Share This Article
Majelis Ulama Indonesia merespons tegas pengakuan pimpinan pengajian berinisial FF di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, yang mengklaim diri sebagai Imam Mahdi.
(Onoff.id): Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, memastikan seluruh ajaran dan praktik yang disebarkan pelaku murni kesesatan. Pelaku juga menyebut sang ayah sebagai Ratu Adil di tengah pengikutnya.
Cholil menegaskan, keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah memandang kedatangan Imam Mahdi sebagai perkara akidah akhir zaman, sebelum turunnya Nabi Isa dan munculnya Dajjal.
Silsilah Imam Mahdi berdasar hadis sahih berasal dari keturunan Siti Fatimah. Pengakuan sepihak tanpa dasar silsilah dan keilmuan jelas merupakan penyimpangan.
“Memang Imam Mahdi itu dalam keyakinan Islam akan datang pada akhir zaman. Tapi ketika dia ngaku sebagai Imam Mahdi, itu sudah jelas merupakan kesalahan dan kesesatan,” tegasnya seperti dilansir MUI Digital, Senin (26 Oktober 2026).
Mengaku Penguasa Takdir
Pernyataan MUI ini memuncak setelah warga Bangkalan melaporkan FF ke kepolisian atas dugaan pemerasan dan penipuan berkedok agama. Pelaku memanfaatkan kultur masyarakat lokal yang amat menghormati tokoh agama. Total kerugian jamaah akibat aksi nekat ini mencapai Rp1,3 miliar.
Kesesatan pelaku kian nyata saat mengklaim sanggup menguasai takdir, umur, hingga keimanan orang lain. Pelaku menebar teror psikologis dengan mengancam jamaah akan meninggal dunia atau dicabut imannya jika menolak menyerahkan uang.
Cholil menilai klaim tersebut sangat tidak masuk akal. Pelaku nyatanya tidak mampu memprediksi takdir buruknya sendiri saat aksi kejahatannya terbongkar dan diproses hukum.
“Wong dirinya sendiri tidak tahu pada takdirnya sendiri, bagaimana bisa tahu pada takdir orang lain? Kalau tahu, saya pikir enggak bakalan dia nipu dan akhirnya dilaporkan ke polisi,” terangnya.
Poin kesesatan berikutnya berujung pada pemerasan finansial berkedok penebusan dosa dan keselamatan keluarga. Pelaku yang tidak alim serta tidak memiliki sanad keilmuan itu, justru membelokkan pengajian rintisan keluarganya menjadi wadah indoktrinasi sesat.
Tradisi penghormatan tinggi masyarakat agraris Madura terhadap sosok kiai dimanipulasi secara dzalim demi mengeruk keuntungan materi.
“Dulu para kiai adalah orang alim yang memberi ajaran-ajaran yang baik. Tapi itu dimanfaatkan oleh orang yang tidak alim dengan cara menghegemoni masyarakat seakan-akan dia kiai,” ungkap Cholil.
MUI mengimbau masyarakat meningkatkan literasi keagamaan dan tidak gampang terkecoh oleh fenomena aneh yang menyimpang dari akidah murni. Korban kelompok ini diminta segera keluar, berkonsultasi dengan ulama lurus, serta melapor ke organisasi keagamaan atau pihak berwajib.(*)

