Share This Article
Desa-desa di Lampung menyimpan potensi kekayaan yang luar biasa. Sayangnya, arus komoditas pertanian masih kerap mengalir keluar daerah dalam bentuk bahan mentah.
(Onoff.id): Situasi ini memantik perhatian serius Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, saat membuka Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) di Bandar Lampung, Senin (21 September 2026).
Pemprov Lampung mengarahkan Program Desaku Maju sebagai poros penguatan rantai nilai dari hulu hingga hilir. Melalui program ini, tata kelola ekonomi desa didorong agar tidak lagi berhenti pada sektor produksi primer, melainkan bertransformasi menjadi pusat pengolahan bernilai tambah tinggi.
Di hadapan 168 peserta bimbingan teknis yang terbagi dalam dua gelombang hingga 26 September mendatang, Gubernur Mirza menegaskan, hambatan utama pembangunan desa terletak pada belum optimalnya pengolahan potensi lokal.
Komoditas yang keluar dalam wujud mentah dinilai merugikan masyarakat karena kehilangan potensi perolehan marjin keuntungan yang lebih besar.
“Persoalan saat ini bukan terkait potensi desa. Persoalannya adalah potensi kita yang belum sepenuhnya menjadi nilai tambah,” ujar Gubernur Mirza di Aula Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Lampung.
Ia menambahkan, kekayaan alam di kawasan perdesaan wajib dihentikan dari pola ekspor bahan mentah antardaerah. “Kita tidak mau lagi kekayaan yang ada di desa keluar dalam bentuk mentah,” tegasnya.
Pembenahan Manajerial
Gubernur Mirza menyampaikan untuk mewujudkan ekosistem ekonomi yang mandiri, pengelola BUM Desa dituntut memiliki kecakapan manajerial yang andal. Kapasitas sumber daya manusia penggerak usaha desa harus diperkaya agar mampu menjembatani berbagai kepentingan bisnis secara profesional.
“BUM Desa harus menjadi penghubung antara petani dengan pasar, antara pelaku usaha dengan perbankan, antara desa dengan investor, dan antara produksi dengan industri,” jelasnya.
Optimisme tersebut didasari keyakinan bahwa kebangkitan ekonomi regional bermula dari stabilitas fiskal dan produktivitas di tingkat akar rumput. Apabila institusi ekonomi desa dikelola secara berkelanjutan, kesejahteraan warga secara otomatis akan mengikuti.(*)

