Share This Article
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk memperkuat ikhtiar spiritual dan solidaritas sosial.
(Onoff.id): Seruan tersebut dituangkan dalam Taujihat Nomor: B-191/DP-MUI.IX/IX/2026 tentang “Ikhtiar Spiritual, Solidaritas Lingkungan dan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Kebakaran Hutan serta Erupsi Gunung Anak Krakatau di Provinsi Lampung”.
Taujihat tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum MUI Provinsi Lampung Prof Mukri dan Sekretaris Umum Mansur Hidayat di Bandar Lampung pada 8 September 2026.
Ketua MUI Provinsi Lampung Mukri mengatakan, terbitnya Taujihat tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi yang dihadapi masyarakat Lampung, khususnya kekeringan dan ancaman kebakaran hutan dan lahan, serta meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau yang menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, situasi tersebut tidak cukup hanya dihadapi dengan pendekatan teknis dan penanganan kedaruratan, tetapi juga perlu diiringi penguatan spiritual dan solidaritas sosial masyarakat.
“Taujihat ini merupakan bentuk tanggung jawab moral dan keagamaan MUI untuk mengajak umat menghadapi musibah secara seimbang, dengan ikhtiar lahir dan batin. Kita berdoa dan beribadah, tetapi pada saat yang sama tetap melakukan langkah-langkah nyata untuk menjaga keselamatan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat,” ujar Mukri.
Perbanyak Doa dan Istighfar
Dalam Taujihat tersebut, MUI Lampung mengimbau para ulama, umara, pengurus masjid, pondok pesantren, majelis taklim, serta seluruh umat Islam untuk memperbanyak do’a, istighfar, istighosah dan ibadah sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi musibah.
MUI juga menyerukan pelaksanaan salat Istisqa secara berjamaah di lapangan terbuka, sebagai ikhtiar memohon kepada Allah SWT agar diturunkan hujan yang membawa rahmat dan keberkahan.
Selain itu, masyarakat diajak memperbanyak doa bersama dan do’a tolak bala untuk memohon perlindungan, keselamatan, ketenteraman, serta keberkahan bagi seluruh masyarakat Lampung.
Para imam masjid dan khatib juga diimbau untuk senantiasa mengingatkan jamaah mengenai pentingnya doa, termasuk melalui Qunut Nazilah, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Mukri menegaskan, ikhtiar spiritual tidak boleh dipahami sebagai pengganti langkah-langkah mitigasi bencana. “Do’a dan ikhtiar harus berjalan bersama. Kita memohon pertolongan Allah SWT, tetapi kita juga wajib menaati ketentuan keselamatan, mengikuti informasi resmi pemerintah dan lembaga kebencanaan, serta menjaga lingkungan. Itulah bentuk tawakal yang benar,” katanya.(*)

