Share This Article
Dentuman petasan dan kembang api selama nyaris 30 menit menjelang tengah malam di Pondok Pinang, Kebayoran, Jakarta Selatan, berujung protes warga. Peristiwa pada Sabtu (3 Oktober 2026) yang viral di media sosial itu disebut membuat anak penyandang disabilitas mengalami kejang-kejang.
(Onoff.id): Insiden ini memantik perhatian serius para tokoh agama untuk menempatkan esensi perayaan keagamaan secara proporsional.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ahmad Fahrur Rozi, mengatakan momentum Maulid Nabi semestinya diisi dengan peneladanan akhlak Rasulullah SAW yang membawa rahmat dan menjaga ketenangan sesama.
“Pelaksanaannya hendaknya dilakukan secara tertib, penuh kegembiraan yang wajar, serta tidak boleh mengganggu kenyamanan warga sekitar,” tegas Gus Fahrur, seperti dilansir Rol, Selasa (6 Oktober 2026).
Gus Fahrur mengingatkan panitia kegiatan agar menghindari penggunaan petasan atau bentuk ekspresi berlebihan yang memicu keresahan. Koordinasi matang dengan warga dan aparat setempat menjadi kunci agar perayaan tetap berlangsung khidmat melalui amalan positif.
“Merayakan Maulid tidak harus gaduh, yang paling utama adalah memperbanyak shalawat, pengajian, santunan, dan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan nyata,” ujarnya.
Pribadi yang Dicintai
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Kusyairi Suhail menekankan pentingnya pendekatan dakwah yang mengedepankan kearifan situasi dan kondisi lingkungan.
Esensi dakwah, menurutnya, berorientasi pada upaya merangkul dan menebar simpati, bukan menghadirkan gangguan bagi masyarakat luas. “Sebab, dakwah itu hakikatnya merangkul bukan memukul, membina bukan menghina, menarik simpati bukan menebar benci,” ungkap Kiai Ahmad.
Dirinya lantas merujuk pada tuntunan Rasulullah SAW agar umat Islam senantiasa menghadirkan rasa aman bagi sesama manusia lewat lisan maupun perbuatan. Nilai-nilai luhur tersebut menuntut setiap Muslim untuk mencerminkan pribadi yang penuh kasih dan kemudahan.
“Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita umatnya untuk menjadi syakhshiyyah mahbubah, pribadi yang dicintai dengan akhlak mulia kita,” tuturnya.(*)

