Share This Article
Masa kegelapan pra Rasulullah Muhammad SAW tak hanya terlihat dari perilaku penyembahan berhala, dan diskriminasi ekstrim terhadap kaum hawa belaka. Tapi juga tercermin dari kegandrungan kepada takhayul dan klenik.
(Onoff.id): Pada tanah Arab ketika itu perilaku orang-orang masih banyak yang menyembah bintang-bintang di langit.
Nasib manusia dihubung-hubungkan dengan pergerakan berbagai bintang. Mereka juga beranggapan fenomena alam ikut memengaruhi keberuntungan manusia. Nasib baik maupun buruk dikaitkan dengan pengaruh alam.
Maulana Muhammad Ali dalam bukunya bertajuk “Muhammad Sang Revolusioner” menceritakan perilaku seorang penyair tersohor. Imra`al Qais namanya. Karena satu hal ayahnya terbunuh.
Menyikapi hal tersebut Imra merasa harus berkonsultasi. Ia perlu meminta “nasihat” untuk memutuskan, apakah harus melakukan balas dendam atas kematian ayahnya atau tidak. Sikap demikian memang sesuai praktik adat istiadat bangsa Arab.
Imra menjalani proses yang berlanjut dengan menandai dua anak panah. Satu anak panah ditandai dengan kata na’am (ya), dan satu lagi dengan kata la (tidak).
Anak panah yang kosong pun disertakan pula. Kalau nanti ternyata seri, maka pemanah dianjurkan untuk mengulang sekali lagi.
Imra`al-Qais lalu melesatkan ketiga panah tersebut sebanyak tiga kali. Sialnya tak ada satu pun dari ketiga anak panah yang tepat sasaran. Semua bidikannya meleset.
Dengan sangat geram ia lantas mencampakkan busur panah ke muka berhala sambil bersungut, “Bedebah! Jika yang terbunuh itu bapakmu sendiri, apakah kau tidak akan melarangku membalas dendam?”
Perilaku seperti itu sangat jelas menggambarkan betapa kehampaan agama melahirkan tindak-tanduk jahiliah, kebodohan.

Tatanan Sosial Morat-marit
Kehidupan sosial pun tak menunjukkan sesuatu yang lebih baik. Dendam kesumat antarsuku begitu menyita seluruh perhatian mereka. Mode hidup yang tenang, tenteram, dan damai sudah tak dikenal lagi. Mereka tak bisa memelihara kualitas kehidupan sosial.
Gejala permusuhan dengan klan atau suku lain bisa meledak sewaktu-waktu. Mereka sudah dituntun dengan gaya hidup nomadik, mengembara bersama binatang ternak dari satu tempat ke tempat lain.
Mereka akan bergegas menggelar kemah kulit unta, manakala menemukan sumber mata air untuk minum dan memberi makan ternak. Hanya sebagian kecil penduduk saja yang tinggal di kampung halaman dan beberapa kota.
Tak heran bila tidak ditemukan pusat pemerintahan yang dapat menegakkan hukum dan aturan negara. Negeri-negeri tersebut dalam keadaan terkoyak-koyak ke sejumlah negeri yang sangat kecil.
Setiap klan atau suku membentuk aturan politik masing-masing yang berlainan dan berdiri sendiri. Setiap suku mempunyai pemimpin sendiri yang merangkap sebagai pemimpin di medan perang.
Al-Quran mengikhtisarkan secara ringkas kerusakan yang telah melanda setiap fase kehidupan itu dalam satu kalimat, “Kamu ada di tepi jurang neraka…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103).
Sekali saja permusuhan itu bisa meledak, Kendati hanya dipicu perkara sepele, akibatnya bisa berlanjut secara turun-temurun ke generasi berikutnya.
Saling lempar kata-kata ejekan, atau melakukan sedikit tindakan pada saat pacuan kuda, misalnya, sudah cukup menjadi bara yang siap berkobar menjadi petaka. Bahkan pembantaian ribuan orang.
Takhayul Merajalela
Minum minuman keras adalah keburukan lain yang sangat digemari seluruh bangsa Arab. Petaka berikutnya adalah judi. Tabiat ini merupakan kegemaran masyarakat sehari-hari. Bagi siapa yang tak suka dianggap kikir dan pelit.
Kebodohan demi kebodohan yang berlangsung masif dan terus-menerus itu semakin menyuburkan khayalan dan angan-angan kosong belaka. Bahkan menyumbangkan segala bentuk kepercayaan takhayul dan klenik yang aneh-aneh. Mereka begitu percaya dengan hantu-hantu dan makhluk halus yang jahat.

Lebih dari itu, demi makhluk-makhluk tersebut, mereka suka menyepi dengan berkomat-kamit membaca mantra. Sering kali mereka menyebut-nyebut suatu jenis penyakit tertentu, dan demi menghindarinya mereka selalu menggunakan jampi-jampi dan mantra.
Pada musim kemarau, orang-orang itu mengikatkan jerami alang-alang kering dan ranting semak belukar pada ekor sapi, lalu dibakar, dan digiring ke pegunungan.
Mereka mengira bahwa nyala api menyerupai kilat halilintar dan, dengan dalih yang sama, hal tersebut diyakini akan mendatangkan hujan.
Masih banyak lagi takhayul yang dihayati. Bila mereka menganggap akan ada musibah menimpa, mereka harus masuk ke rumah dari pintu belakang.
Orang-orang itu juga percaya, dengan hanya memaknai arah terbangnya burung, sudah cukup untuk mencari tahu, apakah memperoleh nasib baik atau buruk.
Bila seekor burung terbang melintas dari arah kiri ke kanan, ini suatu pertanda akan nasib baik. Sebaliknya, jika burung itu melintas dari kanan ke kiri, maka pertanda akan nasib buruk.
Sedangkan bagi yang percaya adanya kehidupan setelah kematian, mereka akan menambatkan seekor unta di kuburan, dan dibiarkan hingga menemui ajal.
Dalam sangkaan mereka, orang yang telah mati itu kelak di hari pembalasan akan menunggang binatang tersebut untuk dibawa entah ke mana.
Ribuan kepercayaan takhayul dan klenik yang tak karuan itu menjadi kepercayaan bangsa Arab sebelum datangnya Islam.
Oleh sebab itu, segera setelah itu Al-Quran mengumandangkan larangannya, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90). (*)

