Share This Article
Memeluk Islam bukan sekadar mengucap dua kalimat syahadat. Tak jarang, menjadi mualaf butuh pengorbanan dan perjuangan berat. Tak sedikit pula yang kerap diiringi krisis ekonomi hingga penolakan dari keluarga.
(Onoff.id): Namun, seberat apa pun risiko yang dihadapi, tidak membuat para mualaf gentar. Mereka tetap Bismillah melangkah, sambil memperoleh pendampingan.
Salah satu lembaga pendamping yang aktif membersamai adalah Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Lampung. Lembaga ini hadir memberikan perlindungan holistik. Mulai dari penguatan akidah hingga pemulihan kemandirian ekonomi.
Bahkan, terang Ketua DDII Provinsi Lampung KH. Ahmad Yani Marjas, proses pendampingan mualaf diawali sejak sebelum calon mualaf mengikrarkan syahadat.
Langkah pertama diawali dengan mewawancarai individu bersangkutan. Mulai dari latar belakang sampai berkenaan motivasi. Sebaliknya, pihak pendamping juga menyampaikan secara transparan konsekuensi dan hak sebagai seorang muslim.
“Sebelum disyahadatkan, kita wawancara dulu. Kita juga kasih gambaran, konsekuensi apa saja untuk menjadi seorang muslim. Ketika mereka sudah paham, baru kita syahadatkan,” terang KH. Ahmad Yani, Senin (14 September 2026).
Menurutnya, semua tahapan tersebut dilakukan agar keputusan memeluk Islam benar-benar didasari kesadaran penuh dari hati.
Setelah resmi bersyahadat, para mualaf disunnahkan melakukan mandi wajib. Selanjutnya, mualaf langsung berada di bawah naungan Bidang Dakwah bagian Pembinaan Muallaf. Pada tahapan ini akan diberikan pembinaan intensif selama kurang lebih tiga bulan.
Sekretaris DDII Provinsi Lampung, Aliyudin, yang juga membawahi Bidan Dakwah bagian Pembinaan Mualaf, menjelaskan dalam masa pembinaan intensif para mualaf dibekali tiga pilar utama keislaman.
“Pembinaan mualaf di sini mencakup tiga hal utama yaitu akidah, ibadah, dan muamalah. Kita ajarkan dari nol, mulai dari tata cara bersuci, salat, hingga belajar membaca Al-Qur’an dari Iqra,” ungkapnya.
Setelah menjalani proses pembinaan, kendati para mualaf dinilai sudah mandiri dalam beribadah, pendampingan serta jalinan silaturahmi secara berkelanjutan tetap berlangsung.
Tantangan Ekonomi
Latar belakang mualaf yang ditangani DDII Lampung sangat beragam, mulai dari mahasiswa, pekerja, warga negara asing, hingga mantan pendeta beserta keluarganya.
Menurut Aliyudin, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, ada belasan mualaf yang telah disyahadatkan melalui pihaknya. Sedangkan per Agustus tahun 2026 ini tercatat ada 3 mualaf yang dalam pendampingan.
Aliyudin juga menambahkan, selain bimbingan keagamaan, tantangan sosial dan ekonomi menjadi fokus perhatian utama DDII. Terutama bagi mualaf yang kehilangan sumber penghasilan setelah memeluk Islam.
“Ujian utama mualaf rata-rata memang ekonomi. Begitupun yang dialami mantan pendeta dan keluarganya. Ketika mereka sudah masuk Islam, secara otomatis penghasilannya nggak ada. Usaha juga nggak punya. Belum lagi tabungan menipis,” kisahnya.
Untuk kasuistik demikian, sambung Aliyudin, pendampingan yang dilakukan lebih pada pembinaan ekonomi.
Sedangkan bagi mualaf yang mengalami masalah sosial hingga diusir oleh keluarga, pihak DDII memberikan penanganan khusus bersifat privat.
Seperti penyediaan tempat tinggal sementara di rumah pengurus, memfasilitasi indekos, hingga bantuan kebutuhan pokok dari dana zakat. Termasuk pula penyerahan perlengkapan ibadah, sampai pendampingan modal usaha.
“Kalau persoalannya terkait ekonomi, kita carikan solusi dari dana zakat. Kita keluarkan untuk bantu kebutuhan pokoknya yang dasar,” urai Aliyudin.
Dia juga menguraikan, ada kasus-kasus tertentu di mana mualaf mengalami keterbatasan waktu, karena rutinitas pekerjaan, sehingga tidak dapat mengikuti pendampingan secara tatap muka, proses pembinaan bisa dilakukan secara daring.
“Ada juga yang untuk menjaga kerahasiaan status mualafnya dari keluarga, demi keamanan finansial dan pendidikan, kita lakukan secara daring,” kata Aliyudin.
Kendati demikian, lembaga tetap menghadapi sejumlah tantangan, seperti domisili mualaf yang tersebar di luar Kota Bandar Lampung. Demikian pula dengan kendala bahasa, seperti pada pendampingan mualaf asal Cina dan beberapa mualaf dari luar negeri yang bersyahadat di tempat ini.
Namun apa pun kendala yang dihadapi, Aliyudin memastikan DDII Lampung akan terus berikhtiar. Sebab, penguatan motif dan niat terhadap para mualaf merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Apalagi bila para mualaf berada pada kondisi lingkungan yang tidak kondusif.
“Kami akan terus ikhtiar demi menjaga komitmen keagamaan saudara-saudara kita yang baru bersyahadat,” pungkasnya. (*)

