Share This Article
Kalau cake dan bread tersusun rapi di etalase toko full berpendingin, dan di bagian luar terpampang brand dengan penuh percaya diri, maka di ujung trotoar atau di pinggir jalan terselip gerobak bersahaja yang menjajakan kue-kue tradisional khas jajanan pasar. Di balik jejeran kue-kue jadul itu seakan terselip pesan, “kami tak lapuk digerus selera modernitas”
(Onoff.id): Jalan ZA Pagar Alam, Labuhan Ratu, pukul tiga sore. Jam-jam segitu, denyut lalu lintas di ruas ini mulai marak kembali. Kendaraan yang sebelumnya bisa melaju lancar, mulai tersendat dan harus sedikit merayap, seiring aktivitas sore dimulai.
Sofian pun sebenarnya baru menyusun dagangannya pada rak gerobak kaca sederhana miliknya. Namun kesibukkannya sontak bertambah seiring pelanggan yang sudah mulai berdatangan.
Tak pelak, gerak tangannya berkelebat ke sana ke mari dari satu nampan plastik ke nampan lainnya mengikuti atensi pelanggan.
Ya, pria Minang ini memang menggelar dagangannya di nampan-nampan plastik sederhana, namun terlihat mengkilap bersih.
Di atasnya tersusun tak kurang delapan varian kue tradisional. Mulai dari cenil, kue talam, getuk, serta klepon. Kue-kue yang mampu memanjakan lidah para pembeli itu dibanderol harga sangat terjangkau. Kisaran Rp2 ribu sampai Rp5 ribu saja.
Sedangkan di sisi luar gerobak, terlihat potongan bambu berjajar yang dipakai untuk mengukus kue putu. Tak pelak aroma pembangkit selera, ketika adonan hijau berpadu pekat gula merah di bambu kukusan, segera menguar menyergap penciuman pembeli atau pejalan kaki di trotoar yang kebetulan melintas di depan gerobak yang di bagian depannya bertuliskan Putu Bambu Medan.

Selera pembeli akan semakin terbit manakala potongan kue-kue putu yang mungil nan hijau ranum itu, ditaburi putihnya parutan kelapa yang sepintas terlihat menyerupai butiran salju.
“Saya jualan begini sudah dari 2017. Usaha warisan orang tua,” kata Sofian, membuka obrolan disela-sela melayani pelanggan, Selasa (22 September 2026).
Menurutnya, ia menggelar dagangan sejak jam 3 sore sampai 9 malam. “Tapi seringnya belum sampai jam 9 sudah habis jualannya, Alhamdulillah,” imbuhnya seraya mengulas senyum.
Dia juga menceritakan bahwa semua kue tradisional yang dijualnya hasil buatan keluarganya. Kemampuan itu diwariskan turun temurun dari nenek hingga ke ibunya kemudian sekarang pada anak-anaknya.
Harga Sebuah Nostalgia
Sofian juga bilang, kalau kue-kue tradisional ini sudah sangat menyatu dengan keluarganya. “Enggak dipungkiri tujuan utama usaha ini cari penghasilan. Tapi enggak tau kenapa, jualan kue-kue yang terkenal di zaman dulu ini, kayak ngasih kepuasan batin sendiri. Kayak lagi nostalgia yang indah. Makanya terus-terusan kami buat dan jual, biar orang lain bisa ikutan juga bernostalgia,” katanya.
Ucapan Sofian tadi seakan menemukan pembenaran lewat ceritanya tentang bagaimana beberapa pelanggan memborong habis dagangannya. Biasanya mereka membeli untuk penganan di acara keluarga atau bersama rekan kerja.
“Sering yang kayak gitu. Langsung main borong. Ada juga yang enggak sengaja liat dagangan saya, terus mampir. Karena teringat kue-kue di masa kecilnya,” cerita Sofian.
“Kalau sudah makan di tempat biasanya juga minta dibungkusin. Terus bayarnya dilebihin, susukannya enggak mau diambil. Mungkin karena saking senengnya bisa nostalgia sama kue kenangannya,” kata Sofian menyudahi ceritanya lantaran pelanggan sudah makin ramai berdatangan.(*)

