Share This Article
Ketika itu Yaman berada di bawah kekuasaan Abyssinia. Salah seorang gubernurnya bernama Abrahah.
(Onoff.id): Sosok ini membangun sebuah katedral megah di Shan‘â. Dia berharap bangunan itu dapat menyaingi Mekah sebagai tempat ibadah terbesar di seluruh Arab.
Tak tanggung-tanggung, Abrahah memakai material terbaik. Dia mendatangkan pualam berkelas bekas istana Ratu Saba. Kemudian menghiasinya dengan emas dan perak. Mimbarnya pun dibuat dari gading dan kayu hitam.
Bangunan istimewa itu dia persembahkan kepada rajanya, Negur. Melalui selarik surat dia berucap, “Wahai Raja, aku telah membangun sebuah gereja untukmu. Kemegahannya tidak pernah tertandingi oleh raja mana pun sebelumnya. Dan aku tak akan pernah berhenti hingga dapat mengalihkan pusat haji orang-orang Arab ke sana.”
Memantik Perselisihan
Sepak terjang Abrahah yang bermaksud mengalahkan reputasi Ka’bah memantik kemarahan suku-suku yang tersebar di seluruh Hijâz dan Najd.
Sampai akhirnya, seseorang dari suku Kinânah, yang memiliki hubungan nasab dengan Quraisy, pergi ke Shan‘â. Hanya butuh waktu semalam ia berhasil memporak-porandakan katedral kebanggaan Abrahah.
Ketika mengetahui itu Abrahah naik pitam. Ia bahkan bersumpah membalas dendam dengan meratakan Ka’bah. Pasukan dalam jumlah besar dipersiapkan. Gajah diletakkan paling depan seakan memimpin barisan pasukan.
Beberapa suku Arab di utara Shan‘â berusaha menghalangi perjalanan mereka. Tapi tak berhasil. Bahkan pemimpin mereka, Nufayl, justru dijadikan sandera sekaligus penunjuk jalan menuju Mekah.
Ketika pasukan itu sampai di Thâ’if, orang-orang setempat justru memberi bantuan dengan menyiapkan pemandu. Walau sekitar dua mil dari Mekah, pemandu itu tewas.

Pemilik Rumah yang Menjaga
Abrahah berhenti di Mughammis dan mengirimkan pasukan berkuda ke daerah pinggiran Mekah. Mereka merampas apa saja yang ditemui di perjalanan, termasuk dua ratus unta milik ‘Abd al-Muththalib.
Abrahah lantas mengirimkan seorang utusan ke Mekah untuk menemui pemimpin mereka di sana. Ia berpesan bahwa mereka datang bukan untuk berperang, melainkan hanya ingin menghancurkan Ka’bah.
Dan jika ingin menghindari pertumpahan darah, maka pemimpin Mekah harus menemuinya di kemah pasukan Abyssinia.
Suku Quraisy menunjuk ‘Abd al-Muththalib mewakili mereka. Bersama seorang putranya, ia lantas dibawa menemui Abrahah.
Saat bertemu Abrahah, tak dinyana Abd al-Muththalib meminta agar 200 ekor untanya yang telah dirampas oleh pasukan Abrahah dikembalikan.
Abrahah tampak sangat terkejut mendengar permintaan itu. Ia sangat heran bagaimana mungkin ‘Abd al-Muthtthalib jauh lebih mementingkan unta-untanya ketimbang agamanya yang sedang terancam untuk dihancurkan.
‘Abd al-Muthtthalib menjawab, “Aku adalah pemilik unta-unta itu, sementara Ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya.”
Meski masih keheranan dengan sikap ‘Abd al-Muthtthalib, namun Abrahah akhirnya memerintahkan agar unta-unta itu dikembalikan.
‘Abd al-Muthtthalib kembali ke Quraisy dan menyarankan agar warga Mekah menyelamatkan diri ke atas bukit di dekat kota. Kemudian ia, disertai beberapa anggota keluarganya dan pemuka masyarakat yang lain pergi ke Ka’bah.
Mereka berdiri di sisi Ka’bah, memohon pertolongan Tuhan melawan Abrahah dan pasukannya. Ia sendiri memegang cincin besi di pintu Ka’bah dan memohon, “Ya Allah, hamba-hamba-Mu melindungi rumahnya, maka lindungilah Rumah-Mu ini!”
Setelah memanjatkan doa, ia bersama yang lain kembali ke atas bukit, di sebuah tempat yang memungkinkan mereka melihat apa yang terjadi di kota.
Ka’bah tak Tersentuh
Keesokan harinya, Abrahah bersiap-siap memasuki kota untuk menghancurkan Ka’bah. Gajah yang diperlengkapi senjata berada di barisan terdepan. Pemandunya, Unays, segera mengarahkannya berjalan menuju Mekah.
Namun, gajah tak pernah mau mendekati Ka’bah. Kakinya senantiasa berlutut. Berbagai cara dicoba. Gajah tetap bergeming.
Sampai akhirnya langit di ufuk barat tiba-tiba menghitam pekat. Suara-suara gemuruh terdengar. Sesaat berselang muncul gelombang kegelapan yang menyapu dari arah laut dan menutupi langit di atas mereka.
Pasukan Abrahah yang berhasil selamat menceritakan bahwa burung-burung itu terbang secepat burung layang-layang dan masing-masing membawa tiga batu kecil yang membara, satu di paruhnya, dan yang lain dijepit dengan cakar di kedua belah kakinya.
Burung-burung itu memukik ke arah barisan, sambil menjatuhkan batu-batu itu, yang kemudian meluncur keras dan cepat menembus setiap baju. Setiap batu yang mengenai pasukan, langsung mematikan.
Mereka langsung jatuh terkapar dan tubuhnya membusuk. Ada yang membusuk dengan sangat cepat, ada pula yang perlahan-lahan.
Meski ada yang selamat, namun tetap tak bisa menghindari wabah. Bahkan dalam keadaan kacau balau, banyak yang mati di tengah perjalanan, dan banyak pula, termasuk Abrahah, yang mati begitu sampai di Shan‘â.

Calon Pemimpin
Martin Lings dalam bukunya berjudul “Muhammad” (Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik) menuliskan, sejak peristiwa itu Quraisy dikenal di jazirah Arab sebagai “keluarga Tuhan”, dan mereka semakin dikagumi karena Tuhan mengabulkan doa-doa mereka untuk melindungi Ka’bah dari kehancuran.
Mereka dihormati, namun lebih dihormati lagi karena peristiwa kedua—tak diragukan berkaitan dengan peristiwa yang pertama—yang terjadi pada saat yang sama, yaitu pada tahun Gajah.
Ketika mukjizat burung itu terjadi, ‘Abd Allāh, putra ‘Abd al-Muththalib, tidak berada di Mekah. Ia sedang pergi berdagang ke Palestina dan Suriah bersama suatu kafilah.
Dalam perjalanan pulang, ia menginap di rumah keluarga neneknya di Yatsrib dan jatuh sakit di sana. Kafilah itu kembali ke Mekah tanpa ‘Abd Allāh.
Mendengar putranya sakit, ‘Abd al-Muththalib segera mengutus Hārits untuk menemani adiknya pulang, setelah keadaannya memungkinkan untuk melakukan perjalanan.
Namun, ketika Hārits sampai di tempat ‘Abd Allāh menginap, sepupu mereka yang tinggal di sana menyampaikan ungkapan belasungkawa, sehingga ia langsung mengerti bahwa adiknya telah meninggal dunia.
Ketika Hārits kembali, kota Mekah diselimuti duka yang mendalam. Namun, pelipur lara Siti Āminah adalah putra ‘Abd Allāh yang masih dalam kandungannya, dan ia semakin terhibur dengan semakin dekatnya waktu kelahiran sang bayi.
Siti Aminah menyadari ada suatu cahaya ajaib yang memancar di dalam tubuhnya. Pada suatu hari, cahaya itu bersinar terang benderang, hingga dengan cahaya itu ia dapat melihat kastil-kastil Bostra di Suriah.
Ia mendengar suara, “Engkau mengandung seorang pemimpin seluruh umat manusia. Jika ia telah lahir, katakanlah, “Aku menyerahkan perlindungan anak ini kepada Tuhan Yang Satu dari segala kejahatan orang-orang yang jahat, dan namailah ia Muhammad!”
Beberapa minggu kemudian, bayi itu pun lahir. Saat itu Siti Aminah tinggal di rumah pamannya. Maka, ia mengirimkan kabar kepada Abd al-Muthtalib dan memintanya untuk datang menjenguk cucunya yang baru lahir itu.
Abd al-Mutthalib datang dan menggendong sang cucu tersayang. Ia membawanya ke Ka’bah dan masuk bersamanya ke dalam Rumah Suci itu. Ia memanjatkan doa syukur kepada Allah atas karunia-Nya.(*)

