Share This Article
Langkah kaki jemaah kerap berhenti di selasar Masjid Raya Al-Bakrie. Di sana lantai marmer mengilap nan bersih juga sejuk menyambut mereka. Tak jarang rasa tenang segera menyergap.
(Onoff.id): Bangunan masjid yang berada di Jalan Jenderal Sudirman No. 59, Enggal, Bandar Lampung, ini memang tampak begitu megah. Tak kalah istimewanya, atmosfer yang tercipta mendatangkan ketenangan yang sulit diterangkan lewat definisi. Dan itu semua tak lepas dari kerja keras para staf masjid.
Di balik kenyamanan itu, ada cerita tentang tangan-tangan telaten yang bekerja sejak pagi, juga cerita seputar jiwa-jiwa yang menemukan ketenangan hati.
Chandra Ahmad dan Najib Wiharjanto, misalnya. Sebelum bergabung dalam tim operasional Masjid Al-Bakrie, keduanya sudah memiliki pekerjaan.
Namun, ini bukan urusan berpindah tempat kerja semata. Ada pertimbangan lain yang melatar belakangi. Salah satunya perihal perjalanan panjang mencari keseimbangan hidup.
Chandra sendiri sebelum memantapkan hati untuk menjadi staf kebersihan (marbot) dan cleaning service di Masjid Al-Bakrie sudah melakoni berbagai pekerjaan. Pernah menjadi agen asuransi, hingga sebagai kurir ekspedisi.
Di balik dinamika itu, ada rasa lelah dan dahaga akan ketenangan yang tak kunjung ia dapatkan.
“Dulu itu rasanya udah capek ngejalanin pekerjaan, hati juga suka kalud. Sampai akhirnya kepikiran untuk cari kerja yang lebih nenangin. Dan dapet pekerjaan di sini. Yang urusan dunia dan akhirat bisa saya dapet,” ungkapnya, yang kini telah memasuki masa kerja tahun kedua, Selasa (15 September 2026).
Buat Chandra, perbedaan antara dunia kerja di luar dan di masjid sangatlah nyata. Kesibukan masa lalu kerap menyita waktunya hingga ibadah sering terabaikan.
“Kerja di luar itu kadang kalau lagi meeting terus azan, kita mau nggak mau ngikutin meeting. Di sini beda, ketika suara azan berkumandang kita langsung salat. Salat terjaga, pekerjaan juga ada, jadi hati adem,” katanya.

Berada di lingkungan yang jauh dari suasana toksik juga dirasakan ikut membentuk kepribadiannya.
Kebiasaan menjaga salat tepat waktu di masjid, sambung Chandra, melatihnya menjadi pribadi yang lebih disiplin.
“Salat itu melatih kedisiplinan, jadi kalau janji sama orang enggak ngaret lagi. Kita jadi punya benteng penahan diri untuk tidak berbuat yang menyimpang,” tambahnya.
Ruang Kontemplasi
Lain lagi dengan Najib Wiharjanto. Pemuda lulusan S1 Teknik Informatika yang sebelumnya bekerja sebagai IT support itu, kini bekerja sebagai staf sarana dan prasarana di Al-Bakrie.
Diakuinya, bekerja di masjid memberikannya ruang untuk memperbaiki kualitas ibadah, termasuk belajar Al-Qur’an dari tingkat dasar melalui program bina tahsin yang diwajibkan bagi staf.
“Pekerjaan ditunda dulu semuanya, ngejar kelas tahsin dulu. Dari yang benar-benar enggak bisa, nyampe bisa,” kata Najib sambil melepas senyum.
Di tengah tumpukan tugas pengadaan barang dan kebutuhan operasional, Najib merasakan ibadah adalah penawar lelah terbaik di kala stamina mulai menurun.
“Pas lagi capek, lemas, paksain aja salat. Setelah salat rasanya kayak di-cas lagi, semangat lagi,” tuturnya.
Ibadah di Balik Lelah
Ketenangan dan perubahan positif yang dirasakan Candra dan Najib, kiranya juga dirasakan oleh 56 staf lain yang terbagi dalam tim cleaning service, gardener, security, engineering, dan parkir. Rasa tanggung jawab dan ketenangan batin itu lantas dituangkan ke dalam bentuk pelayanan terbaik untuk jemaah.
Sejak pukul tujuh pagi, mereka memastikan setiap sudut ruang salat menjadi harum dan mengilap. Tanaman hijau terawat asri, serta keamanan terjamin 24 jam. Rasa lelah seketika terbayar tuntas saat melihat jemaah yang datang dari jauh bisa beristirahat dan bersujud dengan khusyuk.
“Ada kepuasan tersendiri saat melihat jemaah yang tadinya lelah sehabis perjalanan jauh, terus bisa tersenyum dan nyaman beribadah di sini. Itu memberi energi positif dan semangat baru buat kita,” tutur Chandra.
Momen paling berkesan bagi Najib dan Chandra terjadi saat bulan suci Ramadan tiba. Ketika 1.000 hingga 2.000 jemaah memadati selasar masjid untuk melangsungkan iktikaf di sepuluh malam terakhir, rasa lelah mereka terasa mendadak sirna.
Diakui keduanya, saat melihat antusiasme jemaah yang begitu tinggi untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, memberi semangat dan rasa syukur yang tak ternilai harganya.
Bagi mereka berdua, bekerja di Masjid Al-Bakrie merupakan bentuk pengabdian tulus untuk menghadirkan oase kedamaian bagi masyarakat luas.
“Harapan saya masjid ini bisa jadi asbab hidayah dan memberi dampak positif bagi masyarakat luas. Membuat orang yang tadinya jarang ibadah jadi tergerak untuk datang dan salat,” harap Chandra seraya mengulas senyum.(*)

