Share This Article
Siang itu, saya lupa harinya, Dandim 0422 Lampung Barat, Letkol Inf Rinto Wijaya, mengontak saya. “Abang di rumah? Saya kebetulan lagi di Karang, saya mampir ke rumah, ya?” ucapnya di ponsel.
(Onoff.id): Singkat cerita, setelah duduk di teras rumah sambil nyeruput kopi, Dandim melanjutkan cerita tentang keprihatinannya terhadap kondisi hutan konservasi di Suoh.
Tema obrolan serupa ini sebenarnya sudah kerapkali kami perbincangkan. Terutama bila Letkol Rinto sedang berada di Bandar Lampung.
Tak hanya berdua, sebelumnya obrolan kerap berlangsung bersama rekan-rekan wartawan dari Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) wilayah Lampung. Kami saling bertukar informasi perihal pengrusakan hutan konservasi di Lambar dan dampaknya.
Atas diskusi dan transformasi informasi dari Letkol Rinto, kami pun rajin mengawalnya melalui pemberitaan. Kami bercerita bagaimana di TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) dan wilayah sekitarnya, termasuk di daerah Suoh, kerap terjadi konflik satwa liar dengan manusia.
Setidaknya, sampai saat itu, sudah jatuh korban 3 tewas dan 1 selamat usai ‘bersitegang’ dengan harimau.
Pemberitaan yang kami buat di-running terus menerus. Tujuannya agar fenomena memprihatinkan itu menjadi perhatian Pemprov Lampung.
Di sisi lain, Letkol Rinto juga terus bergerak melalui koridor tupoksinya. Kami bersinergi melalui kapasitas masing-masing.
Mungkin ada yang bertanya mengapa tentara terlibat aktif mengurusi hutan?
Sebagai catatan, TNI memang ikut mengemban tugas sebagai mitra strategis menjaga kelestarian dan keamanan hutan di Indonesia. Mereka bahkan didapuk masuk dalam bagian Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Letkol Rinto, selaku Dandim Lambar, jelas ikut memikul tugas tersebut.
Kedatangan Letkol Rinto kali itu tak hanya sekadar menyicipi kopi di rumah saya. Dia juga membawa kabar, sore nanti akan bertemu Gubernur Mirza di Dinas Kehutanan.
Di tengah obrolan, ponsel Letkol Rinto berdering. “Saya harus bergerak, Bang,” ucapnya, usai menutup perbincangan.
Dua prajurit segera merapat, mereka bertiga bergeser bersama mobil dinas menemui Gubernur Mirza.
Merapat ke Suoh
Selepas Maghrib, Letkol Rinto kembali mengontak. Dia menawarkan apakah saya dan rekan-rekan wartawan yang selama ini aktif memberitakan kondisi hutan konservasi di Lambar berkenan ikut ke Suoh besok?
“Pak Gub mau lihat langsung kondisinya, Bang,” terang Letkol Rinto. Singkat cerita, keesokan sorenya, saya bersama rekan-rekan wartawan meluncur ke Suoh. Perjalanan terasa berbeda, karena mobil yang ditumpangi Letkol Rinto dan prajuritnya berjalan di muka, seakan membuka jalur bagi kami.
Kami tiba di Suoh malam hari. Tepatnya di Pekon Suka Marga. Kami bersama Letkol Rinto dan jajarannya yang sudah lebih dulu standby di sana, bermalam di rumah salah seorang warga.
Pagi-pagi kami bangun menuju tenda posko yang sudah didirikan di pinggir lapangan pekon. Letkol Rinto memeriksa kondisi persiapan menyambut rombongan Gubernur. Saya dan rekan-rekan wartawan berada di luar tenda posko.
Hingga akhirnya terlihat beberapa mobil merapat di sisi jalan di seberang lapangan. Salah seorang rekan wartawan memberitahu saya, “Itu Dina dan rombongan wartawan yang mau meliput kegiatan, Gub,” terangnya.
Tak lama berselang, sebuah helikopter mendarat di tengah lapangan. Warga dan undangan yang hadir berkerumun di sisi lapangan. Terkesan mereka kagum melihat pemandangan langka berlangsung di depan mata mereka.
Namun, kekhusyukan itu sempat terdistrak oleh Dina dan beberapa rekannya yang mendadak menyebar dan melarang warga mengambil gambar dengan ponsel. “Maaf ya, jangan direkam,” begitu ucap Dina dan kawan-kawannya.
Ada yang menuruti instruksi itu, ada pula yang mendumel. Bagi yang merasa keberatan, mereka merasa aneh.
Mengapa tidak boleh mengambil gambar? Tidakkah ini bukan kegiatan rahasia. Bagaimana pula mau disebut rahasia, kalau peristiwanya berlangsung di lapangan kampung disaksikan banyak warga.
Namun dumelan itu kiranya tidak digubris. Dina dan kawan-kawannya masih terlalu sibuk melarang-larang warga merekam.
Saya dan rekan-rekan wartawan yang datang ke Suoh bersama Letkol Rinto hanya bisa saling pandang. Kami juga menengok ke prajurit yang banyak beredar di lokasi. Mereka kalem, tidak melarang-larang.
Saya lantas melemparkan pandangan ke arah rombongan wartawan yang datang bersama Dina yang berdiri manis di sisi lain lapangan. Sepengetahuan saya mereka dari wartawan elektronik, cetak dan media online.
Ajaibnya, tak ada satu pun di antara mereka yang mengabadikan momen Gubernur turun dari helikopter. Mungkin mereka menganggap sudah biasa. Tidak ada uniknya. Atau mungkin juga sudah diwanti-wanti dengan larangan yang sama seperti larangan ke warga. Mungkin.
Saya juga melayangkan pandangan ke sisi lapangan lainnya. Ada kerumunan warga di sana. Mereka tetap asyik merekam kedatangan gubernur menggunakan ponsel. Karena posisinya relatif jauh, mungkin Dina dan kawan-kawannya enggan menghampiri mereka.
Nah, kalau memang demikian, lantas buat apa gaduh melarang sebagian, sementara sebagian lain tetap merekam. Ini tidak efektif malah lebih terlihat overacting.
Larangan Bertubi-tubi
Rombongan Gubernur Mirza yang didampingi Komandan Korem 043/Gatam Brigjen TNI Rikas Hidayatullah dan Kapolda Irjen Pol Helmy Santika lantas memasuki tenda posko. Sebelum bertemu warga, kiranya ada pembahasan yang dilakukan secara tertutup.
Saya bersama rekan-rekan wartawan yang tiba semalam bersama Letkol Rinto tetap berada di luar tenda posko. Masih di posisi awal semenjak kami tiba di saat pagi.
Tak dinyana, seorang wartawan yang datang bersama Dina menghampiri kami dan mencoba meminta agar kami bergeser menjauhi tenda posko. Alasan yang dia sampaikan karena di dalam tenda sedang ada pembahasan tertutup.
Seorang rekan saya memberi penjelasan kepadanya. Kiranya penjelasan itu bisa diterima kawan jurnalis itu. Dia pun berlalu. Kami bergeming di tempat semula.
Kami, sekali lagi, saling bertukar pandang. Merasa jengah dengan sikap serupa itu. Yang lebih mengherankan lagi, saat bersikap demikian sebenarnya mereka sedang merasa berperan sebagai apa?
Sebagai tim media Gubernur, sebagai ajudan atau sebagai tim pengamanan. Atau semua jobdes itu sudah diborong include dalam pekerjaan mereka?
Tak lama setelah wartawan yang diutus untuk menghalau kami berlalu, saya dan rekan-rekan tetap berada di luar tenda. Sampai akhirnya seorang ajudan gubernur mendekati saya.
Kurang lebih intinya sama. Dia meminta kami menjauhi tenda. Beberapa rekan saya berdiri dari duduk dan mendekat. Saya mengendus gelagat kurang baik akan terjadi kalau saya bersikukuh tak mau bergeser.
Kali ini saya ikuti kemauan sang ajudan, kendati rekan-rekan saya sebenarnya merasa keberatan.
Sambil melangkah saya berpikir. Ini bukan di masa Orde Baru (Orba), kan? Saya juga mencoba menduga, bagaimana mungkin ajudan yang ada di dalam tenda posko, tiba-tiba ke luar dan langsung menuju saya. Mungkinkah ada yang menginstruksikannya?
Saya juga mencoba mengingat-ingat, selama mencicipi liputan sebagai jurnalis dalam rentang masa 4 Gubernur Lampung (Oemarsono, Sjachroedin ZP, Ridho Ficardo, Arinal Djunaidi) baru kali ini saya menemui fenomena tim media gubernur demikian pro aktifnya. Malah kelewat aktif.
Saya tidak mau nyinyir menduga, misalnya, apakah praktik demikian bisa berlangsung karena memang ada sinyal pembiaran. Sehingga perilaku over dosis sekaligus overacting itu begitu pede dilakukan.
Perilaku Cerminan Watak
Saya tadinya mau mengubur dalam-dalam pengalaman buruk Minggu kelam (27 April 2025) di Suoh itu. Tapi luka lama itu terasa basah kembali saat mendapati kabar hal serupa kembali terjadi pada jurnalis Garuda TV, Aza.
Menurut pengakuannya, saat meliput kegiatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-43 yang berlangsung di The Canopy Lampung, Aza didatangi Dina Puspa yang dengan semena-mena melarangnya meneruskan peliputan. Dina juga meminta gambar yang sudah direkam untuk dihapus.
Membayangkan kejadian itu saya merasa tahu bagaimana perasaan Aza ketika itu. Saya juga merasa tahu bagaimana geramnya Aza diperlakukan demikian. Yang lebih mengherankan lagi pelarangan berlangsung pada agenda resmi gubernur dan di ranah publik.
Dan yang lebih membikin saya tertegun adalah intimidasi yang menimpa Aza terjadi pada Jumat (2 Oktober 2026). Sedangkan saya mengalami hal kurang lebih serupa pada 2025 lalu. Kok bisa, orang yang menjadi representasi dari tim media Gubernur Lampung masih tetap menunjukkan arogansi serupa?
Sebenarnya saya enggan meneruskan pikiran saya. Tetapi ini sudah terlalu mengusik. Mungkinkah benar, fenomena yang berlangsung terus menerus dalam rentang waktu relatif lama itu, karena memang ada pembiaran?(*)
Menjadi jurnalis sejak 1999. Pemerhati literasi digital dan tertarik pada sastra. Menulis buku-buku fiksi dan non-fiksi. Tinggal di Kota Bandar Lampung.
