Share This Article
Film Ageman mengangkat tema toleransi, kerukunan antarumat beragama, serta pentingnya dialog dalam memahami perbedaan. Kepala Kanwil Kemenag Lampung, Zulkarnain, menyebut tema tersebut selaras dengan moderasi beragama.
(Onoff.id): Perbedaan keyakinan di tengah masyarakat menuntut pengelolaan matang berbasis rasa saling menghormati, sebagaimana pandangan yang diungkapkan Zulkarnain.
“Wasatiyah itu berada di tengah. Kita tidak boleh berada pada sikap yang berlebihan. Ketika seseorang merasa paling benar, yang berbahaya adalah ekstrem,” ujar Zulkarnain, saat menerima audiensi tim BLB Film Production di Aula Pepadun Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Rabu (23 September 2026).
Menurutnya, potensi konflik akibat perbedaan pandangan dapat dihindari. Syaratnya, masyarakat harus mampu menempatkan diri secara tepat. Kemudian melihat keragaman sebagai modal sosial yang solid.
Zulkarnain menganalogikan keragaman tak ubahnya ragam instrumen musik yang menyatukan berbagai karakter bunyi menjadi satu kesatuan estetika.
“Ketika ada alat musik petik, alat musik tiup, piano atau keyboard, kemudian semuanya saling memahami dan mengambil peran, maka tercipta harmoni dan keindahan,” ucapnya.
Kurang Ngobrol
Sedangkan Sutradara Ageman, Jasper Lance, menjelaskan bahwa karya sinematiknya berfokus pada ruang perjumpaan dan komunikasi langsung sebagai solusi merajut kerukunan.
Alur cerita menyoroti karakter Ratri yang semula mengisolasi diri dalam kelompok eksklusif, sebelum akhirnya bersinggungan dengan figur Bianca yang memperkenalkannya pada dialog lintas iman dan budaya.
Jasper menjelaskan, latar belakang penggarapan film ini berakar dari kecemasannya terhadap bibit-bibit intoleransi yang kerap tumbuh subur akibat minimnya interaksi sosial terbuka antarkelompok.
“Permasalahan intoleransi sering terjadi karena kurang duduk bersama dan kurang ngobrol. Kita terkadang hanya mendengar apa yang dikatakan orang lain tanpa berbicara langsung,” tutur Jasper.
Interaksi tatap muka diyakini mampu meruntuhkan prasangka, sekaligus menumbuhkan empati kolektif yang lebih luas di tengah masyarakat.(*)

