Share This Article
Gas sulfur dioksida menyelimuti atmosfer Kota Bandar Lampung selama lebih dari tiga hari berturut-turut. Angin berembus ke arah barat laut dan utara membawa gas vulkanik dari Gunung Anak Krakatau (GAK).
(Onoff.id): Akibatnya, pencemaran udara bertahan pada tingkat yang berisiko bagi kesehatan warga. Pemerintah Provinsi Lampung langsung bergerak menangani dampak buruk paparan racun udara tersebut.
Petugas membagikan masker medis secara masif di berbagai titik wilayah terdampak. Selain itu, armada pemadam dikerahkan untuk menyiram jalan raya demi menekan sebaran debu.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, memimpin langsung pemantauan kondisi kebencanaan tersebut dari Pusdalops BPBD Provinsi Lampung.
“Di Bandar Lampung, konsentrasi SO2 masih berada pada kategori Tidak Sehat, yakni 210 hingga 223 mikrogram/meter kubik, tanpa penurunan berarti dan telah berlangsung lebih dari 72 jam. Namun, untuk kondisi debu partikulat di Bandar Lampung saat ini sudah kembali membaik,” terangnya saat konferensi pers di Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, Selasa (8 September 2026).
Pengaruh Arah Angin
Kondisi berbeda terlihat di Kabupaten Lampung Selatan. Kadar SO2 di kawasan tersebut terpantau sangat rendah dan aman pada angka 39,6 mikrogram/meter kubik. Perbedaan kualitas udara ini terjadi karena faktor geografis serta arah angin.
GAK sendiri sempat mengalami empat kali erupsi pada rentang pukul 05.08 WIB hingga 11.34 WIB. Data gabungan BPBD, BMKG, dan PVMBG mencatat amplitudo maksimum erupsi mencapai 50 milimeter dengan durasi 10 hingga 19 detik. Walaupun erupsi sudah mereda, status gunung api ini masih berada di Level III (Siaga).
Oleh karena itu, Pemprov Lampung terus memantau pergerakan kualitas udara secara ketat. Warga diminta disiplin menggunakan masker saat berada di luar rumah dan mengurangi kegiatan olahraga outdoor.(*)

