Share This Article
Halimah as-Sa’diyyah, perempuan dari Bani Sa’ad bin Bakar yang tiada lain ibu asuh Muhammad, merawat anak Siti Aminah itu dengan baik layaknya anak kandung.
(Onoff.id): Seperti diriwayatkan, Muhammad yang saat awal diasuh Halimah masih bayi, terus bertumbuh kembang dengan baik. Bahkan disebutkan tak ada anak laki-laki lain yang dapat menyaingi pertumbuhannya.
Setelah mencapai usia dua tahun, Muhammad tumbuh menjadi anak yang cakap. Sesuai tradisi, sudah saatnya bagi Ibu asuh untuk mengembalikan anak yang diasuhnya kepada orang tua kandungnya.
Sesungguhnya Halimah dan suaminya, Harits, merasa berat melepas. Sebab, selama mengasuh Muhammad, kehidupan keluarga mereka terasa banyak menemukan berkah.
Terdorong keinginan terus mengasuh Muhammad, akhirnya Halimah menyampaikan maksudnya kepada Siti Aminah.
“Biarkan ia tinggal bersama kami hingga ia tumbuh lebih kuat, karena aku khawatir ia diserang penyakit di Mekah,” ucapnya, seperti ditulis Martin Lings dalam buku biografi Nabi Muhammad SAW bertajuk “Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik”.
Permintaan Halimah dipenuhi. Ia bersama suaminya kembali membawa Muhammad bersama mereka.
Peristiwa Mengejutkan
Beberapa bulan setelah menemui Siti Aminah, ada peristiwa yang mengejutkan Halimah. Suatu hari, Muhammad bersama saudara laki-laki angkatnya (anak kandung Halimah) sedang bermain dengan beberapa anak biri-biri di belakang kemah mereka.
Tiba-tiba anaknya menghambur ke arah Halimah dan Harits, sambil berteriak ketakutan. “Saudara Quraisy-ku! Dua laki-laki bergamis putih mengambilnya, membaringkannya, dan membelah dadanya. Lalu, tangan mereka mengeluarkan isi dadanya.”
Dengan rasa panik Halimah dan Harits lari bergegas mencari Muhammad. Mereka menemukannya dalam keadaan berdiri, namun wajahnya pucat pasi.
Dengan spontan Halimah bertanya. “Apa yang telah terjadi padamu, anakku?” Yang dijawab, “Dua orang berbaju putih mendatangiku, membaringkan aku dan membelah dadaku untuk mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.”
Suami-istri ini lantas berkeliling melihat sekitar. Meski tak menjumpai dua laki-laki yang diceritakan. Mereka juga tak melihat darah atau luka atau goresan pada tubuh anak angkat mereka.
Kendati demikian, keduanya melihat ada gambaran tak biasa di antara kedua punggung anak asuhnya. Satu tanda berbentuk oval, kecil tapi jelas, namun tanda itu telah ada sejak lahir.
Setelah beberapa tahun, Muhammad lebih mampu menceritakan kejadian itu dengan lebih jelas dan lengkap.
“Ada dua laki-laki datang kepadaku, berbaju putih, dengan sebuah baskom emas yang penuh dengan salju. Setelah itu, mereka membaringkan tubuhku dan membelah dadaku, kemudian mengambil jantungku.
Tampaknya, mereka membukanya dan mengambil segumpal darah hitam dari jantungku serta membuangnya. Lantas, mereka mencuci jantungku dan isi dadaku dengan salju.
Ia juga berkata: “Setan menyentuh setiap anak Adam pada saat ibunya melahirkannya, kecuali Maryam dan putranya.”
Halimah percaya dengan cerita anak kandung dan anak angkatnya. Dia sangat meyakini ucapan keduanya. Tak bisa dipungkiri peristiwa itu membuatnya cemas dan ketakutan.
Demikian pula dengan suaminya. Harits sangat khawatir jika anak angkatnya terkena suatu guna-guna roh jahat atau terserang sihir. Ia pun mengajak istrinya untuk segera mengembalikan anak itu kepada ibunya, sebelum ditimpa kejadian yang mengerikan.

Maka, Halimah membawanya kembali ke Mekah. Ia berniat tidak akan mengatakan apa alasan sebenarnya yang mengubah pikirannya. Namun, perubahan itu terjadi terlalu tiba-tiba dan Aminah tak bisa mereka bohongi.
Akhirnya, ia menceritakan seluruh kejadiannya. Setelah mendengarnya, Aminah menenangkan Halimah agar tidak perlu takut dan berkata, “Peristiwa-peristiwa besar telah terjadi pada putraku.”
Kemudian, Aminah bercerita bahwa ketika mengandungnya, ia sangat sadar ada secercah cahaya memancar di dalam tubuhnya.
Halimah menjadi tenang, tetapi sejak itu Aminah memutuskan untuk mengasuh sendiri putranya. “Tinggalkan ia bersamaku,” katanya, “dan pulanglah dengan tenang.”
Pulang ke Mekah
Sejak itu Muhammad hidup bahagia di Mekah bersama ibunya selama tiga tahun. Ia mendapatkan perhatian lebih dari kakek, paman, bibi, dan sepupunya yang tinggal bersamanya.
Yang paling menyayanginya adalah Hamzah dan Shafiyyah, dua anak ‘Abd al-Muththalib dari perkawinan terakhirnya yang dilangsungkan bersamaan dengan perkawinan orang tua Muhammad.
Hamzah seusia dengannya, sedangkan Shafiyyah lebih muda darinya—paman dan bibi dari garis ayahnya dan sepupu dari garis ibunya—dan terjalin suatu ikatan yang sangat erat di antara mereka bertiga.
Ketika Muhammad berusia enam tahun, Aminah mengajaknya mengunjungi seorang kerabatnya di Yatsrib. Mereka turut dalam satu kafilah ke arah utara, mengendarai dua ekor unta. Aminah menunggangi untanya, dan anaknya menaiki unta yang lain bersama budak perempuannya yang setia, Barakah.
Di kemudian hari, Muhammad menceritakan kegembiraannya saat belajar berenang di rumah saudaranya, keluarga Khazraj, dan bagaimana saudaranya itu mengajarinya bermain layang-layang.
Namun, tak lama kemudian, saat perjalanan pulang, Aminah jatuh sakit. Mereka pun berhenti dan ditinggal oleh rombongan. Setelah sakit beberapa hari, Aminah meninggal dunia di Abwa’—tidak jauh dari Yatsrib—dan di sanalah ia dikuburkan.
Barakah melakukan banyak hal untuk menghibur Muhammad, yang kini telah menjadi yatim piatu. Ia membawanya kembali ke Mekah bersama satu kafilah yang lain.
Ditinggal Sang Kakek
Sekarang, Muhammad diasuh sepenuhnya oleh kakeknya. Dan, kecintaan ‘Abd al-Muththalib kepada ‘Abd Allâh pun segera tercurahkan kepada anaknya.
Abd al-Muththalib sangat senang tinggal di dekat Ka’bah, seperti saat-saat ia mendapat perintah untuk menggali Zamzam. Karena itu, keluarganya selalu menghampar tikar untuknya di bawah naungan Ka’bah.
Karena sangat menghormati ayah mereka, anak-anak ‘Abd al-Muththalib, termasuk Hamzah, tidak berani turut duduk di atas tikar itu. Tapi, cucu kecilnya itu tak segan-segan duduk di atasnya.
Jika para pamannya menyuruhnya pergi, ‘Abd al-Muththalib akan berkata, “Biarkan cucu ku tinggal bersamaku. Demi Tuhan, masa depan yang gemilang ada di tangannya!”
Muhammad biasa duduk di samping ‘Abd al-Muththalib di atas tikar itu, dan menunggangi punggungnya. ‘Abd al-Muththalib merasa senang dengan semua kelakuan cucunya itu. Hampir setiap hari mereka tampak berdua, bergandengan tangan di Ka’bah atau di mana pun mereka berada di kota Mekah.
Abd al-Muththalib sering membawa Muhammad datang ke majelis, tempat berkumpulnya para kepala suku di kota itu, yang jumlahnya lebih dari empat puluh orang untuk mendiskusikan berbagai masalah.
Bahkan, laki-laki berusia delapan puluh tahun itu tak malu-malu menanyakan pendapat bocah berumur tujuh tahun itu tentang banyak hal. Saat ‘Abd al-Muththalib ditanya oleh para sahabatnya yang terkemuka, ia selalu berkata, “Masa depan cucuku ini sungguh gemilang.”
Dua tahun setelah kematian ibunya, Muhammad juga kehilangan kakeknya. Saat meninggal dunia, ‘Abd al-Muththalib mempercayakan cucunya kepada Abu Thalib, saudara kandung ayah Muhammad. Abu Thalib melanjutkan perhatian dan rasa sayang kepada kemenakannya, yang telah diamanatkan ayahnya kepadanya.
Sejak saat itu, si bocah dianggap anaknya sendiri dan istrinya, Fatimah, berusaha sebisa-bisanya untuk menggantikan posisi ibunya.
Di kemudian hari, Muhammad sering mengatakan tentang Fatimah, bahwa ia membiarkan anak kandungnya sendiri lebih lapar ketimbang dirinya, sang kemenakan.(*)

