Share This Article
Namanya Nabilla Zainuri. Berbagai ajang kompetisi pernah dijajalnya. Mulai dari AKSI Indosiar, Sunsilk Hijab Hunt 2016, hingga ajang dakwah tingkat Asia. Kini, alumnus UIN Raden Intan Lampung ini, lebih sering menyambangi berbagai mimbar dakwah, termasuk membimbing para narapidana.
(Onoff.id): Nabilla, tumbuh di tengah keluarga yang aktif di dunia dakwah. Tak heran kalau bakatnya di bidang keagamaan, seperti mengaji dan ketertarikannya terhadap bidang dakwah, sudah terlihat semenjak perempuan kelahiran Kalianda ini duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar.
Keberaniannya untuk tampil dan berkompetisi dari daiyah tingkat desa hingga tingkat provinsi, perlahan tapi pasti telah membangun fondasi kokoh bagi perjalanan dakwahnya kemudian.
“Awalnya aku suka ikut-ikut lomba. Terus mikir kok bisa ya orang tampil kayak gitu? Terus aku latihan, eh lama-lama bisa dan sampai sekarang akhirnya,” kenangnya, membuka obrolan dengan Onoff.id, Kamis (24 September 2026).
Langkah besar dalam karier Nabilla terjadi pada tahun 2015. Saat ia masih mengenyam bangku kuliah semester 5 Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Raden Intan Lampung.
Ketika itu Nabilla memberanikan diri mengikuti audisi program AKSI Indosiar. Bersaing ketat dengan 5.000 peserta dari seantero Indonesia, sampai kemudian berhasil melaju hingga babak 5 besar.
Panggung prestasi Nabilla kian melesat pada tahun-tahun berikutnya. Setahun berselang, ia sukses mengamankan posisi kedua dalam ajang Sunsilk Hijab Hunt 2016 lewat kepiawaian berceramah.
Kiprah dakwahnya mencapai babak baru yang lebih luas ketika ia terpilih menjadi salah satu delegasi mewakili Indonesia dalam ajang internasional tingkat Asia pada 2018.

Prioritas Pendidikan dan Keluarga
Kendati menapaki berbagai ajang dakwah, Nabilla tetap menjadikan pendidikan sebagai prioritas. Setelah menyelesaikan gelar S1 dan S2 di Pascasarjana UIN Raden Intan, kini ia tengah melanjutkan studi jenjang S3 di kampus yang sama.
Selain berdakwah dan menuntut ilmu, Nabilla masih memiliki kesibukan lain. Ia tercatat sebagai dosen mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (Unila), serta dosen sekaligus pelatih yang membidani prestasi lomba keagamaan mahasiswa di UIN Raden Intan.
Sedangkan pada organisasi pengabdian masyarakat, Nabilla diamanahkan sebagai Ketua Perempuan Remaja dan Keluarga MUI Kota Bandar Lampung, serta aktif di berbagai organisasi keagamaan seperti FSDS, FORDAF Fatayat NU, PSQ, dan LDPWNU.
Melalui wadah tersebut, ia rutin memberikan kajian keagamaan dan pembinaan di lembaga pemasyarakatan. Tak heran jika kemudian banyak yang memanggilnya sebagai “Ustazah Nabilla”.
Ia pun kerap diminta mengisi kajian di berbagai majelis dan acara-acara keagamaan di Lampung. Mengenai dunia dakwah yang ditekuninya, Nabilla kerap berdiskusi dengan sesama pendakwah.
Dari sana Nabilla menarik kesimpulan bahwa sekalipun sebagai pendakwah dan merasa dekat dengan Allah, bukan berarti tidak akan diuji oleh Allah. “Menurutku tinggal bagaimana kita memandang dan menyikapinya,” tuturnya.
Mengenai dunia dakwah yang didalaminya, Nabila punya kesan tersendiri. Baginya saat berdakwah merupakan obat batin tersendiri.
“Bisa bertemu banyak orang itu sebuah anugerah, didekatkan dengan orang-orang baik,” ungkapnya.
Sedangkan bagi sesama daiyah atau pendakwah perempuan, Nabilla menitipkan sebuah catatan. Kendati memiliki kepadatan jadwal dakwah, kiranya jangan sampai mengabaikan peran utama dalam keluarga sebagai istri dan ibu di rumah.
“Tetap bermanfaat untuk yang lain, tapi juga tetap tidak melupakan kodrat kita sebagai seorang ibu,” tuturnya.(*)

