Share This Article
Kebijakan kontroversial melanda sektor pendidikan Azerbaijan setelah pemerintah setempat memberlakukan aturan pelarangan hijab bagi siswi dan tenaga pendidik.
(Onoff.id): Kebijakan ini memicu gelombang protes menyusul tindakan diskriminatif yang mendera ruang-ruang kelas di negara tersebut.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, melayangkan kecaman terbuka kepada Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev. Penerapan aturan sekularisme ekstrem tersebut memaksa siswi berjilbab ke luar gerbang sekolah.
Guru perempuan bahkan dipaksa mundur dari profesinya semata mata karena mengenakan busana muslimah.
“Untuk itu kami mendesak Presiden Azerbaijan agar mencabut kebijakan tersebut dan menghormati serta mengembalikan hak-hak dari siswi dan guru untuk memakai hijab tanpa harus kehilangan hak mereka untuk belajar dan mengajar,” ujar Anwar, seperti dilansir Rol, Sabtu (17 Oktober 2026).
Langkah pembatasan ini dinilai menabrak prinsip dasar hak asasi manusia terkait kebebasan memeluk keyakinan. Hak perempuan untuk mengenyam ilmu pengetahuan dan menunaikan tugas mengajar tidak boleh direnggut atas nama aturan institusional yang sempit.
Hak Universal
Anwar menegaskan kritik pedas ini bukan upaya mencampuri kedaulatan politik negara lain. Solidaritas tersebut murni lahir dari panggilan moral kemanusiaan universal untuk melindungi hak belajar anak didik dan pengajar.
“Kami tidak bermaksud untuk mencampuri urusan dalam negeri Azerbaijan, tapi kami hanya menjalankan kewajiban kemanusiaan universal,” tegas dia.
Situasi pelik ini turut membayangi masa depan pelajar asal Indonesia yang tengah menimba ilmu di kawasan tersebut.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menyarankan agar umat Islam mencari wilayah lain yang ramah terhadap kebebasan beribadah jika tekanan terus berlangsung.
“Bagi orang yang beriman bila dia tidak bisa lagi melaksanakan ajaran agamanya dengan baik maka bumi Tuhan luas, pergi saja ke negara lain atau kembali ke tanah air untuk melanjutkan studinya,” kata Anwar.(*)

