Share This Article
Membina masyarakat dan suku terasing, mengajarkan literasi, dan menanggulangi gerakan pendangkalan akidah di daerah transmigrasi, adalah tugas yang diemban Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) pada masa awal pendiriannya, 26 Februari 1967. Kalau sekarang?
(Onoff.id): Setahun berselang, sejak didirikan oleh Mohammad Natsir, DDII kemudian hadir di Provinsi Lampung. Tokoh perintisnya di antaranya Rafiun Rafdi, Buya K.H. Nazir Hasan dan K.H. Amir Saifuddin.
Sejalan dengan perjuangan Pusat, kiprah DDII Lampung juga berkomitmen membina akidah umat, melalui pengiriman dai ke daerah pedalaman.
“Program itu menjadi tonggak awal kiprah organisasi ini di Lampung,” terang Aliyudin, Sekretaris DDII Lampung, mengawali uraiannya tentang yayasan ini, Jumat (11 September 2026).
Seiring berjalannya waktu, ikhtiar para perintis berhasil melahirkan berbagai aset dan amal usaha di bidang pendidikan, keagamaan, hingga kesehatan.
Pengembangan Institusi
Lebih jauh Aliyudin menerangkan, kiprah DDII Lampung telah berhasil menginisiasi beberapa institusi. Sebut saja di antaranya Perguruan Diniyyah Putri di Pesawaran dan Pesantren Thuma’ninah Yasin di Metro.
Kemudian Yayasan Darul Hikmah di Bandar Lampung. Lalu Al-Muhsin di Metro. Kemudian Ibnu Rusyd di Lampung Utara dan RS Asy-Syifa di Bandar Jaya.
Lalu ada juga tokoh setempat, K.H. Muswardi Taher yang melalui sekolah Al-Azhar di Bandar Lampung turut memperkuat jejaring yang ada.
Aliyudin menekankan, seluruh pengembangan sarana ini senantiasa memegang teguh prinsip dasar dakwah konstruktif yang diusung Mohammad Natsir.
“Prinsip Beliau adalah melakukan da’wah secara konstruktif tanpa merusak atau merobohkan fasilitas pihak lain. Tapi sebaliknya justru membangun fasilitas sendiri seperti masjid, rumah sakit, dan pondok pesantren,” tutur Sekretaris DDII Lampung yang akrab disapa Ustaz Aliyudin ini.
Senantiasa Berdakwah
Meskipun secara hukum berstatus yayasan, Aliyudin menyebutkan, Dewan Da’wah memiliki struktur seperti ormas. Saat ini keberadaannya telah tersebar di 38 cabang tingkat provinsi hingga kabupaten/kota se-Indonesia.
Adapun sifat keanggotaannya terbuka. Maksudnya dapat berasal dari berbagai profesi seperti akademisi, tenaga medis, ASN, hingga pengusaha.
Saat ini juga, imbuhnya, terdapat setidaknya 100 program kerja yang menjadi perhatian DDII. Beberapa di antaranya seperti pelatihan gratis bagi guru mengaji serta pembinaan di rumah sakit dan lembaga pemasyarakatan.
Program tersebut didanai melalui pengelolaan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf, juga dukungan para donatur.
“Meskipun tetap ada keterbatasan, kami terus berkomitmen menjalankan fungsi pengawalan akidah, penegakan syariah, dan penjagaan keutuhan NKRI melalui penguatan mutu dakwah di tengah masyarakat,” pungkas Aliyudin.(*)

