Share This Article
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mendorong percepatan pembangunan perdesaan agar lekas naik kelas melalui penguatan ekonomi kerakyatan.
(Onoff.id): Dorongan ini sejalan dengan capaian pertumbuhan ekonomi Lampung yang menembus 5,29 persen pada semester II 2026 dan menempati posisi kedua tertinggi di Sumatera.
Gubernur Mirza mengungkapkan hal tersebut saat membuka Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Lampung Semester II 2026, Diseminasi Kajian Fiskal Regional, serta Kinerja Sektor Jasa Keuangan di Hotel Novotel, Bandar Lampung.
Kegiatan ini diselenggarakan bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Kanwil DJPb, dan OJK Lampung dengan dihadiri kepala daerah, Forkopimda, serta pimpinan media massa.
Dalam arahannya, Mirza menegaskan, pergeseran orientasi pembangunan dari trickle-down economy menuju bottom-up economy. Sektor pertanian yang menyumbang 28 hingga 30 persen perekonomian daerah harus menjadi motor penggerak utama dari tingkat desa.
“Pasal 33 itu menyatakan koperasi, ekonomi disusun secara bersama-sama, dari atas sampai bawah. Bawah itu dikuatkan dulu,” tutur Mirza, Selasa (13 Oktober 2026).
Upaya mendongkrak kesejahteraan desa turut ditopang kebijakan penetapan harga gabah Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini mendongkrak margin keuntungan petani hingga 48 persen dengan pendapatan bersih mencapai kisaran Rp3 juta sampai Rp5 juta per bulan.
“Ketika HET dinaikkan, harga beras naik? Iya naik, tapi naiknya di tangan petani. Keuntungan petani naik 30 persen. Hari ini keuntungan 48 persen, ada di petani,” ujar Mirza.
Peningkatan Berbagai Lini
Lebih lanjut Gubernur Mirza menjelaskan, dampak perputaran ekonomi di perdesaan juga tercermin dari data pembelian kendaraan baru yang dihimpun Badan Pendapatan Daerah Lampung.
Pembelian kendaraan baru melonjak 43 persen, dengan rincian truk melejit 220 persen, van naik 123 persen, serta pick-up meningkat 78 persen untuk mendukung distribusi hasil pertanian.
Peningkatan aktivitas masyarakat turut terlihat dari lonjakan transaksi sapi kurban sebesar 109 persen, domba naik 141 persen, serta naiknya angka perjalanan umrah.
Di sisi lain, tingkat kemiskinan di Lampung berhasil ditekan turun satu poin persentase dalam kurun waktu satu tahun.
Kendati demikian, Mirza mengingatkan pentingnya percepatan hilirisasi mengingat sekitar 55 persen komoditas unggulan seperti sawit, karet, kopi, tebu, dan kakao belum diolah secara optimal di daerah.
Pemerintah kabupaten dan kota diminta mempercepat penyediaan fasilitas pengolahan seperti mesin pengering, sentra peternakan, kawasan industri beras rakyat, hingga pendidikan vokasi.
“Maka kabupaten/kota, kita sama-sama fokus ke desa. Desanya naik kelas. Saya yakin kalau ini dilakukan secara terorganisir, secara gotong-royong, ini akan menjadi basis utama kita. Kita basisnya kuat, bisa tumbuh di Provinsi Lampung,” pungkasnya.(*)

