Share This Article
Di bawah remang-remang lampu TPA La Tahzan, suara riuh anak-anak mulai terdengar berpadu dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an.
(Onoff.id): Di antara barisan santri yang duduk bersila di atas lantai, Fauzan Azhari tampak paling mencolok.
Postur tubuh menjulang remaja putra kelas 11 SMKN 7 Bandar Lampung ini, tak membuatnya canggung berbaur dengan adik-adiknya yang masih di sekolah dasar.
Baginya, berada di TPA selepas maghrib bukanlah paksaan dari orang tua. Ini murni kemauannya. Keputusan yang diambilnya secara sadar agar tak membuang waktu sia-sia di rumah.
Ceritanya bermula selepas Fauzan lulus dari pondok pesantren. Ia tak ingin pemahaman agamanya mandek.
Di TPA La Tahzan yang berlokasi di Jalan Pulau Singkep, Sukabumi, Bandar Lampung ini, ia menemukan alasan untuk terus belajar.
Tempat ini menjadi ruang belajar yang menyenangkan berkat sosok guru yang kerap disapa Amah Zulfa. “Amah” merupakan istilah dalam bahasa Arab bermakna sapaan terhormat.
“Amah Zulfa itu ngajarnya santai dan enggak marah-marah,” tuturnya, kepada Onoff.id, Jumat (28 Agustus 2026).
Bagi Fauzan dan 25 santri lainnya, momen paling dinanti justru hadir beberapa menit sebelum kelas usai. Bukan karena ingin bergegas pulang, melainkan keseruan sesi tanya jawab hafalan. Sebagai sarana menguji ingatan mereka tentang materi pengajaran sebelumnya.
“Cara mengajarnya menyenangkan karena terkadang ngasih tebak-tebakan sebelum beranjak pulang,” lanjutnya.

Tempat Jeda Menenangkan Hati
Guru yang kerap dipuji-puji ini adalah Zulfa Ulan Ramadhani, mahasiswi semester 7 UIN Radin Intan. Ia menyisihkan waktu setiap Senin hingga Jumat untuk mengajar. Rutinitas ini telah dilakoni secara konsisten selama satu tahun penuh, sejak ia masih duduk di semester 5.
Di tengah himpitan tugas akademik yang menumpuk dan kesibukannya melakukan pekerjaan sampingan di bidang cartography wedding, melangkah ke TPA ini justru menjadi cara Zulfa merawat ketenangan batinnya.
“Terlalu lelah dengan pelajaran di kampus. Akhirnya ketemu sarana untuk mencari ketenangan di sini,” ungkapnya.
Sebelum kuliah, Zulfa juga pernah mondok di pesantren. Dari sanalah kemampuan mengaji dan mengkaji diperolehnya. Berkat tempaan yang dilewatinya pula muncul kesadaran
bahwa ilmu yang pernah ia pelajari wajib diajarkan dan diamalkan ke orang lain.
“Bagaimana caranya supaya ilmu yang kita punya tidak cuma bermanfaat buat diri sendiri. Tapi wajib juga dibagikan ke orang lain,” tutur Zulfa.
Mengenai metode pembelajaran mengaji yang diterapkan TPA La Tahzan, menurut Zulfa nyaris serupa dengan TPA lain.
Di mana bahan ajar disusun terstruktur mulai dari setoran hafalan, menulis materi tajwid, hingga praktik membaca Al-Qur’an secara langsung.
Sedangkan terkait pengalamannya menghadapi anak-anak dari jenjang SD hingga SMA dengan watak beragam, Zulfa merasa tak ada kendala.
Ia justru bertambah semangat setiap kali melihat antusiasme anak didiknya. Baginya, seorang pendidik memang harus melapangkan dada dan merawat kesabaran seluas-luasnya.(*)


