Share This Article
“Gubernurku Pahlawanku” menjadi nuansa pada perlombaan Menulis Surat kepada Gubernur Lampung yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung. Bagaimana trik menulis surat yang memikat tapi tidak menjilat, yang melibatkan rasa tapi sesuai realita?
(Onoff.id): Dalam perlombaan menulis surat kepada tokoh atau kepala daerah, surat yang paling enak dibaca adalah surat yang memiliki keseimbangan antara ketulusan emosi (sentuhan personal) dan solusi yang realistis.
Juri penilai biasanya bosan membaca surat yang hanya berisi pujian kosong atau sebaliknya, hanya berisi daftar keluhan tanpa arah. Lantas mesti menulis surat seperti apa?
Hendri Std, salah satu juri dalam perlombaan yang dihelat Disdikbud Lampung ini, mencoba berbagi sedikit tips tentang penulisan surat yang memikat.
“Karena berpikir ini surat untuk Gubernur, tak jarang peserta lomba akan membuat surat yang dicocokkan dengan jabatan si tokoh. Padahal pejabat juga manusia dan surat cenderung bersifat personal,” katanya, Minggu (18 Oktober 2026).
Jadi, sambung Hendri Std, kalau dikaitkan dengan perlombaan, surat yang dibuat tak ubahnya sarana komunikasi antara individu dengan individu. Sebagai sesama personal tentu mesti ada sentuhan insani.
Pada dunia jurnalistik dikenal istilah penulisan human interest atau minat insani. Sebuah konsep yang berfokus pada sisi emosional dari kehidupan manusia.
“Pada porsi yang pas, konsep tersebut bisa saja diselipkan dalam penulisan surat yang akan diperlombakan. Sangat mungkin walau sedikit tapi sentuhan kecil itu justru menggugah,” urainya.
Karakteristik Surat
Secara teoritis ada beberapa kriteria dan struktur surat yang memikat, berbobot, dan enak dibaca bagi para juri dalam sebuah perlombaan.
Kendati bukan standar baku, namun ada kecenderungan karakteristik surat tertentu yang disukai juri. Apa itu?
Karakteristik surat yang menarik biasanya terasa dari tulisan yang memiliki “jiwa” (authentic).
Kalau mau diumpamakan, naskah surat harus terdengar seperti suara asli penulisnya, bukan hasil contekan atau bahasa AI yang terlalu kaku.
Saat menulis biarkan apa yang selama ini dilihat, dirasakan atau dialami di sekitar penulis, yang tentunya disesuaikan dengan tematik yang dipilih, mengalir mulus di naskah surat.
Hanya saja kendati mengalir, bukan berarti meluncur tanpa kendali. Penulis tetap harus mengedepankan etika. Tetap menghormati jabatan tokoh. Namun tidak perlu rikuh untuk menyampaikan aspirasi atau kritik yang membangun. Sampaikan secara santun. Sehingga tulisan surat akan terasa sopan tapi berani.
Saat menulis harus fokus dan spesifik. Jangan membahas terlalu banyak masalah. Pilih satu isu utama (tematik). Misalnya seperti masalah pengelolaan sampah, fasilitas disabilitas di sekitar atau akses internet untuk belajar yang masih kerap putus-nyambung.
Penulis yang berwawasan tentu dapat memberi alternatif solusi. Sehingga isi surat tidak melulu dibanjiri keluhan. Sederhananya, setelah menyampaikan masalah, berikan ide atau sudut pandang penulis tentang bagaimana cara menyelesaikannya dari kacamata seorang pelajar.

Struktur Mengalir
Terkadang penulis memiliki banyak gagasan atau persoalan yang ingin disampaikan dalam sebuah surat. Namun, acapkali juga hal-hal bagus di dalam benak itu, mendadak berantakan saat dituangkan dalam bentuk tulisan.
Agar hal baik di pikiran tetap terasa mengalir saat dituliskan, kiranya penulis bisa menentukan struktur penulisan terlebih dahulu sebagai acuan. Pola itu bisa dimaknai tak ubahnya Google map yang memandu perjalanan.
Agar alur tulisan menjadi enak diikuti, buka tulisan dengan hal memikat. Atau biasa dikenal dengan istilah the hook.
Kalau boleh bersaran, tulisan tidak harus selalu dimulai dengan hal klise. Seperti menggunakan sapaan pada umumnya, “Halo Bapak/Ibu, apa kabar? Semoga sehat selalu.”
Hal demikian bukan tidak boleh, tentu boleh-boleh saja. Tapi coba bandingkan bila sebuah surat dibuka dengan narasi pendek serupa ini, “Setiap pagi dalam perjalanan ke sekolah, saya selalu berpapasan dengan anak-anak yang naik sepeda dan harus waspada menghindari jalan berlubang…”
Itu baru urusan prolog membuka tulisan surat. Step berikutnya mari memasuki tahapan menulis isi surat.
Isi surat dapat berupa perpaduan antara jembatan empati dan fakta. Hubungkan tematik yang penulis pilih dengan kebijakan atau peran tokoh, dalam hal ini Gubernur.
Gunakan bahasa yang deskriptif agar juri bisa ikut membayangkan situasi yang disampaikan. Kemudian, penulis surat juga dapat menawarkan solusi atau menyampaikan sebentuk harapan yang diutarakan secara kreatif.
Di sinilah nilai plus penulis akan terlihat. Umpamanya penulis memberikan saran yang segar dan bisa diterapkan oleh kepala daerah. Seperti berikut, “Sebagai pelajar, saya rasa kita bisa membuat program ‘Sabtu Membaca’ di taman kota dengan memanfaatkan buku-buku bekas yang dikumpulkan…”
Langkah terakhir setelah berhasil melewati bagian pembuka dan isi adalah menutup surat dengan hal yang berkesan kuat.
Penulis dapat saja menutup suratnya dengan kalimat yang menegaskan rasa optimisme dan harapan kepada Gubernur. Contoh: “Saya percaya, di tangan pemimpin yang mendengarkan, surat kecil dari sudut kampung ini tidak akan berakhir di keranjang sampah, melainkan menjadi awal dari sebuah perubahan.”
Teknik Penulisan
Kalau seluruh tahapan penulisan surat sudah dijalani, Hendri Std memberikan catatan tambahan. Menurutnya, peserta lomba jangan terburu-buru mengirimkan naskah ke panitia, apalagi bila masih tersedia waktu cukup sebelum pendaftaran ditutup.
“Mesti diingat peserta hanya berkesempatan mengirim satu naskah lomba. Kalau naskah surat sudah terlanjur dikirim ke juri, tak ada lagi kesempatan memperbaikinya,” pesannya.
Untuk itu, sambungnya, koreksi kembali atau bila masih tersedia waktu rombak ulang naskah dengan formulasi yang lebih ‘mengena’.
Saat menulis perhatikan berbagai hal teknis penulisan. Seperti menerapkan penulisan paragraf pendek. Satu paragraf berisi maksimal 4 atau 5 kalimat. Ini akan berpengaruh, salah satunya, terhadap tampilan sehingga pembaca tidak lelah saat melihat naskah.
Hendri Std juga mengingatkan peserta lomba untuk lincah dalam pilah-pilih kata atau diksi. Penulisan yang lincah dapat dipraktikkan dengan mencampurkan kosakata yang baku dan formal dengan gaya bercerita yang mengalir (semi-formal). Hindari istilah-istilah birokrasi yang terlalu rumit, apalagi kalau penulis tidak memahaminya.
“Kembali saya ingatkan jangan terburu-buru. Terapkan teknik pengendapan. Biarkan tulisan beberapa waktu. Lalu baca ulang sebagai langkah koreksi,” kata Hendri Std.
Dalam mengoreksi ulang, imbuhnya, pastikan bebas dari salah ketik (typo) dan tanda baca yang keliru. Surat yang rapi mencerminkan keseriusan penulisnya.(*)

