Share This Article
Rohid Haidar dikenal sebagai dai muda yang berhasil merampungkan hafalan 30 juz Al-Quran saat usianya belum lagi genap 17 tahun.
(Onoff.id): Lahir dengan latar belakang keluarga yang sangat religius, Rohid tumbuh menjadi sosok pemuda yang hari-harinya lekat dengan syiar Islam.
Perjalanan dakwahnya bermula ketika ia duduk di bangku kelas dua SMP pada tahun 2018. Kala itu, lingkup dakwahnya masih terbatas di sekitar lingkungan pesantren.
Semangat menuntut ilmunya kemudian membawa Rohid merantau ke Jawa Tengah untuk melanjutkan pendidikan tingkat menengah di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran (PPTQ) Ulul Albab, Sukoharjo, Jawa Tengah, dari tahun 2019 hingga 2024.
Di pesantren khusus penghafal Al-Qur’an inilah ia menempa diri. Perjalanan merantaunya di tanah Jawa ini berlangsung kurang lebih enam hingga tujuh tahun sebelum akhirnya ia kembali ke kampung halamannya di Lampung.
Metode Tadabbur
Dalam menyampaikan pesan dakwah, Rohid memiliki ciri khas tersendiri. Ia tidak hanya berfokus pada penyampaian pesan, melainkan konsisten menggunakan pendekatan tadabbur, yakni mengartikan dan mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan realita kehidupan, serta kisah sehari-hari agar lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Mengenai metode ini, ia mengungkapkan bahwa fokus dakwahnya adalah tadabbur Al-Qur’an dan ia mempunyai metode khusus dalam menyampaikannya.
“Kalau tadabbur itu lebih ke bagaimana cara mengaplikasikan ayat itu dalam kehidupan kita, perenungan. Jadi disinkronkan dengan studi kasus, pengibaratan, dengan kisah, pengalaman, misal. Dan itu akan lebih mengena, terutama pada jemaah yang saya temui, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak juga anak muda,” terangnya, Senin (26 Oktober 2026)
Saat ini, kesibukan Rohid diisi dengan berbagai kegiatan dakwah dan pendidikan. Ia tengah menyelesaikan studi S1-nya di Institut Agama Islam Darul Fatah prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
Ia juga aktif mengajar di TPA Al-Hufaz Pesawaran yang dikelola oleh yayasan keluarga, serta aktif mengisi pengajian di Majelis Taklim Muhammadiyah Pesawaran.
Selain berdakwah di tengah masyarakat, ia juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan Islam di kampus dan memegang peran sebagai salah satu pengurus lembaga dakwah serta kaderisasi.
Di tengah jadwalnya yang padat, ia tetap menjaga disiplin ketat dalam merawat hafalannya dengan melakukan muraja’ah minimal satu juz setiap hari.
“Meskipun sibuk aku tetap usahain sehari minimal 1 juz kalau memang nggak sempet untuk banyak murojaah atau menjaga hafalan. Tapi yang pasti aku mau usahakan untuk selalu menyetorkan hafalanku lewat program tasmi’,” jelasnya.
Menyiasati Tantangan
Dalam menjalankan misi dakwahnya, Rohid tentu tidak lepas dari berbagai tantangan di lapangan. Tantangan terbesar yang ia rasakan adalah masih sedikitnya minat masyarakat awam untuk mengkaji makna dan tafsir Al-Qur’an secara mendalam, karena kebanyakan orang hanya merasa cukup dengan bisa membaca atau menghafalnya saja.
Selain itu, jumlah jemaah yang hadir terkadang naik turun secara drastis, di mana suatu waktu bisa mendapati puluhan hingga ratusan jemaah, namun di waktu lain hanya dihadiri oleh segelintir orang saja.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Rohid menyiasatinya dengan terus menyederhanakan bahasa penyampaian agar mudah dipahami oleh berbagai kalangan usia. Ia konsisten mengaitkan ayat-ayat suci dengan kisah nyata, contoh sederhana, serta relevansi kehidupan sehari-hari.
Dengan pendekatan yang membumi ini, masyarakat perlahan-lahan mulai terbuka dan memandang Al-Qur’an bukan sekadar buku bacaan ritual, melainkan sebagai pedoman petunjuk hidup.
Rohid juga berpesan kepada generasi muda maupun masyarakat luas agar tidak pernah ragu untuk mempelajari ilmu Al-Qur’an, khususnya tafsir.
Ia juga menitipkan harapan besar agar umat Islam senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup di tengah dinamika perubahan zaman. Dorongan semangatnya dalam berdakwah selalu berakar dari tekad kuat untuk terus bermanfaat bagi sesama.
“Saya pengen merubah bagaimana masyarakat memandang Al-Qur’an bukan cuman sebagai buku bacaan, atau cuman sebagai wirid gitu, tapi sebagai pedoman, sebagai petunjuk,” tutup Rohid sambil mengukir senyuman.(*)

