Share This Article
Ramalan mengenai kedatangan Nabi Muhammad saw dapat ditemukan dalam kitab-kitab suci terdahulu, dan telah menjadi pembicaraan umum di kalangan semua bangsa.
(Onoff.id): Berbagai ramalan terbukti mampu mendorong kaum Yahudi dan Kristen untuk menetap di Arab, karena negeri Nabi Yang Dijanjikan itu memiliki nama khusus dalam kitab-kitab suci.
Al-Quran menerangkan, kemunculan Nabi saw telah dikisahkan oleh segenap nabi terdahulu, dan perjanjian pun dibuat melalui mereka dan kaumnya yang harus menerimanya tatkala ia muncul (QS. Ali ‘Imran [3]: 81).
Keistimewaan seseorang Yang Dijanjikan itu sudah diberitahukan kepada mereka, bahwa ia akan menjadi saksi kebenaran bagi segenap nabi di dunia.
Dengan mengutus para nabi yang terpisah-pisah, tindakan Yang Mahakuasa ini rupanya telah selaras untuk mereformasi setiap bangsa sejak zaman dahulu kala. Ketika berbagai kaum menempati bumi yang orangnya benar-benar tertutup satu sama lain, sedangkan komunikasi seperti zaman modern belum terwujud.
Untuk meleburkan ajaran agama yang berbeda kepada satu keimanan yang sempurna, dan dalam rangka menyatukan umat kepada satu persaudaraan universal, diutuslah seorang nabi beserta risalahnya bagi segenap umat manusia.
Berikut ini kutipan sejarah ramalan para nabi akan datangnya nabi terakhir Rasulullah Muhammad saw seperti termuat dalam buku “Muhammad Sang Revolusioner” yang ditulis Maulana Muhammad Ali.
Ramalan Nabi Ibrahim AS
Kaum Israiliyah maupun Ismailiyah bersumber dari nenek moyang laki-laki yang sama yakni Ibrahim as.
Walaupun kitab suci Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim tidak sampai kepada kita, namun tidak sedikit cahaya yang dipancarkan sebagai janji Tuhan kepadanya, lewat Perjanjian Lama dalam Kitab Kejadian yang diperuntukkan bagi putra-putranya yaitu Ishak dan Ismail.
Dalam hal ini, Al-Quran juga menyinggung perihal janji yang sama dalam firman-Nya, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.
Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’
Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.'” (QS. al-Baqarah [2]: 124).
Demikian pula doa Ibrahim bersama Ismail seperti terekam dalam firman Allah SWT, “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seseorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al-Quran) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana.” (QS. al-Baqarah [2]: 129).
Perjanjian Lama mencatat janji Tuhan ini dengan arti yang sama, sebagaimana yang dijanjikan kepada Ibrahim, bahkan sebelum lahirnya Ishak maupun Ismail.
“Aku akan memberikan kepadamu keturunan yang banyak dan mereka akan menjadi bangsa yang besar. Aku akan memberkati engkau dan membuat namamu masyhur sehingga engkau akan menjadi berkat.” (Kejadian [12]: 2-3).
Kemudian, perjanjian itu pun diberikan kepada Ismail, seperti tercantum dalam Kitab Kejadian [17]: 20: “Tetapi aku mengabulkan juga permohonanmu mengenai Ismael. Karena itu, ia akan Kuberkati dan Kuberi keturunan yang banyak. Ia akan menjadi leluhur 12 kepala suku, dan keturunannya akan kujadikan suatu bangsa yang besar.”

Ramalan Nabi Musa AS
Ramalan kedua yang mengumandangkan kedatangan Nabi Muhammad saw bisa dilihat dalam ucapan Nabi Musa as, “Dari bangsa mereka sendiri Aku akan mengutus kepada mereka seorang nabi seperti engkau. Aku akan mengatakan kepadanya apa yang harus dikatakannya.” (Ulangan [18]: 18).
Tak seorang pun dari kalangan Nabi Bani Israel yang mengikuti Nabi Musa dalam pergantian kerasulan yang panjang, hingga kedatangan Nabi ‘Isa yang mengaku sebagai Nabi Yang Dijanjikan oleh Tuhan.
Ramalan itu sudah begitu populer di kalangan kaum Yahudi dari generasi ke generasi yang memperkirakan seorang Nabi seperti Musa. Hal ini diungkapkan lagi dalam percakapan antara Yahya Pembaptis dan mereka yang datang menanyakan kepada beliau, “Siapakah Anda?” Beliau mengaku, “Aku bukan Kristus.”
Dan mereka menanyakan kepadanya, “Lalu siapa? Apakah engkau Ilyas?” Dan beliau menjawab, “Bukan.” “Apakah engkau yang dimaksud Nabi itu?” Beliau menjawab, “Bukan.” (Yahya [I]: 19-21).
Hal ini menunjukkan secara meyakinkan bahwa kaum Yahudi sekadar menebak-nebak kemunculan tiga Nabi yang berbeda.
Pertama, Elias (Nabi Ilyas), yang mereka sangka muncul kembali dalam diri seseorang, kedua, Kristus, dan ketiga, seorang Nabi universal yang harum namanya dalam kedudukannya, tanpa ciri lain yang perlu dipertimbangkan lagi. Itulah Nabi saw dan cukup kiranya untuk dikemukakan siapakah ia?
Itulah ramalan yang beredar di kalangan keluarga kaum Nabi Musa mengenai seorang nabi yang sama seperti beliau yang diperoleh di kalangan kaum Yahudi. Dengan bukti itulah, dan hanya sebelum kedatangan ‘Isa kaum Yahudi mengira-ngira tiga Nabi tadi, sebagaimana diceritakan dalam kitab suci mereka.
Kini, ramalan tersebut telah terpenuhi dalam pribadi Nabi ‘Isa dan Yahya, yang satu mengaku sebagai Kristus dan satu lagi mengaku diutus menjadi rohani Nabi Ilyas. Namun, keduanya tak pernah mengaku sebagai nabi yang sama seperti Nabi Musa as. Tidak pula bagi kaum yang menerima mereka mengindentifikasi seperti itu.
Nabi ‘Isa datang terakhir pada mata rantai kenabian di kalangan Bani Israel. Jadi, sejauh pengamatan kaum Bani Israel ramalan Kitab Ulangan tentang seorang nabi seperti Musa tetap tidak terpenuhi.
Kembali kepada sejarah dunia, kita menemukan bahwa tidak ada nabi lain, kecuali Nabi Muhammad saw yang pernah mengatakan persis seperti diceritakan oleh Nabi Musa as.
Dan tidak ada kitab suci lain selain Al-Quran yang menetapkan seseorang sebagai bukti ramalan tersebut. Dalam hal ini banyak bukti memperkuat kesimpulan yang sama.
Nabi Musa as adalah pemberi undang-undang, begitu pula Muhammad saw. Tak seorang pun yang membawa undang-undang (syariat) baru di antara para Nabi Bani Israel yang menjadi penerus Nabi Musa.
Nabi Muhammad saw bukan sekadar pemberi undang-undang, tetapi juga nabi yang persis seperti Nabi Musa.
Berkaitan dengan hal di atas, Al-Quran menyatakan, “Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekkah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang rasul kepada Fir’aun. (QS. al-Muzammil [73]: 15).
Tentu saja hal ini mengundang perhatian kaum Yahudi terhadap ramalan yang ada di Kitab Ulangan dalam ungkapan, “…dan seorang saksi dari kalangan Bani Israel telah menyaksikan orang yang seperti dia…” (Ulangan [46]: 10).
Kata-kata ramalan “dari kalangan saudara mereka” menghadirkan bukti yang lebih jelas bahwa nabi yang dijanjikan telah datang, bukan dari kalangan Bani Israel sendiri, namun dari kalangan saudara mereka, keturunan Ismail.
Dalam pengertian yang sama gamblangnya, ramalan ketiga bisa ditemukan dalam kitab yang sama yakni Kitab Ulangan.
Dikatakan, “Tuhan datang dari Sinai, dan bangkit dari Seir kepada mereka. Ia tampak bersinar dari Gunung Paran dan datang bersama sepuluh ribu orang kudus, di sebelah kanannya tampak kepada mereka api yang menyala.” (Ulangan [33]: 2).
Kalimat “datang dari Sinai” menunjukkan kedatangan Nabi Musa as, sementara “bangkit dari Seir” membuktikan penaklukan Seir oleh Nabi Daud as.
Kini, Paran diakui nama kuno bagi tanah Hijaz, yang di sana bangkit Nabi Muhammad saw dari keturunan Bani Ismail. Ungkapan “Dia datang bersama sepuluh ribu orang kudus” masih menunjukkan arti yang lebih jelas untuk mengetahui seorang pribadi kepada siapa mereka tujukan.
Nabi Muhammad adalah pahlawan dunia, dialah pelaku sejarah yang tiada duanya yang menaklukkan Mekkah bersama sepuluh ribu pengikutnya yang tulus dan suci, dan peristiwa tersebut menjadi pengetahuan sejarah yang sangat masyhur.
Undang-undang yang Rasulullah sumbangkan kepada dunia sampai hari ini merupakan baizha^ (cahaya nan gemerlap). Karena ia memancarkan cahaya yang terang benderang terhadap segala persoalan yang bertalian dengan agama, akhlak, dan kesejahteraan umat manusia.
Dan terhadap semua inilah sindiran itu dikemukakan dalam ungkapan, “dari tangan kanannya api menyala untuk mereka.” (*)

