Share This Article
Roy Nugroho dikenal juga dengan panggilan Ustaz Roy. Ia pernah masuk ke wilayah perkampungan di mana sedang berlangsung gerakan pemurtadan secara masif kepada warganya. Ia juga pernah menyusup masuk ke pemukiman yang terisolir di tengah hutan. Kesemuanya untuk satu tujuan, bersyiar.
(Onoff.id): “Saya cuma ingin bermanfaat bagi orang lain juga untuk agama. Cuma itu saja,” ungkap Roy tentang misi dakwahnya yang sempat merambah ke berbagai arah, Selasa (27 Oktober 2026).
Keterlibatan aktif Ustaz Roy dalam dunia dakwah bermula pada tahun 2009 hingga 2010, selepas ia lulus dari SMA. Saat itu, ia dibimbing langsung oleh Ketua Dewan Dakwah Lampung Timur, Sukarman Adras.
Di bawah bimbingan sang guru, ia mulai diterjunkan ke berbagai wilayah yang menjadi titik rawan pemurtadan di Lampung Timur, seperti di Pasir Sakti, Pulau Sekampung, Sukadana Ilir, dan daerah sekitarnya.
“Beliaulah yang membimbing dan mengenalkan saya dengan dunia dakwah secara langsung. Beliau juga yang mengarahkan saya untuk masuk ke Akademi Dakwah Indonesia (ADI) di Kota Metro. Ini sangat berguna karena sebelumnya saya berlatar belakang pendidikan umum,” kenang Roy.
Setelah merampungkan pendidikan di ADI Kota Metro, ia melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir. Lulus dari sana, Roy menerima penugasan resmi dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat untuk berdakwah di daerah pedalaman Sulawesi Tengah, tepatnya di Dusun Pura Malino.
Wilayah penugasannya kala itu merupakan kawasan terpencil di tengah hutan yang hanya dapat diakses menggunakan sepeda motor. Di sela-sela tugas dakwah, ia menyempatkan diri menempuh pendidikan S2 Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri (IAIN) Datokarama Palu.
Dampak Sosiologi
“Di sana saya bertugas selama satu tahun. Tahun kelima saya putuskan pulang ke Lampung,” tuturnya.
Di bumi kelahirannya ini, Roy meneruskan berdakwah. Wilayah garapannya mencakup Tanjungsari (Lampung Selatan) dan Bandar Lampung.
Sejak tahun 2024, ia mendapat amanah menjadi Pimpinan Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Kota Metro. Saat ini, aktivitas dakwahnya berfokus di Kota Metro dan rutin mengisi khotbah di Bandar Lampung, serta menyapa warga di Lampung Timur.
Dalam menjalankan perannya sebagai dai, Ustaz Roy menilai bahwa tantangan terbesar tidak datang dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri, seperti mengelola sifat kurang sabar dan keterbatasan ilmu pengetahuan.
Selain itu, merajut kerja sama yang erat antarumat Islam menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Sementara dari sisi sosiologis, ia melihat ada perbedaan karakter antara masyarakat perdesaan dan perkotaan.
Menurutnya, masyarakat di pelosok sering kali kurang memiliki semangat dalam menuntut ilmu agama, akibat merasa belum terlalu membutuhkan atau terkotak-kotak oleh pengaruh ormas tertentu.
Sebaliknya, masyarakat perkotaan seperti Bandar Lampung dan Metro cenderung lebih terbuka.
“Masyarakatnya sudah mulai terbuka. Tidak melihat bendera, yang penting dia menyampaikan agama sesuai Al-Qur’an dan Sunnah dengan benar dan baik, maka mereka terbuka,” jelasnya.
Secara substansial, ia melihat kebutuhan spiritual yang mendesak di tengah masyarakat adalah pembenahan akidah dan tauhid agar terbebas dari sisa-sisa unsur syirik atau pengaruh adat yang tidak sejalan dengan ajaran Islam.
Selain itu, pemahaman ilmu fikih, tata cara ibadah yang benar, serta keteladanan figur dai dalam bermuamalah menjadi hal yang paling dinantikan oleh masyarakat di berbagai pelosok.(*)

