Share This Article
Nabi Ibrahim pernah tak punya harapan memiliki anak. Sampai kemudian pesan itu datang. Serta air Zamzam pun menjulang.
(Onoff.id): Pada suatu malam, Allah meminta Nabi Ibrahim ke luar dari tenda. “Sekarang,” firman-Nya, “Pandanglah langit dan hitunglah bintang-bintang di sana, bila engkau sanggup.” Ibrahim pun menatap langit dan terdengarlah suara, “Sebanyak itulah anak keturunanmu nanti.”
Istri Nabi Ibrahim, Siti Sarah, yang juga sudah lanjut usia kemudian mengizinkan suaminya menikahi Siti Hajar, pengabdinya asal Mesir. Meskipun berbesar hati, Siti Hajar harus tetap menjaga agar suasana tetap harmonis.
Siti Hajar hanya mampu mengadukan segala yang dirasanya kepada Tuhan. Maka, Tuhan mengutus seorang malaikat untuk menyampaikan pesan kepadanya: “Aku akan memperbanyak keturunanmu yang tak terhitung jumlahnya.”
Malaikat juga menyampaikan,“Berbahagialah! Kamu akan dikaruniai seorang anak. Namailah Ismail karena Tuhan telah mendengar penderitaanmu.”
Siti Hajar lalu menemui Ibrahim dan Siti Sarah. Ia menyampaikan apa yang dikatakan malaikat. Ketika bayi yang didambakan lahir, Ibrahim memberinya nama Ismail, yang berarti “Tuhan telah mendengar”.
Ketika Ibrahim berusia seratus tahun, dan Siti Sarah sembilan puluh tahun, Tuhan berfirman lagi kepada Ibrahim, bahwa Siti Sarah pun akan melahirkan seorang anak yang mesti diberi nama Ishak.
Khawatir kalau-kalau Allah mengurangi kasih sayang-Nya terhadap anaknya yang lebih tua, Ibrahim berdoa, “Semoga Ismail hidup dalam hidayah-Mu, ya Allah!”

Dan Allah menjawab, “Aku mendengar doamu tentang Ismail. Tenanglah! Aku merahmatinya dan Aku akan menjadikannya pemimpin suatu bangsa yang besar. Tetapi, kehendak-Ku tentang Ishak telah Kutetapkan dan Sarah akan melahirkannya tahun depan.”
Sejarah ini disampaikan Martin Lings dalam buku biografi yang ditulisnya bertajuk “Muhammad (Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik)”.
Siti Sarah kemudian melahirkan Ishak dan dia sendiri yang menyusuinya. Setelah Ishak disapih, Siti Sarah memohon kepada Nabi Ibrahim agar Hajar dan putranya segera pergi dari rumah mereka.
Karena sangat menyayangi Ismail, Ibrahim amat sedih dengan permintaan itu. Namun, Allah berfirman kepadanya agar permintaan Siti Sarah dipenuhi. Supaya tidak larut dalam kesedihan, Allah berjanji akan memberkati Ismail.
Perjalanan Bersejarah
Dengan demikian, keturunan Ibrahim bukan hanya satu bangsa, tetapi dua bangsa besar yang menjadi sarana menjalankan “Kehendak Langit” yang kepada mereka Allah tidak saja menjanjikan kemakmuran duniawi, tetapi juga keluhuran spiritual.
Ibrahim menjadi pemimpin dua aliran spiritual besar, yang tidak mengalir bersama, tetapi memiliki jalan masing-masing. Ibrahim yakin bahwa Siti Hajar dan Ismail senantiasa dalam naungan rahmat Allah dan dalam lindungan para malaikat-Nya, sehingga segalanya berjalan dengan baik.
Ada dua pusat suci yang melingkupi Ibrahim, satu di daerahnya, dan satu lagi mungkin belum diketahui, dan mungkin ke sanalah Siti Hajar dan Ismail dituntun, ke suatu lembah tandus di Arab, sekitar empat puluh hari perjalanan unta di sebelah selatan Kanaan.
Lembah itu bernama Bakkah. Dilukiskan bahwa semua sisinya dikelilingi bukit kecuali tiga bagian. Siti Hajar dan Ismail “dibimbing langit” meniti jalur tersebut.
Tak berselang lama, sang ibu dan putranya merasa sangat kehausan, sampai-sampai Siti Hajar sangat khawatir akan keselamatan Ismail.
Menurut riwayat, Ismail menangis di hadapan Tuhan dan tergeletak di atas pasir, sementara sang ibu berdiri di atas bebatuan sambil berjingkat memandang ke sekelilingnya, berharap mendapatkan pertolongan.
Namun, ia tidak melihat seorang pun. Hampir putus asa, ia bolak-balik melintasi jalan yang sama sampai tujuh kali. Akhirnya, ketika ia duduk istirahat di dekat sebuah batu karena sangat lelah, datanglah malaikat menemuinya.
Diriwayatkan, Allah mendengar suara seorang bayi itu dan mengutus malaikat surga untuk menemui Siti Hajar dan berkata, “Apa yang membuatmu susah, Hajar? Jangan takut! Tuhan telah mendengar suara bayimu di tempat ia berbaring. Bangkit dan angkatlah bayimu dan gendonglah dengan tanganmu. Dia akan menjadikannya pemimpin bangsa besar.”
Dan Tuhan membukakan matanya, dan Siti Hajar menyaksikan mata air yang menakjubkan. Mata air itu memancar dari gundukan pasir yang disentuh tumit Ismail.
Tak lama kemudian, daerah itu menjadi suatu perkampungan karena memiliki sumber air yang sangat bagus dan menakjubkan. Mata air itu dikenal dengan nama Zamzam.
Rumah Allah
Pada buku biografi “Muhammad” yang disusunnya, Martin Lings mengutip, di dalam Kitab Kejadian diriwayatkan kepada Ishak dan keturunannya, yang tidak lain dari garis keturunan Ibrahim.
Tentang Ismail, kitab itu menuturkan, “Dan Allah bersama sang bayi, dan ia tumbuh serta tinggal di dalam hutan belantara dan menjadi seorang pemburu (pemanah).”

Setelah itu, nama Ismail hampir tak pernah disebutkan kecuali cerita bahwa Ismail dan Ishak bersama-sama mengebumikan ayah mereka di Hebron.
Lalu beberapa tahun kemudian Esau menikahi sepupunya, anak Ismail. Namun, ada suatu pujian tak langsung kepada Ismail dan ibunya dalam Mazmur yang menyatakan:
“Betapa indahnya tempat ibadah mereka, suatu Rumah Allah,” juga ketika bercerita tentang keajaiban Zamzam yang membuat mereka senang melintasi perkampungan itu.”
“Segala rahmat Allah bagi pemimpinnya yang kekuatan jiwanya menjadi jalan bagi orang-orang yang melakukan perjalanan ke Mekah dengan aman.”(*)

