Share This Article
Nur Fatehatul bersama dua rekannya, Yeni Amelia dan Lulu Alinka, berhasil meraih Juara 1 dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kota Bandar Lampung pada cabang Syarhil Qur’an. Resep kemenangannya sederhana. Hanya berbekal niat menjalankan syiar Al-Quran.
(Onoff.id): Gadis yang akrab disapa Nur ini, membagikan kisah perjalanan panjangnya hingga berhasil membawa pulang piala kemenangan tersebut.
Nur, siswi yang saat ini duduk di kelas 11 SMA Negeri 12 Bandar Lampung, menceritakan bahwa kecintaannya pada seni Syarhil Qur’an sudah tumbuh jauh sebelum ia memasuki jenjang SMA. Ketertarikannya pada bidang ini bermula sejak ia berada di kelas 5 SD, saat mengaji di TPA Al Karim Rasyid Indonesia yang berlokasi di Sukarame.
Syarhil Quran merupakan salah satu cabang lomba dalam MTQ yang menyajikan isi kandungan Al-Qur’an secara beregu (3 orang). Cabang ini memadukan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, puitisasi atau terjemahan, serta uraian/pidato dakwah yang serasi dan komunikatif.
“Awalnya saya kira di sana saya cuma bakal belajar ngaji dan ngafal Qur’an kayak biasanya. Ternyata di sana juga saya bisa belajar Syarhil dan da’i karena ada kelas khususnya,” ungkap Nur saat menceritakan awal mula perkenalannya dengan dunia syarhil, Jumat (16 Oktober 2026).
Nur mengaku alasannya mendalami Syarhil Qur’an karena ia mulai menyadari bakatnya sejak kelas 7 SMP. Dari situ, ia mulai rutin berlatih. Untuk mendukung kemampuannya, ia menjalani latihan secara lebih intensif di bawah naungan Saung Syiar Al-Qur’an yang berlokasi di Tanjung Senang.
Di bawah bimbingan pendidik di sana, Nur menjalani latihan rutin setiap minggu. Kedisiplinan tersebut mulai membuahkan hasil ketika ia duduk di kelas 3 SMP pada tahun 2024.
Pada ajang perlombaan syarhil pertamanya di Bandar Lampung, ia berhasil meraih Juara 2 tingkat kota. Kemudian, Nur beserta regunya berkesempatan mewakili kota dan melesat menjadi Juara 1 di tingkat provinsi.
“Latihan rutin setiap minggu itu memang melelahkan, tapi semua terbayar saat kita bisa berdiri di panggung dan menyampaikan isi kandungan Al-Qur’an dengan baik,” tutur Nur mengenang proses latihannya.

Menjaga Konsistensi
Sebelum menorehkan prestasi gemilang di cabang syarhil, bakat komunikasi dan syiar Nur sudah terlihat sejak ia duduk di bangku kelas 6 SD. Ia pernah meraih Juara 2 Lomba Da’i di SMA Al-Azhar dalam acara Azga Islamic Competition (AIC) saat kelas 6 SD.
Nur kemudian melanjutkan dominasinya saat duduk di kelas 3 SMP dengan mendapat Juara 1 Lomba Da’i Pramuka di Metro dan Juara 1 Lomba Da’i di SMA Islam Terpadu (IT) Permata Bunda.
Tidak hanya itu, ia juga sukses meraih Juara 2 Lomba Da’i di SMA YADIKA Bandar Lampung dalam ajang Islamic Games, serta mendapat Juara 3 Lomba Storytelling Bahasa Indonesia pada acara Spirit of JeJama yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Provinsi Lampung saat kelas 3 SMP.
Dalam menghadapi MTQ tingkat Kota Bandar Lampung beberapa waktu lalu, persiapan intensif pun dilakukan bersama kedua rekannya. Mereka menjalani latihan rutin di Saung Syiar Al-Qur’an selama satu bulan penuh.
Selama proses tersebut, mereka harus memahami karakter masing-masing serta membangun kekompakan tim di antara latar belakang mereka yang berbeda. Hal ini dilakukan agar bisa tampil selaras dan maksimal di hadapan dewan juri.
Pengalaman dan persiapan matang yang ditempa Nur bersama timnya akhirnya berbuah manis. Kolaborasi Nur bersama Yeni Amelia dan Lulu Alinka berhasil menghantarkan tim regu ini meraih gelar Juara 1 MTQ Cabang Syarhil Qur’an tingkat Kota Bandar Lampung.
Bagi Nur, pencapaian ini bukan sekadar piala perlombaan, melainkan wujud konsistensi dan kecintaannya terhadap syiar Islam yang telah ia tekuni sejak kecil. Ia berharap prestasi ini dapat terus berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi serta menjadi motivasi bagi teman-teman sebaya untuk terus berprestasi dan membumikan Al-Qur’an.
Di balik keberhasilannya, Nur senantiasa meluruskan niat sebelum tampil. Ia selalu mengingat nasihat dari gurunya untuk memposisikan perlombaan sebagai sarana syiar.
“Saya selalu ingat nasihat guru saya. Beliau selalu berpesan, waktu lomba jangan niatkan untuk menang atau mendapat piala, tapi niatkan untuk mensyiarkan Al-Qur’an,” jelasnya.
Resep lain yang dilakoninya ialah tak pernah berhenti berzikir, beristighfar, serta memohon kemudahan melalui ibadah malam. “Selain usaha lewat dunia, saya juga meminta kemudahan lewat doa dan tahajud setiap malam, biar pas lomba hati tenang,” tambahnya.
Setelah memenangkan kompetisi di tingkat kota, Nur beserta kedua rekannya kini tengah mempersiapkan diri untuk bertanding pada MTQ tingkat provinsi.
Mereka saat ini sedang menjalani latihan rutin setiap minggu dengan menghafal empat naskah syarhil serta melatih vokal, pernapasan, gestur, dan mimik wajah agar dapat tampil maksimal.(*)

