Share This Article
Siti Hajar berjalan sambil menggendong Ismail yang masih bayi. Langkah Siti Hajar “dibimbing langit”. Hingga meniti lembah bernama Bakkah. Dan keduanya lantas “dipertemukan” dengan mata air Zamzam.
(Onoff.id): Suatu masa Nabi Ibrahim mengunjungi istri dan putranya itu di tanah suci tempat Hajar berada.
Alquran menyatakan bahwa Allah menunjukkan kepada Ibrahim tempat yang jelas, di dekat sumur Zamzam, tempat ia dan Ismail harus membangun rumah suci di atasnya.
Bangunan itu disebut Ka’bah, “Kubus”, sesuai bentuknya yang memiliki empat sudut. Sebenarnya benda yang paling suci di Ka’bah adalah sebongkah batu, yang menurut riwayat dibawa Jibril kepada Ibrahim dari suatu tempat di dekat Abu Qubaysy.
“Ketika turun dari surga, batu ini lebih putih ketimbang susu, tetapi dosa-dosa anak Adam telah membuatnya hitam.”
Batu hitam tersebut kemudian diletakkan di salah satu sudut Ka’bah. Ketika rumah suci itu telah selesai dibangun, Allah berfirman kepada Ibrahim dan mengajarkan berbagai ritus menunaikan ibadah haji ke Bakkah—atau Mekah.
“Aku sucikan rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf dan bagi yang sujud serta rukuk. Dan sampaikanlah kepada umat manusia untuk menjalankan haji, dan mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau dengan menunggang unta yang kurus, yang datang dari segala penjuru yang jauh.”
Siti Hajar pun menceritakan kepada Ibrahim peristiwa yang dialaminya saat mencari pertolongan. Lalu Nabi Ibrahim menjadikannya bagian ritus ibadah haji, yaitu berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
Kemudian, Ibrahim berdoa di Kanaan, mendambakan padang pasir yang subur dan ditumbuhi dengan jagung dan gandum:
“Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tetumbuhan di dekat Rumah-Mu (Bait Allah) yang dihormati. Ya Tuhan, hal itu agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia untuk cenderung kepada mereka dan limpahkanlah rezeki berupa buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Penyimpangan Berhala
Kiranya doa Ibrahim dikabulkan. Karunia yang banyak selalu diberikan oleh jamaah haji yang berkunjung ke Baitullah dalam jumlah yang terus meningkat dari seluruh Jazirah Arab dan sekitarnya.
Haji dilaksanakan setahun sekali. Tetapi Ka’bah dapat dikunjungi kapan saja melalui umrah. Ritus-ritus haji dan umrah dilaksanakan dengan taat dan tekun sesuai aturan yang diajarkan oleh Ibrahim dan Ismail.
Anak keturunan Ishak juga memuliakan Ka’bah sebagai suatu tempat ibadah yang dibangun oleh Ibrahim. Oleh mereka, tempat ini dipandang sebagai tempat ibadah kepada Allah.
Namun, dengan berlalunya waktu, kemurnian ibadah kepada Allah terkontaminasi dan mengalami penyimpangan. Anak cucu Ismail berkembang pesat dan sangat banyak, sehingga tak lagi cukup untuk tinggal di lembah Mekah.
Mereka yang berpencar ke daerah-daerah lain membawa batu dari tanah suci dan mengadakan ritual untuk memuliakannya. Kemudian, terpengaruh oleh tradisi kaum pagan yang menjadi tetangga mereka, berhala mulai ditambahkan ke batu-batu itu.
Akhirnya, jamaah haji mulai ikut membawa berhala ke Mekah dan diletakkan di sekitar Ka’bah. Inilah yang menyebabkan kaum Yahudi berhenti mengunjungi rumah ibadah Ibrahim itu.
Sedangkan bagi kaum penyembah berhala, mereka mengklaim berhala sebagai penghubung antara manusia dan Tuhan. Akibatnya, pendekatan mereka kepada Tuhan menjadi berkurang dan tidak langsung.
Seperti ditulis Martin Lings dalam bukunya berjudul “Muhammad” (Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik), Tuhan menjadi begitu jauh dan mereka melupakan dari mana dunia ini berasal. Hingga akhirnya mereka tak lagi meyakini kehidupan setelah kematian.
Namun, perilaku tersebut memiliki konsekuensi. Mereka tidak lagi punya akses ke sumur Zamzam, bahkan tak tahu lagi di mana sumur itu terletak.
Kaum Quraisy
Adalah orang-orang Jurhum, yang datang dari Yaman. Mereka mengangkat diri sendiri sebagai pengurus Mekah.
Keturunan Ibrahim setuju karena istri kedua Ismail berasal dari Jurhum. Namun, kaum ini kemudian mulai melakukan kesewenang-wenangan, sehingga akhirnya diusir.
Sebelum pergi, mereka sempat menimbun sumur Zamzam. Tak diragukan tindakan itu sebagai balas dendam.

Mereka juga berharap akan kembali dan memperkaya diri dari timbunan itu karena mereka telah menguburkan berbagai harta benda di dalamnya. Harta yang diperoleh hasil sumbangan jamaah haji yang terkumpul di Ka‘bah selama bertahun-tahun.
Posisi Jurhum sebagai penguasa suci Mekah diambil alih oleh Khuzâ‘ah, suatu suku Arab keturunan Ismail yang telah bermigrasi ke Yaman dan kemudian kembali ke utara.
Namun, Khuzâ‘ah tidak berusaha menemukan sumber air yang telah dianugerahkan kepada leluhurnya itu. Sejak pemerintahan mereka, sumur-sumur lain telah digali di seluruh Mekah, karunia Allah tak lagi diperlukan, dan Sumur Suci setengah dilupakan.
Khuzâ‘ah kemudian mengulang kesalahan Jurhum. Mereka juga dihujat. Karena kepala suku mereka, dalam perjalanan pulangnya dari Suriah, meminta kaum Moabit untuk memberikan satu berhala mereka.
Kaum Moabit memberinya patung Hubal, yang kemudian dipajang di tempat pemujaan di dalam Ka’bah. Semenjak itu Hubal menjadi pemimpin berhala di Mekah.
Suku bangsa Arab keturunan Ibrahim yang terkuat lainnya adalah Quraisy. Sekitar empat ratus tahun setelah Masehi, seorang lelaki suku Quraisy bernama Qushay menikahi anak perempuan Hulayl, pemimpin Khuzā‘ah.
Hulayl menganggap menantunya sebagai anak kandung sendiri—sesuatu yang tidak lazim pada bangsa Arab pada masa itu. Setelah Hulayl meninggal, melalui suatu perundingan, ditetapkan bahwa Qushay menggantikan mertuanya menjadi pimpinan Mekah dan penjaga Ka’bah.
Maka, Qushay membawa anggota Quraisy yang merupakan keluarga terdekatnya untuk tinggal di Mekah, dekat dengan Rumah Suci. Mereka adalah Zuhrah, saudaranya. lalu Taym, pamannya. Kemudian Makhzūm, anak pamannya yang lain.
Mereka dan keturunannya dikenal sebagai kaum Quraisy Lembah, sementara sanak Qushay tinggal di lembah-lembah yang mengelilingi Mekah dan daerah luar kota dan dikenal sebagai Quraisy Pinggiran.
Qushay memerintah mereka semua bak seorang raja dengan kekuasaan yang tak tertandingi. Mereka membayarnya setiap tahun dengan domba sehingga dia dapat menyediakan makanan untuk jemaah haji yang tak mampu.
Selama ini, para penjaga Ka’bah tinggal di tenda-tenda di sekitar Ka’bah. Sekarang, Qushay menyuruh mereka membangun rumah setelah membangun sebuah kediaman yang luas untuknya yang dikenal sebagai Rumah Majelis.(*)

