Share This Article
Rasulullah Muhammad SAW datang di tengah kebobrokan perilaku bangsa Arab. Saking buruknya kondisi sampai disebut sebagai zaman kegelapan. Dengan mengetahui rusaknya tatanan kehidupan masyarakat ketika itu, kita bakal memperoleh gambaran, betapa berat tantangan yang dihadapi Rasulullah.
(Onoff.id): Di dalam Al-Qur’an buruknya situasi bangsa Arab disebut sebagai zaman al-Jahiliyyah (kedunguan atau zaman kedunguan) (QS. al-Ahzab [33]: 33; al-Fath [48]: 26). Gambaran tersebut sebagaimana dilukiskan dalam firman Allah SWT: “Kejahatan telah muncul di daratan dan di lautan…” (QS. ar-Rum [30]: 41) yakni potret kebobrokan para penyembah berhala bangsa Arab.
Bukankah, sebelum kedatangan Rasulullah Muhammad SAW, sudah pernah turun nabi-nabi sebelumnya?
Benar, bangsa-bangsa itu memang pernah menyaksikan suatu keadaan yang lebih baik. Namun, kebudayaan maupun moral apa pun yang pernah bangkit dan memancar, benar-benar telah tenggelam akibat terlampau lama tertelan zaman.
Pada zaman sebelum Islam datang, syair telah dijadikan sebagai puncak peradaban tertinggi oleh bangsa Arab. Puisi-puisi Arab ditujukan untuk menampilkan kemampuan yang mereka anggap kelas tinggi.
Memang, ketika itu seni menulis belum dikenal oleh bangsa Arab, maka tak heran bila syair mereka tak pernah disajikan dalam bentuk tulisan.
Gubahan syair disampaikan lewat tradisi lisan, kecuali satu pengecualian dari beberapa keping yang dikenal sebagai Muallaqat yang diperintahkan untuk ditulis dan digantung di dinding Ka’bah.
Kendati demikian, keindahan puisi atau syair yang mereka banggakan tidak pernah sanggup menaikkan derajat peradaban. Seperti diuraikan Maulana Muhammad Ali di dalam bukunya bertajuk Muhammad Sang Revolusioner, sesungguhnya puisi yang diagung-agungkan itu tidak berbobot. Hampa akan visi.
Sedangkan kehalusan budi hanya bisa datang melalui kebudayaan. Keindahan bahasa semata tak akan mampu membawa perubahan apa-apa, kecuali sekadar melahirkan kesombongan belaka.
Sekelumit Kebaikan di Balik Kebiadaban
Bangsa Arab cukup dikenal memiliki sifat ramah-tamah, cinta kemerdekaan, keberanian, kejantanan, kesukuan, dan kedermawanan.
Namun, sedikit kebajikan yang semacam itu, bila diimbangi dengan kebiadaban dan kejahatan yang teramat berat, semua itu benar-benar dapat menghapuskan peradaban.
Bahkan, sudah lumrah sekali bahwa mereka suka menyamun dan merampok para musafir kelana. Rasa patriotisme kesukuan seakan mendapat pujian tersendiri, tetapi mereka juga suka sewenang-wenang dan sangat berlebihan.
Perselisihan sepele antarpribadi bisa membawa malapetaka besar berupa tawuran, bahkan menjadi perang dan pertumpahan darah yang terus berlanjut dari generasi ke generasi.
Penyembah Berhala Sejati
Bangsa Arab diketahui telah memiliki keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, meskipun sangat dangkal. Namun, praktik kehidupan mereka bertolak belakang dengan ajaran mereka sendiri.
Keimanan tersebut mereka serahkan kepada berhala. Mereka mengira bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah menguasakan segala perkara alam semesta ini kepada berbagai dewa, dewi, ataupun berhala.
Karenanya mereka berbelok ke sana, menyeru segala karunia yang mereka butuhkan. Sehingga keimanan mereka kepada Keesaan Ilahi hanya sekadar ajaran hampa, tak terdapat apa-apa di dalam praktik kehidupan mereka.

Di samping itu, mereka menganggap berhala menguasai udara, matahari, bulan, dan bintang-bintang yang dapat mengontrol nasib mereka, lalu mereka sembah. Mereka telah terperosok ke jurang kehinaan, hingga mereka menyembah onggokan batu, pepohonan, dan tumpukan pasir.
Mereka bersujud di hadapan setiap ukiran batu yang mereka lewati. Bila mereka gagal menemui potongan batu seperti itu, mereka menyembah gunungan pasir setelah mereka memeras susu unta betina. Mereka menyangka bahwa malaikat adalah anak perempuan Tuhan.
Lebih jauh, orang-orang terkemuka pun mereka sembah, dengan cara membayangkan agar nama harum yang mereka miliki bisa terukir di dalam dirinya. Tanpa peduli apakah batu itu benar-benar diukir ataupun dibentuk apa saja, bahkan batu kasar dan tak berbentuk sekalipun dilayani demi maksud tertentu.
Apabila mereka bepergian, mereka selalu membawa empat buah batu. Tiga batu sebagai perapian atau tungku, dan satu lagi untuk disembah. Terkadang batu itu tak terpisahkan sebagai tujuan penyembahan. Selesai masak, ketiga batu diambil lalu disembah.
Selain 360 berhala yang diletakkan di sekitar Ka’bah, setiap suku memiliki berhala tersendiri. Pada kenyataannya, setiap orang memiliki berhala masing-masing yang disimpan di setiap rumah.
Penyembahan berhala, ringkasnya, telah menjadi tabiat terkutuk. Dari kehinaan penyembahan berhala tersebut, Nabi Muhammad SAW mengangkat derajat seluruh bangsa Arab dalam jangka waktu yang cukup singkat, yakni 20 tahun.
Tidak hanya penyembahan berhala yang sudah begitu mengurat-akar dan bercabang dari tanah Arab yang Rasulullah cabut sampai akar-akarnya, tetapi juga gelora semangat ketauhidan pun dipancarkan di hati bangsa Arab. (*)

