Share This Article
Ada tradisi keluarga Kaum Quraisy mengirimkan anak-anak mereka yang baru lahir ke daerah gurun untuk disusui hingga disapih, serta menghabiskan masa kanak-kanak mereka di tengah-tengah suku Badui. Muhammad semasa kecil pun mengalaminya.
(Onoff.id): Ada banyak tujuan yang diharapkan dengan pola penitipan anak kepada keluarga asuh. Seperti tujuan memperoleh udara segar sahara. Tapi itu bukan tujuan satu-satunya.
Maksud lainnya lantaran gurun pasir memiliki manfaat bagi perkembangan jiwa. Sedangkan kehidupan perkotaan ketika itu sudah dipenuhi kecurangan.
Kemalasan dan hura-hura merebak, setiap saat dapat menerenggut dan menghilangkan ketajaman penglihatan serta kewaspadaan manusia.
Segala sesuatu membusuk di sana, termasuk keindahan berbahasa, suatu hal yang sangat menentukan kualitas manusia. Ketika itu sebagian orang Arab sudah dapat membaca. Tetapi, keindahan berbahasa merupakan dambaan setiap orang tua terhadap anak-anak mereka.
Nilai seseorang umumnya dilihat dari kefasihan dalam bertutur kata, dan puncak kefasihan itu adalah puisi.
Mempunyai seorang penyair hebat menjadi kebanggaan bagi keluarga. Dan, penyair-penyair terkenal hampir selalu berasal dari suku-suku padang pasir, karena bahasa sehari-hari mereka memang puitis.
Maka dari itu tali ikatan dengan padang pasir harus selalu diperbarui dalam setiap generasi yang baru lahir—udara segar untuk pernapasan, bahasa Arab yang fasih untuk lidah, kebebasan bagi jiwa.
Dan, anak-anak Quraisy dipelihara di padang sahara hingga delapan tahun agar kebiasaan itu lebih membekas di dalam jiwa mereka, meskipun sebenarnya beberapa tahun saja sudah cukup.
Halimah dan Harits
Beberapa suku memiliki reputasi yang baik dalam menyusui dan mengasuh anak, di antaranya adalah Bani Sa’d ibn Bakr, suku Hawazin terpencil, yang tinggal di sebelah tenggara Mekah. Siti Aminah ingin memercayakan putranya, Muhammad, untuk diasuh seorang wanita dari suku tersebut.
Adalah Halimah dan suaminya, Harits, dari suku Hawazin yang datang ke Mekah untuk menawarkan jasa pengasuhan. Keluarga ini juga memiliki seorang bayi laki-laki. Mereka merupakan keluarga paling miskin di komunitas sukunya.
Sedangkan Siti Aminah yang ingin menitipkan anaknya pada Halimah juga tidak memiliki banyak warisan dari mendiang suaminya. Ia hanya memiliki lima ekor unta, sejumlah anak domba dan kambing, serta seorang budak perempuan.
Akhirnya takdir mempertemukan mereka. Halimah dan Harits bersedia mengasuh anak Siti Aminah. Bagi suku Badui, mengasuh anak dari keluarga tertentu sama artinya membuat ikatan kekeluargaan.
Seorang ibu angkat mengasuh seorang anak yang diharap akan menganggapnya sebagai ibu kedua dan merasa berkewajiban memeliharanya di akhir hayatnya. Anak itu juga akan menganggap dirinya sebagai saudara dari anak-anak kandungnya sendiri.
Dan, bukan hanya suatu hubungan bendawi. Orang-orang Arab menganggap air susu dapat membuat suatu hubungan nasab dan dapat juga menurunkan sifat-sifat sang ibu kepada anak yang disusuinya.

Tanda-tanda Berkah Allah
Dalam tulisan Martin Lings pada bukunya yang berjudul “Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik”, dikisahkan penuturan Halimah sesaat setelah membawa bayi Muhammad untuk dibawa ke kediamannya di padang pasir.
Ketika akan memulai perjalanan, Halimah mengungkapkan, tak lama setelah mendekap Muhammad di dadanya, tiba-tiba payudaranya penuh air susu. Padahal sebelumnya tidak demikian.
Halimah lantas menyusui Muhammad dan anak bayinya sampai keduanya terlelap tidur. Sedangkan ketika suaminya, Harits, mendekati unta betina tua milik mereka, tanpa dinyana kantung susunya diketahui dalam kondisi penuh. Padahal sebelumnya kering kerontang.
Maka Halimah dan Harits meminumnya hingga merasa kekenyangan. Harits pun berucap, “Demi Tuhan, Halimah, engkau telah mengambil makhluk yang diberkahi Tuhan!”
Keistimewaan berikutnya terlihat ketika mereka bersiap-siap berangkat, dan Halimah melangkah sambil menggendong Muhammad untuk menaiki keledai. Tanpa diduga, keledai kurus yang sebelumnya lunglai saat melangkah, kali ini mampu berjalan dengan cepat.
Akhitnya mereka sampai di perkemahan daerah Bani Sa’d. Lokasi ini dikenal sebagai tempat gersang. Namun, semenjak kedatangan bayi laki-laki ini, kambing-kambing milik Halimah dan Harits yang selalu pulang dari penggembalaan pada saat petang, kondisinya penuh air susu.
Keduanya lantas memeras dan meminumnya, sementara kambing-kambing milik tetangga mereka tak dapat menghasilkan air susu sedikit pun.
“Hingga para tetangga kami berkata kepada para penggembalanya untuk menggembalakan ternak mereka di dekat kambing kami merumput,” cerita Halimah.
Namun, kambing-kambing mereka tetap pulang dalam keadaan lapar dan tidak menghasilkan air susu, sementara kambing-kambing Halimah tampak sehat dengan air susu yang cukup.
“Dan, kami tak pernah berhenti mensyukuri nikmat dari Tuhan ini hingga bayi itu telah berusia dua tahun, dan aku pun menyapihnya,” tutur Halimah. (*)

