu gitu,” ucapnya.
Kesan membekas dari Kemah Bhakti Satya Linmas ini juga dirasakan Muryadi dari Tanjung Karang Barat. Baginya berkesempatan tidur berdampingan satu tenda dengan rekan-rekan dari latar belakang berbeda, memberi warna tersendiri yang menghibur.
“Banyak suara aneh,” katanya. “Suara orang mengorok. Yang ngorok banyak. Jadi kayak bersahut-sahutan di dalam tenda,” kenangnya, sambil tertawa.
Bagi Wiwik Nofiyanti, seluruh peluh dan kesibukan dari posko ke posko yang dimulai sejak senam pagi, hingga mengikuti sosialisasi terbayar tuntas oleh rasa kebersamaan yang terbangun.
Dia juga baru menyadari kalau ternyata peran Linmas perempuan tidak kalah dari personel lelaki. “Linmas perempuan bisa bantu-bantu penanganan warga melahirkan. Atau pendampingan ke perempuan dengan gangguan kejiwaan. Bisa juga ke penanganan KDRT, sampai ke kasus pelecehan seksual,” katanya.
Warna-warni pengalaman berkesan itu mesti diakhiri bersamaan dengan tenda-tenda yang dibongkar dan dilipat kembali.
Berakhirnya Kemah Bhakti Satya Linmas itu bukan berarti perpisahan, karena para personel Linmas telah mengantongi oleh-oleh berharga, bahwa ternyata mereka punya keluarga besar, sesama personel Linmas di berbagai wilayah.(*)

