Share This Article
Berawal dari semangat menjadi lembaga filantropi terpercaya untuk menjembatani donatur dan penerima manfaat. Rumah Zakat Lampung terus berkomitmen memberdayakan masyarakat di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga lingkungan.
(Onoff.id): Sejarah panjang Rumah Zakat diawali dari niat untuk menjadi bagian dari solusi bangsa saat krisis moneter, melalui pembentukan Dompet Sosial Ummul Quro (DSUQ) pada 2 Juli 1998.
Pada tahun 2007, Rumah Zakat resmi mendapat legalitas sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas). Setahun berselang, pada 2008 Rumah Zakat mulai didirikan di Lampung.
Kini, lembaga filantropi ini telah hadir di berbagai ibu kota provinsi di Indonesia, mulai dari DKI Jakarta, Aceh, Jawa Timur, hingga Nusa Tenggara Barat.
Sebagai organisasi filantropi, tugas pokok dan fungsi utama Rumah Zakat adalah menghimpun, mengelola, dan menyalurkan dana sosial keagamaan secara amanah, transparan, dan berdampak luas bagi masyarakat.
Saat ini, Rumah Zakat Lampung menjalankan berbagai program terintegrasi yang berpusat pada konsep Desa Berdaya (desa binaan). Melalui program utama ini, Rumah Zakat bergerak aktif mengentaskan kemiskinan dengan dua pendekatan.
Pendekatan yang dimaksud yaitu distribusi bantuan konsumtif untuk kedaruratan, serta pendayagunaan produktif di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan guna mewujudkan kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.
“Desa Berdaya itu semacam desa binaan yang programnya terintegrasi dari berbagai program yang ada di Rumah Zakat. Di situ kita hadirkan Local Heroes atau Relawan Inspirasi yang kita dampingi dan beri pelatihan untuk mendampingi program kita di desa tersebut,” terang Rahman Hakim, Representative Manager Rumah Zakat Lampung, saat ditemui di Kantor Rumah Zakat Lampung, Jl. Teuku Umar, Kedaton, Bandar Lampung, Kamis (24 September 2026).
Salah satu pilar dari Desa Berdaya ini yaitu pemberdayaan ekonomi melalui program BUMMas (Badan Usaha Milik Masyarakat) di Desa Walur, Pesisir Barat.
Di sana, masyarakat diberdayakan membuat tas kerajinan tangan yang menjadi salah satu produk UMKM unggulan dalam pameran Pemkab Pesisir Barat.
“Produk tasnya diberi label Kuralin. Berupa tas anyaman dengan kualitas premium terbuat dari bahan limbah plastik yang sudah diolah,” terang Rahman.
Selain itu, Rumah Zakat Lampung juga mengembangkan program budidaya ikan air tawar di Negeri Sakti, Pesawaran. Kedua program tersebut dilakukan secara berkelompok.

Mustahik ke Muzakki
Rahman menjelaskan, target lembaganya dalam pemberdayaan ekonomi ditujukan agar masyarakat tak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mandiri secara finansial.
“Target program ekonomi kita dimaksudkan agar masyarakat yang tadinya mustahik (penerima zakat) bisa meningkat taraf hidupnya menjadi muzakki (pemberi zakat). Atau minimal kalau belum wajib zakat, dia berinfak. Harapannya tumbuh kemandirian, bukan sekadar memberi bantuan lepas,” terangnya.
Tidak hanya ekonomi, di sektor pendidikan Rumah Zakat Lampung menjalankan program Rumah Vokasi di Negeri Sakti, Pesawaran.
Di desa tersebut masyarakat diberikan pelatihan komputer, desain grafis, dan percetakan untuk berbagai tingkat usia, dari anak SD hingga orang tua.
Sementara di sektor kesehatan, diluncurkan program Desa Ramah Lansia di Desa Sukajaya Lempasing, Pesawaran. Program ini menyediakan fasilitas pemeriksaan kesehatan rutin, senam, alat olahraga, tempat terapi, hingga Kebun Gizi Lansia agar para lansia tetap produktif dan tidak merasa kesepian.
Adapun pada sektor Lingkungan dan Kebencanaan, kegiatan dikelola oleh komunitas relawan yang berfokus pada pelestarian lingkungan, serta edukasi kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Menyiapkan Pola Pikir
Meski beragam program telah berjalan, perjalanan memberdayakan masyarakat tentu tidak lepas dari hambatan. Dalam mengalirkan bantuan dan merancang program pemberdayaan, keberhasilan jangka panjang sangat bergantung pada kesadaran dan pola pikir masyarakat itu sendiri.
“Tantangan terbesar kita biasanya adalah mengubah perilaku masyarakat. Sebagus apa pun program yang diberikan, kalau perilaku dasarnya belum mendukung, program tersebut tidak akan berhasil,” jelas Rahman.
Menutup keterangannya, Rahman menyampaikan harapannya baik kepada penerima manfaat (mustahik) maupun para donatur (muzakki).
Ia berharap agar para mustahik Rumah Zakat Lampung dapat memanfaatkan bantuan serta pendampingan yang diberikan secara maksimal, sehingga tumbuh kemandirian dan taraf hidupnya meningkat.(*)

