Share This Article
Gunungan sampah harian di Lampung akan disulap menjadi amunisi baru untuk mendongkrak produktivitas pertanian.
(Onoff.id): Pemprov Lampung resmi menjajaki kerja sama strategis dengan PT EZ Solusi Jaringan Terpadu guna merombak limbah perkotaan menjadi pupuk organik dan asam humat.
Pertemuan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, bersama pihak investor di Mahan Agung menandai babak baru penanganan lingkungan berbasis ekonomi kerakyatan.
Langkah ini langsung menyasar akar persoalan substansial terkait upaya mengubah beban ekologis menjadi solusi nyata bagi sektor pangan daerah.
“Kerja sama ini bertujuan mengembangkan pengolahan sampah organik menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan oleh petani,” ujar Mirza, Sabtu (3/ Oktober 2026).
Melalui terobosan ini, limbah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan diolah menjadi produk bernilai guna sekaligus mendukung kebutuhan pertanian dan ketahanan pangan di Lampung.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, volume sampah di Lampung menembus angka 4.667,13 ton setiap hari. Dari jumlah masif tersebut, 51,65 persen di antaranya didominasi oleh sampah organik.
Potensi sekitar 2.410,57 ton limbah per hari ini tidak lagi dibiarkan berakhir di tempat pemrosesan akhir. Pemerintah daerah mengarahkannya masuk ke dalam rantai pasok produksi pertanian.
Transformasi limbah ini dirancang langsung untuk memulihkan kesuburan tanah petani sekaligus memangkas biaya produksi pertanian rakyat.
Seluruh hasil olahan pupuk nantinya diprioritaskan kembali untuk mencukupi kebutuhan domestik di berbagai sentra agraris.
Model Bisnis Mandiri Swasta
Proyek pengolahan terintegrasi ini nantinya akan dijalankan tanpa menguras keuangan daerah. Skema bisnis yang disepakati murni menggunakan investasi swasta, sehingga pemerintah terbebas dari beban anggaran APBD maupun kewajiban membayar biaya layanan pengolahan atau tipping fee.
Dalam skema tersebut, pihak swasta menyiapkan model bisnis mandiri dengan menyewa lahan seluas sekitar enam hektare pada setiap titik operasional yang disepakati.
Sebagai langkah awal eksekusi lapangan, pembangunan fasilitas pengolahan ini dipusatkan di dua lumbung pangan utama, yakni Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Utara. Sementara itu, Kota Metro disiapkan sebagai kawasan penyangga strategis.
Perluasan cakupan wilayah lain akan terus dikaji secara bertahap melalui grand design pengelolaan sampah regional. Melalui terobosan ini, Lampung membuktikan bahwa persoalan lingkungan dan kebangkitan ekonomi agraris dapat berjalan beriringan secara selaras.(*)

