Share This Article
Kesan masjid selama ini seringkali dianggap sebatas tempat ibadah semata. Kesan sakral yang begitu kental tak jarang membikin generasi muda sungkan datang.
(Onoff.id): Pandangan yang tak sepenuhnya keliru itu coba dicarikan jalan tengah oleh Berkah Madani Center (BMC) melalui konsep Surau Peradaban 5.0.
Surau adalah rumah atau bangunan tempat umat Islam mengerjakan ibadah. Istilah ini sangat populer di Sumatra serta Semenanjung Malaya, khususnya di Minangkabau.
Program Surau BMC yang digulirkan sejak 2018 dilahirkan oleh Yayasan BMC yang dipelopori Ustaz Bayu Ari Wibowo dan dikenal sebagai pemilik Sentra Masjid Indonesia. Yayasan ini bergerak di bidang pelayanan dan pemenuhan masjid Indonesia.
Dalam pelaksanaan konsep Surau Peradaban 5.0, masjid tidak lagi melulu sebagai tempat ibadah. Masjid sudah bertransformasi menjadi pusat peradaban inklusif yang memadukan spiritualitas dengan literasi, pendidikan, serta kewirausahaan.
Bahkan dihadirkan pula teknologi hingga urusan kesehatan. Dan yang tak kalah out of the box ialah ketika nuansa ala cafe juga disodorkan dengan menyajikan menu kopi dan kudapan gratis bagi para jamaah.
Menghadirkan suasana berbeda itu diakui Canada, humas Surau BMC, sebagai bagian dari konsep yang diinginkan. Bahkan, menurutnya hal tersebut cukup “mendesak” untuk diterapkan.
“Hari ini masalahnya anak-anak muda kalau ke masjid sering merasa masjid itu bukan ‘gue banget’. Malah kadang khawatir diusir atau dimarahi,” katanya saat disambangi Onoff.id di lokasi Surau BMC di Jl. Tirtaria, Way Kandis, Bandar Lampung, Minggu (11 Oktober 2026).
Surau BMC, sambung Canada, berupaya menghadirkan masjid yang dekat, ramah, dan menjadi solusi bagi problem anak muda tersebut.
“Ini sejalan dengan tagline kita, Comeback to Masjid. Salah satu tujuannya supaya anak-anak muda mau kembali ke masjid. Karena di surau ini, banyak memfasilitasi para pemuda untuk berkarya juga berkegiatan positif,” tambahnya.

Subsidi Silang
Canada menyampaikan, keberadaan surau ini dirancang khusus agar dapat merangkul generasi muda tanpa sekat yang kaku.
“Kami ingin mengubah stereotipe masjid itu tempat yang kaku atau membosankan. Di Surau BMC, kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi pemuda untuk belajar, berkarya, membangun jejaring bisnis, hingga berorganisasi, dengan tetap menjadikan Al-Qur’an dan nilai keislaman sebagai fondasi utamanya,” urainya.
Lebih lanjut Canada menambahkan, secara garis besar konsep yang diusung Surau BMC. Menurutnya, tata kelola Surau BMC mengusung konsep 4 Pilar Kemakmuran.
Pembagian keempat pilar tersebut mencakup Baitul Qur’an sebagai pusat pendidikan, pembinaan karakter, dan pencetak generasi penerus. Lalu Baitul Mal yang berperan dalam pengelolaan dana sosial dan keagamaan seperti ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf) secara profesional.
Selanjutnya Baitud Dakwah sebagai pilar yang menjadikan surau pusat gerakan dakwah, syiar Islam, dan pembinaan moral atau etika. Dan terakhir Baitul Muamalah yang fokus pada kemandirian ekonomi, sinergi, serta kolaborasi usaha jamaah dan organisasi.
Pengelolaan operasional harian di Surau BMC digerakkan oleh struktur pengurus yang disebut sebagai Satya (Santri Karya). “Mereka inilah yang mengurus dan menjalankan operasional BMC. Mulai dari perusahaannya, masjidnya, hingga kegiatan-kegiatan di dalamnya,” jelas Canada.
Sedangkan pilar kemandirian finansial dan dana operasional Surau BMC, lanjutnya, dikelola khusus oleh Divisi Baitul Muamalah melalui unit bisnis PT Sentra Masjid Indonesia yang berdiri sejak 2013 dan memiliki lima cabang di Sumatra dan Jawa. Di antaranya di Palembang, Jambi, Padang, Riau, dan Tanggerang.
Profit dari unit usaha di bawah Divisi Baitul Muamalah inilah yang digunakan untuk menopang seluruh kebutuhan operasional Surau BMC secara mandiri.

Memakmurkan Masjid
Untuk mengisi aktivitas masjid Surau BMC menggelar empat agenda rutin. Seperti kajian interaktif mindshift yang berlangsung setiap Sabtu. Lalu kajian muslimah yang dihelat bulanan bersama Forum Leader Komunitas Muslimah se-Bandar Lampung.
Kemudian ada pula kelas pelatihan seperti desain grafis, videografi, digital marketing, AI, hinga bisnis yang diadakan empat kali dalam sebulan.
Dan terakhir kegiatan bakti sosial yang menggelar terapi kesehatan tradisional seperti totok punggung, bekam dan gurah. “Kegiatannya setiap Rabu,” kata Canada.
Lebih lanjut dia menguraikan pada pilar Baitul Quran, terdapat Rumah Qur’an Syamil Madani (TPA) yang membina 50 murid usia 5 sampai 6 tahun, serta Lumbung Qur’an yaitu pondok tahfidz mukim yang dikhususkan bagi anak muda usia 16–25 tahun.
Lantas ada pula santri pesantren yang dibina selama satu tahun dengan target hafalan 5 juz mutqin, hadis Arbain, akhlak, dan bisnis. Tak sampai di sini ada juga program lanjutan yang akan mengirim santri untuk kuliah di kampus-kampus yang berada di Bandar Lampung.
“Secara prinsip semua kegiatan di Surau BMC diterapkan secara gratis. Kalau pun ada yang berkontribusi sifatnya infak, seikhlasnya,” kata Canada.
Sedangkan bagi para pengurus, kebahagiaan terbesar yang diperoleh adalah ketika dapat menjadi perantara atau wasilah dalam menyampaikan hidayah kepada anak-anak muda untuk semakin mencintai masjid dan Al-Qur’an.

Dengan slogan Surau Sejuta Pengusaha, langkah Surau BMC terus dijalankan untuk mencetak wirausahawan baru, sambil tetap aktif membagikan pengalaman manajemen masjid ramah pemuda ke berbagai daerah seperti di Pesisir Barat, Tanjung Karang Barat, dan Kemiling.
Pengembangan program juga tak henti dilakukan. Sejak menginisiasi kajian anak muda pada 2024 dan memfasilitasi kegiatan internal anak muda pada 2026, kini Surau BMC mengubah pendekatannya dengan mengajak anak muda berkolaborasi.
Saat ini surau terhubung dengan lebih dari 50 organisasi kepemudaan seperti KAMMI, IMM, IPNU, IPPNU, UKM Birohmah Unila, hingga UKM Madani Itera.
Guna mendukung kolaborasi, Surau BMC menyediakan villa ber-AC khusus perempuan dengan kapasitas 20 sampai 25 orang, ruang kelas ber-AC, dapur bersama, hingga kopi dan kudapan gratis, membuktikan bahwa rumah ibadah dapat kembali menjadi pusat pertumbuhan utama generasi muda.(*)

