Share This Article
Ancaman kerusakan organ vital tidak lagi mengenal batas usia. Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu mendapati pergeseran demografi pasien gagal ginjal yang semakin mengkhawatirkan. Kelompok usia produktif mendominasi sebagian besar daftar pasien aktif.
(Onoff.id): Berdasarkan catatan sebanyak 15,4 persen dari total 426 pasien aktif terapi cuci darah atau hemodialisis merupakan warga yang masih berada di bawah usia 40 tahun.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Pringsewu, Riza Marroska, menjelaskan fasilitas layanan kesehatan kini rutin menangani pasien dengan rentang usia yang sangat belia. Kasus tersebut tersebar di sejumlah fasilitas rujukan utama seperti RSUD Pringsewu serta RS Mitra Husada.
“Data kami mencatat ada sekitar 13 pasien yang baru berusia 20-an tahun harus rutin cuci darah. Malah ditemukan juga kasus pada rentang usia remaja atau di bawah 20 tahun,” ungkap Riza, Kamis (1 Oktober 2026).
Secara rinci, komposisi pasien hemodialisis aktif di kabupaten ini didominasi oleh kelompok usia 40 hingga 59 tahun sebesar 58,2 persen. Sementara pasien berusia di atas 60 tahun mencakup 26,4 persen, dan sisanya sebanyak 15,4 persen diisi oleh kelompok usia produktif serta usia muda di bawah 40 tahun.
Pola Hidup
Lonjakan angka pasien ini turut berdampak pada peningkatan mobilitas layanan kesehatan. Guna mengantisipasi antrean panjang, serta memfasilitasi rujukan dari daerah sekitar seperti Tanggamus, Pesawaran, dan Lampung Tengah, pemerintah daerah memaksimalkan operasional 37 unit mesin cuci darah yang tersedia.
Riza mengungkapkan, sebagai langkah pencegahan jangka panjang, Dinas Kesehatan Pringsewu menggalakkan edukasi gaya hidup sehat melalui penerapan metode CERDIK.
Masyarakat didorong untuk rutin memeriksa kesehatan, menjauhi rokok, menjaga pola makan seimbang, serta membatasi konsumsi minuman manis dan obat pereda nyeri tanpa anjuran medis.
Pemeriksaan dini sangat dianjurkan terutama bagi warga yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi hipertensi atau diabetes. Layanan pemeriksaan fungsi ginjal kini dapat diakses secara berkala melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas terdekat.(*)

