Share This Article
Ada harga mahal yang harus dibayar ketika Ahmad Murod Timotius Budi Santoso memutuskan untuk memeluk Islam. Pria yang akrab disapa Budi ini harus melepaskan seluruh fasilitas, kenyamanan, dan posisi terpandang yang telah ia bangun selama puluhan tahun.
(Onoff.id): Keputusan besar yang diambil Budi bersama istrinya, Naumi, tak sekadar mengubah arah keyakinan, tetapi juga menghempaskan kehidupan ekonomi keluarga mereka ke titik yang paling nadir.
Semua bermula dari hal-hal sederhana. Sejak tahun 2018, Budi mulai mempertanyakan tradisi perayaan Natal yang ia rasa berbeda-beda di setiap gereja.
“Pas itu saya bertanya-tanya, kenapa di setiap perayaan Natal ada gereja yang merayakan dan ada yang tidak,” ujarnya yang didampingi istrinya saat menuturkan perjalanan hijrah mereka pada Onoff.id, Selasa (15 September 2026).
Keraguannya berlanjut ketika ia mulai mempertimbangkan ajaran yang dipelajarinya, hingga akhirnya ia merasa ada hal-hal yang tak memiliki dasar Alkitabiah murni.
Pertanyaan-pertanyaan itu membawanya pada pemahaman baru mengenai posisi Yesus dalam Islam dan Kristen. Keraguan tersebut menjadi titik balik yang mengguncang hidupnya.
Padahal, ia telah mendedikasikan diri sebagai misionaris sejak tahun 2000 dan merintis sebanyak empat gereja di Jawa dan Lampung.
Sedangkan untuk menjadi seorang pendeta, Budi telah mengantongi gelar Sarjana Teologi dari Sekolah Tinggi Teologi (STT) Depok, hingga akhirnya resmi diangkat menjadi pendeta pada 2010.
Tak Henti Dirundung Cobaan
Budi mengisahkan, selama aktif pada kegiatan keagamaan yang pernah dipeluknya itu, jadwalnya teramat padat. Selain melayani di Jakarta hingga 2020, ia menjabat sebagai ketua pendoa syafaat yang memimpin doa keliling di Jakarta Selatan. Kemudian dia dipindah tugas ke Lampung hingga Semarang, serta rutin memberi pembekalan bagi para anggota misi.
Namun, saat hatinya menemukan jawaban yang selama ini dicari, Budi memilih jujur pada dirinya sendiri. Ia mengembalikan seluruh fasilitas serta harta yang diperolehnya selama menjadi pendeta sebagai bentuk pertanggungjawaban moral.
Langkah tersebut tak langsung berjalan mulus. Budi mengalami penolakan. Bahkan tidak sedikit yang beranggapan keputusannya itu hanya sekadar pencitraan.

Belum lagi proses administrasi perpindahan agama yang diurusnya di Departemen Agama, ternyata tak semudah yang diduga. Semua itu terasa sebagai beban yang tiba-tiba bertumpuk memberati pundaknya.
Tak berhenti di situ, ujian bahkan menghantam dari dalam rumahnya sendiri. Naumi, sang istri, sempat memilih berpisah selama hampir dua tahun karena enggan meninggalkan keyakinannya.
Titik balik bagi Naumi baru hadir pada 2022 saat ia berada di rumah orang tuanya. Suatu ketika, Naumi tak sengaja mendengar ceramah dari pengajian ibu-ibu di dekat rumahnya melalui pengeras suara masjid.
“Pas itu saya dengar ceramah pengajian ibu-ibu dari toa masjid. Di situ saya dengar kalau doa yang bisa sampai ke orang tua adalah doa dari anak yang seiman (anak yang saleh dan salehah). Saya jadi takut kalau terus berbeda keyakinan dari orang tua, saya tidak bisa berbakti ketika akhirnya mereka berpulang,” kenang Naumi.
Tak seperti Budi, keluarga besar Naumi memang mayoritas memeluk agama Islam. Kesadaran untuk memiliki kesamaan keyakinan agar kelak dapat mendoakan orang tuanya itulah yang akhirnya mengetuk hati Naumi.
Setelah berdiskusi panjang, pasangan ini sepakat rujuk dan memulai lagi segala hal dari nol. Berkas administrasi mualaf dan identitas baru mereka sebagai muslim pun resmi diurus di Surabaya pada periode 2022.
Pertolongan pun Datang
Kendati sudah melewati lubang ujian, badai kehidupan tak lantas mereda. Kali ini giliran kemarahan keluarga besar Budi yang meledak. Mereka menganggap dia telah menyesatkan keluarganya. Ujian terasa kian berat ketika putri kecil mereka yang baru berusia sembilan bulan meninggal dunia secara mendadak.
Pengembaraan ekonomi kemudian membawa keluarga kecil ini berpindah-pindah. Mulai dari Palembang hingga bermukim di kawasan Tanjung Senang, Bandar Lampung.
Di tengah himpitan ekonomi yang mencekik, barang-barang berharga seperti ponsel, tabung gas, kompor, hingga magic com terpaksa dijual demi bertahan hidup. Naumi bahkan hanya memiliki satu mukena bekas seharga Rp25 ribu untuk beribadah.
Momen paling menyayat hati terjadi ketika uang di kantong mereka hanya tersisa Rp7 ribu. Naumi menceritakan betapa hancurnya perasaan mereka saat putra kecilnya kelaparan pagi itu.
“Pagi itu anakku yang kecil lapar, aku suruh abangnya beli nasi uduk di pinggir jalan. Ternyata di jalan uangnya berceceran dan sisa 5 ribu rupiah. Padahal nasi sudah dibungkus, tapi tetap tidak bisa dibeli karena uangnya kurang. Alhasil anakku yang kecil menangis karena kelaparan,” kisah Naumi sambil menyeka air mata.

Tekanan finansial dan perut kosong yang tak tertahankan sempat meluapkan emosi Naumi. Dalam keputusasaan yang membuncah, ia mengambil kembali sertifikat kependetaan milik Budi yang selama ini tersimpan. Sebuah ultimatum tegas terucap sore itu.
“Kalau bantuan dari Tuhanmu tak kunjung datang hingga pukul empat sore, aku dan putraku akan kembali ke gereja,” tegas Naumi mengenang ucapan kekecewaannya kala itu.
Namun, di detik-detik paling kritis, pertolongan Tuhan hadir lewat cara yang tak terduga. Siang itu Budi salat di masjid dekat rumah kontrakan. Sepulangnya dari masjid, ia mendengar ketukan di pintu rumah.
Tak dinyana yang datang ternyata Darmono dan istrinya, yang tiada lain tetangga mereka. Menurut Budi, hal seperti itu sesuatu yang tidak biasa.
Apalagi kedatangan mereka sambil membawa kompor gas, beras, bahan makanan pokok, dan uang tunai. “Saya membatin, saat melihat barang-barang yang dibawa Mas Darmono, saya dan istri jadi teringat dengan perabotan kami yang sudah dijual,” cerita Budi.
Ternyata, sambung dia, tetangganya itu sempat melihatnya saat di masjid.
“Entah kenapa hati dia mendadak tergerak untuk membantu saat lihat saya di masjid,” cerita Budi menirukan pengakuan tetangganya itu.
Kalimat itu seketika meluruhkan air mata Budi dan istrinya. Bantuan tersebut tak hanya menyambung hidup keluarga kecil mereka. Melainkan juga membatalkan niat sang istri sekaligus menguatkan iman mereka.
“Ibaratnya bak mandi, harus dikuras dulu baru diisi air yang baru,” ungkap Budi merenungi setiap ujian yang menimpa keluarganya.
“Sesuatu yang membuat hati ini sejahtera itu tidak terletak ketika kita punya semuanya. Tetapi ketika kita menemukan sesuatu yang membuat hati sejahtera, itu lebih mahal. Harga yang tak bisa dibeli dengan uang,” lanjutnya.
Ujian silih berganti. Penolakan dari lingkungan sekitar sempat memaksa mereka berpindah tempat tinggal hingga empat kali.
Namun, di tengah kepungan sosial itu, Hizkia, sang putra sulung, menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa untuk mendampingi ayahnya. “Sekalipun Bapak nanti tidur di bawah jembatan, saya tetap ikut Bapak,” ujar Hizkia mantap menguatkan hati orang tuanya saat cobaan datang mendera.
Perlahan, ketenangan mulai menaungi keluarga ini, terutama setelah mendapatkan perlindungan serta tumpangan rumah gratis dari Ustaz Aliyudin dan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Lampung.
Di tengah proses menata hidup kembali, anak pertama mereka kini berfokus menempuh pendidikan tinggi dengan prestasi akademik yang gemilang (IPK 3,8–4,0).
Kini Budi dan Naumi rutin memperdalam pemahaman agama Islam melalui kajian setiap hari Sabtu di DDII Provinsi Lampung serta belajar membaca Al-Qur’an dari tingkat dasar (Iqra).
Budi menjelaskan, motivasinya membagikan perjalanan spiritualnya ini bukan untuk memicu perdebatan. Melainkan lebih pada berbagi motivasi untuk sesama mualaf. Sekaligus juga ingin mengingatkan umat Islam agar memperkuat benteng keimanan dan tidak mudah terprovokasi.
Dia juga menambahkan, bagi dirinya dan keluarga, setiap penderitaan yang ditemui tiada bukan adalah proses untuk menaikkan derajat hidup.
“Kalau pun saya harus bayar mahal untuk dapat sesuatu yang baik. Saya akan ikhlas membayarnya,” ucap Budi lirih, sembari menggenggam ketenangan jiwa yang kini ia temukan dalam keteguhan iman sebagai Muslim.(*)

