Share This Article
Pisang bukan sekadar hasil kebun bagi warga Desa Cilimus, Kecamatan Teluk Pandan, Pesawaran. Buah itu juga menjadi bahan baku yang bisa diolah menjadi keripik.
(Onoff.id): Masalahnya, pengolahan masih banyak dilakukan secara konvensional. Kondisi tersebut membuat proses produksi dan mutu keripik belum seragam.
Institut Teknologi Sumatera (Itera) kemudian membawa teknologi vacuum frying ke desa tersebut. Teknologi ini diperkenalkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dan KKN Rekognisi.
Dari Pisang Segar Menjadi Keripik
Mesin vacuum frying Itera bekerja dengan tekanan rendah. Suhu penggorengan pun dapat dikendalikan sehingga prosesnya berbeda dari penggorengan biasa.
Tim Itera berharap metode ini menghasilkan keripik yang lebih renyah, tidak terlalu berminyak, dan memiliki warna serta kualitas yang lebih konsisten.
Ketua tim PkM Eka Nurfani mengatakan teknologi tersebut dipilih berdasarkan potensi pisang di Cilimus.
“Kami mencoba menerapkan ilmu dan teknologi yang dapat membantu meningkatkan kualitas, efisiensi, dan standardisasi produksi,” kata Eka, dikutip dari Itera News, Minggu (23 Agustus 2026).
Program itu didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun 2026.

Warga Belajar Mengoperasikan Mesin
Pengenalan teknologi tidak berhenti pada penyerahan vacuum frying Itera. Warga juga mendapat pelatihan dari tahap awal hingga pengendalian mutu.
Mereka belajar menyiapkan bahan, mengatur suhu dan tekanan, menentukan waktu penggorengan, hingga meniriskan keripik. Karakteristik produk seperti warna, kerenyahan, dan kandungan minyak juga menjadi bagian dari pelatihan.
Tim Itera sekaligus mengenalkan prosedur operasional standar atau SOP. Langkah ini penting agar kualitas keripik tetap terjaga ketika produksi dilakukan secara berulang.
Dirancang untuk Skala UMKM
Mesin vacuum frying Itera memiliki kapasitas sekitar 5 kilogram bahan baku dalam satu kali proses. Waktu pengolahannya berkisar 25–40 menit.
Peralatan tersebut dilengkapi ruang penggorengan stainless steel food grade, rak produk, pemanas, sensor suhu, pompa vakum, sensor tekanan, panel kontrol, dan kondensor.
Bagi Yuli Hidayani, petani pisang sekaligus mitra desa, teknologi ini membuka pilihan baru bagi warga. Pisang yang tersedia cukup melimpah kini bisa diolah dengan proses yang lebih cepat.
“Dengan adanya teknologi baru ini, bahan baku pisang yang cukup melimpah dapat diolah dengan lebih cepat dan efisien,” ujar Yuli. (*)

