Share This Article
Setelah kakeknya (Abdul Muthalib) wafat, Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.
(Onoff.id): Kendati sebagai orang terpandang di kalangan kaum Quraish di Mekah, menjelang meninggal kekayaan Abdul Muthalib merosot. Warisan yang ditinggalkan untuk setiap anaknya hanya sedikit.
Sebagian dari mereka, terutama ‘Abd al-‘Uzzah yang dikenal dengan Abu Lahab, telah memiliki kekayaan sendiri. Tetapi, Abu Thalib hidup miskin. Tak pelak kemenakan yang diasuhnya perlu bekerja semampunya untuk mendapatkan nafkah sendiri.
Muhammad banyak bekerja sebagai pengembala domba dan kambing. Dari hari ke hari, ia mengembala sendirian di perbukitan Mekah atau di lereng-lereng pegunungan. Di samping itu, pamannya kadang-kadang membawanya dalam berbagai perjalanan.
Martin Lings dalam bukunya yang berjudul “Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik” menuliskan, suatu ketika saat Muhammad berusia sembilan tahun, atau menurut yang lain dua belas tahun, keduanya pergi bersama kafilah saudagar ke negeri Suriah.
Di Bostra, di dekat sebuah tempat persinggahan para saudagar Mekah, berdiri sebuah biara yang dihuni seorang pendeta Kristen dari masa ke masa.
Ketika sang pendeta meninggal, yang lain menggantinya dan mewarisi semua yang ada dalam biara, termasuk manuskrip-manuskrip kuno. Di antaranya ada satu manuskrip yang berisi ramalan tentang datangnya seorang nabi pada masyarakat Arab.
Bahira, pendeta yang sekarang hidup di biara itu, benar-benar menguasai kandungan kitab ini. Ramalan itu membuatnya sangat tertarik karena, seperti Waraqah, dia merasa yakin nabi tersebut akan datang pada masa hidupnya.

Kafilah Istimewa
Bahira sudah sering melihat kedatangan kafilah Mekah yang singgah tak jauh dari biaranya. Tetapi, kali ini perhatiannya terpaku pada sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ada segumpal awan bergelayut rendah bergerak pelan di atas kepala serombongan kafilah. Awan itu selalu berada di antara matahari dan satu atau dua musafir dari kafilah itu.
Dengan sangat tertarik, dia mendekat. Tiba-tiba perhatiannya berubah menjadi kagum, karena begitu mereka berhenti, awan pun berhenti bergerak. Awan itu tetap menggumpal di atas pohon yang di bawahnya mereka berteduh.
Sementara pohon itu merundukkan dahan-dahannya di atas mereka. Dengan demikian, mereka berteduh di bawah dua naungan. Bahira tahu bahwa pertanda itu, walaupun tidak menonjol, mempunyai signifikansi yang tinggi.
Hanya orang yang punya kepekaan spiritual tinggi yang bisa menjelaskannya. Dan, segera dia berpikir tentang nabi yang diharapkan itu. Benarkah akhirnya dia datang juga, dan berada di antara musafir-musafir itu?
Biara itu baru saja mendapatkan berbagai persediaan makanan. Bahira menyuguhkan semua yang dimilikinya dan berkata kepada para musafir, “Wahai kaum Quraisy! Aku telah menyediakan makanan untukmu. Aku berharap kalian semua datang kepadaku, tua dan muda, budak ataupun orang merdeka.”
Maka, mereka pun datang ke biaranya. Tetapi, sekalipun Bahira telah berkata demikian, mereka meninggalkan Muhammad di belakang untuk menjaga unta dan barang-barang mereka.
Ketika mereka mendekat, Bahira menatap wajah mereka satu per satu. Namun, tak satu pun yang ia lihat sesuai dengan penggambaran dalam kitabnya. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang pantas bagi kebesaran dua mukjizat itu.
Bahira tak putus asa. Dia berpikir barangkali mereka belum datang seluruhnya. “Wahai kaum Quraisy,” serunya, “jangan sampai ada seorang pun dari kalian yang tertinggal.”
“Tidak ada seorang pun yang tertinggal,” jawab mereka, “kecuali seorang anak laki-laki!”
“Jangan perlakukan dia seperti itu,” kata Bahîra. “Ajaklah dia ke sini! Biarkan dia hadir bersama kita dalam perjamuan makan ini.”
Abu Thalib dan yang lain saling menyalahkan atas kecerobohan mereka. “Kita benar-benar terkutuk!” tukas salah seorang dari mereka. “Anak ‘Abd Allah kita tinggalkan di belakang dan tidak turut makan bersama kita!” Segera ia menemui anak itu dan memeluknya, lalu membawanya duduk bersama yang lain.
Tanda-tanda Itu
Pandangan sekilas ke wajah pemuda itu telah cukup bagi Bahira untuk menjelaskan adanya mukjizat itu. Selama perjamuan itu, dia menatap Muḥammad dengan saksama. Pada saat itu dia menemukan beberapa bagian dari wajah serta badannya yang cocok dengan yang dilukiskan dalam kitabnya.
Maka, setelah mereka selesai bersantap, pendeta itu menghampiri tamu termudanya itu dan menanyakan tentang pola hidupnya, tidurnya, serta urusannya sehari-hari.
Muḥammad menjawab semua yang ditanyakannya dengan sigap, karena pendeta itu patut dihormati dan pertanyaan-pertanyaan pun diajukan dengan sopan dan baik. Muḥammad juga tidak ragu-ragu melepaskan jubahnya ketika diminta pendeta itu agar dapat melihat punggungnya.
Sesungguhnya Bahira telah merasa yakin, namun kini ia semakin yakin karena di tempat itu, di antara kedua punggung Muḥammad, ada sebuah tanda yang ia lihat, sebuah tanda kenabian pada tempat yang persis seperti yang digambarkan dalam kitabnya.
Ia kembali kepada Abu Thalib. “Apa hubunganmu dengan anak itu?” ia bertanya.
“Dia anakku,” kata Abu Thalib.
“Dia bukan anakmu. Tidak mungkin ayahnya masih hidup,” tegas sang pendeta.
“Dia anak saudaraku,” kata Abu Thalib kemudian.
“Lalu siapa ayahnya?”
“Dia telah meninggal,” jawab yang lain, “Ketika pemuda itu masih dalam kandungan ibunya.”
“Itu yang benar,” kata Bahira. “Bawalah anak saudaraku ini kembali ke negerinya, dan lindungilah dia dari kaum Yahudi. Demi Tuhan, kalau mereka melihatnya dan tahu seperti aku mengenalnya, mereka akan berbuat jahat terhadapnya! Anak saudaraku ini kelak akan menjadi orang besar,” ucap Bahira penuh rasa yakin.(*)

