Share This Article
Jauh sebelum Nabi Muhammad dilahirkan dan Mekah masih dipenuhi perilaku jahiliyah, sampai-sampai sumber air Zamzam pun ditimbun, tersebutlah ‘Abd al-Muththalib yang tiada lain kelak menjadi kakek Rasulullah.
(Onoff.id): Pada sebelah barat laut Ka’bah terdapat suatu daerah sempit yang dikelilingi tembok pendek berbentuk setengah lingkaran. Kedua ujung tembok itu berhenti di sudut sebelah utara dan barat Rumah Suci, menyisakan lorong sempit untuk lalu lintas para jamaah haji.
Kebanyakan jamaah haji memperlebar lingkaran mereka hingga melintasi jalur di luar tembok pendek tersebut. Ruang yang dibatasi tembok itu disebut Hijr Ismā’īl, karena bekas ibu jari kaki Ismā’īl dan Siti Hajar berada di dekat batu yang melapisi ruang itu.
‘Abd al-Muththalib sangat suka berada di dekat Ka’bah. Seringkali ia menghampar tikar untuk berbaring di dalam Hijr tersebut.
Pada suatu malam, ketika sedang tidur di situ, ada sosok bayangan menghampirinya dan berkata, “Galilah sumber air yang manis.” “Apa itu?” ia bertanya, tapi sosok itu segera lenyap.
Ia penasaran dan hatinya tidak tenang saat terbangun. Maka, pada malam berikutnya, ia tidur kembali di sana. Dan, sosok bayangan itu kembali datang dan berkata: “Galilah keberuntungan.”
Sayangnya, pertanyaannya kembali tidak mendapatkan jawaban. Pada malam ketiga, ia diperintah: “Galilah timbunan harta karun.” Seperti biasa, bayangan itu segera menghilang.
Datangnya Petunjuk
Baru pada malam yang keempat, perintah itu berubah menjadi, “Galilah Zamzam.” Kali ini, ketika ia bertanya, “Apakah Zamzam itu?” sosok itu menjawab.
“Galilah ia, maka engkau tak akan pernah menyesal. Karena ia adalah pusaka yang amat kaya dari nenek moyangmu yang paling luhur.
Ia tak akan pernah kering, tidak juga berkurang dalam memenuhi kebutuhan semua jamaah haji”.
Kemudian, sosok itu memerintahkan untuk mencari suatu tempat yang lembap penuh darah, penuh kotoran, tempat semut-semut bersarang, dan burung gagak mematuk-matuknya.
Akhirnya, ia disuruh berdoa, “Demi air jernih yang melimpah dan akan memberi minum seluruh tamu Tuhan melalui hajinya.”
Ketika fajar menyingsing, ‘Abd al-Muthtalib bangun dan meninggalkan Hijr di sebelah utara Rumah Suci yang disebut sudut Iraqi. Kemudian, ia berjalan sepanjang dinding sebelah timur laut yang berujung di pintu Ka’bah.
Beberapa langkah di depannya, ia berhenti dan dengan takzim mencium Hajar Aswad. Dari situ ia mulai tawaf, kembali berjalan menuju sudut Iraqi, melintasi Hijr menuju sudut sebelah barat yaitu sudut Suriah dan kemudian menuju sudut Yaman yang mengarah ke selatan.
Para keturunan Ibrahim, dari garis Isma’il dan Ishaq, bergerak mengelilingi Ka’bah melawan arah sinar matahari. Ketika berjalan dari sudut Yamani menuju Hajar Aswad, ‘Abd al-Muthtalib dapat melihat lembah gelap Abū Qubays dan di seberangnya perbukitan timur, yang tampak dipancari cahaya kemuning.
Tujuh kali ia berkeliling, dan setiap kali pula cahayanya bertambah terang, karena fajar telah menyingsing di Arab dan malam pun berakhir.
Setelah tawaf, ia meninggalkan Hajar Aswad menuju pintu Ka’bah sambil menggenggam cincin logam yang tergantung di kunci, lalu memanjatkan doa yang telah diajarkan.
Tiba-tiba terdengar suara kepakan sayap dan seekor burung hinggap di atas pasir di belakangnya. Kemudian burung lain pun hinggap.
Setelah berdoa, ia menoleh dan melihat burung-burung itu bergerak menuju dua bongkah batu besar berbentuk patung, yang terletak kira-kira seratus yard di depan pintu.
Dua batu itu dianggap berhala. Dan di antara kedua batu itulah kaum Quraisy biasanya menyembelih kurban. ‘Abd al-Muththalib benar-benar tahu, seperti juga kedua burung gagak tersebut, bahwa tempat berpasir itu selalu basah oleh darah. Di situ juga ada kotoran, dan di atasnya kini terlihat sebuah sarang semut.

Rezeki Melimpah
‘Abd al-Muththalib pulang ke rumahnya dan mengambil dua pangkur, satu dibawa anaknya, Hârits, yang diajak ke tempat di mana ia harus segera menggali.
Suara gedebuk alat di atas pasir dan pemandangan yang aneh di tempat terbuka yang dapat dilihat dari segala penjuru itu segera mengundang perhatian orang, sehingga mereka berduyun-duyun mengerumuni ‘Abd al-Muththalib.
Kendatipun mereka semua menaruh hormat terhadap ‘Abd al-Muththalib, tak lama kemudian, ia diprotes karena telah melakukan pelanggaran dengan menggali tanah yang disucikan di antara kedua berhala mereka, dan penggalian itu harus segera dihentikan.
‘Abd al-Muththalib bersikeras tidak akan berhenti dan menyuruh Hârits agar tetap mendampinginya dan memperhatikan agar tak seorang pun menghalangi penggalian tersebut.
Maka, suasana menjadi tegang, dan akibatnya bisa jadi akan sangat tidak menyenangkan. Tetapi, dua keturunan Hâsyim itu telah bertekad dan sepakat untuk terus menggali, sementara para penonton menyaksikan dengan penuh keheranan.
Berhala-berhala itu, Isaf dan Na’ilah, berkedudukan tinggi di Mekah. Bahkan, menurut beberapa orang, keduanya adalah bapak-ibu kaum Jurhum yang berubah menjadi batu dan mengotori Ka’bah.
Abd al-Muththalib terus menggali tanpa henti. Dan ketika sebagian orang bergegas hendak meninggalkan Rumah Suci itu, tiba-tiba ia memukul sebuah dinding peti batu dan seketika ia berteriak memanjatkan syukur kepada Tuhan.
Massa pun kembali memeludak. Dan, ketika ia mulai mengangkat harta karun peninggalan Jurhum yang dipendam di situ, setiap orang mengaku berhak untuk mendapatkan bagian.
Abd al-Muththalib setuju bahwa undian mesti dilakukan untuk beberapa alternatif yakni disimpan di Rumah Suci, dimiliki Muththalib sendiri, atau dibagi di kalangan suku.
Itulah cara yang dikenal saat itu untuk memutuskan sesuatu yang mengandung keragu-raguan, dan itu dilakukan dengan melepaskan anak panah di dalam Ka’bah, di depan berhala Moabit, Hubal.
Dalam hal ini, hasilnya adalah sebagian harta karun disimpan di Ka’bah, sebagian diberikan ke ‘Abd al-Muththalib, sementara tidak sedikit pun yang diberikan kepada kaum Quraisy.
Sejak itu juga disepakati bahwa Bani Hâsyim yang bertanggung jawab terhadap Zamzam sendiri, untuk dipergunakan sebagai penyedia kebutuhan air jemaah haji.(*)

