Share This Article
Inovasi digital mendobrak cara baru untuk menggenjot literasi keuangan syariah di kalangan generasi muda. Sekelompok mahasiswa meracik platform Alif atau AI Gamified Learning for Islamic Finance sebagai media belajar ekonomi syariah yang interaktif dan menyenangkan.
(Onoff.id): Karya ini lahir dari kolaborasi mahasiswa Ekonomi Syariah IPB University dan Computer Science BINUS University. Tim Alif sukses menyabet peringkat keenam dari sekitar dua ribu peserta dalam ajang Hackathon X Digdaya.
Team Lead dan Project Manager, Rifki Hilman Fauzi, mengutarakan gagasan mereka muncul dipantik oleh realita adanya jurang pemisah antara literasi dan inklusi keuangan syariah di tanah air. Masyarakat seringkali paham produk syariah tetapi jarang memakainya dalam aktivitas harian.
“Kami melihat adanya keresahan antara kesenjangan literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia,” ujar Rifki, seperti dilansir MUI digital, Minggu (18 Oktober 2026).
Melalui Alif, tim pengembang meramu metode belajar yang klop dengan karakter anak muda. Konsep gamifikasi dipilih agar pengguna mampu meresapi prinsip keuangan syariah lewat simulasi permainan yang seru tanpa rasa takut salah.
“Dengan konsep permainan, pemain tidak akan merasa takut untuk melakukan kesalahan. Ketika salah, kesalahannya terjadi di dalam permainan, bukan dalam kehidupan nyata,” jelas Rifki.
Alif turut dibekali fitur Tanya Alif untuk menjawab rasa penasaran pengguna seputar hukum serta prinsip ekonomi syariah. Fitur ini merujuk langsung pada fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, aturan Otoritas Jasa Keuangan, serta Alquran dan hadis.
Belajar Mengaji dari AI
Inovasi berlanjut lewat perkenalan GG Universe dari Lead Game Developer dan Visual Artist, Andrian Raihannudin. Platform ini menghadirkan pendamping berbasis kecerdasan buatan yang bisa disesuaikan untuk sektor ekonomi syariah hingga belajar mengaji.
“Di GG Universe ini, kita bisa memasukkan AI ke dalam jurusan spesifik-spesifik, seperti ekonomi syariah. Ada juga AI untuk mengaji dan untuk belajar tentang suatu event,” papar Andrian.
Kehadiran ragam inovasi digital ini membuktikan bahwa teknologi ampuh memperluas akses belajar, sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan produk keuangan syariah.
Menurut Andrian, potensi besar ekonomi syariah menuntut aksi nyata agar tidak sekadar berhenti menjadi wacana.
“Ekonomi syariah memiliki potensi yang sangat besar, baik dari sisi masyarakat maupun peluang pengembangannya. Sebagus apa pun sebuah gagasan, kalau tidak direalisasikan, itu hanya menjadi wacana,” pungkasnya.(*)

