Share This Article
Naik mimbar tanpa persiapan maka siap-siap turun mimbar tanpa penghormatan. Ungkapan ini dikutip oleh Ustazah Nabilla Zainuri saat memberi pembekalan pada Sekolah Dai yang diikuti oleh 54 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).
(Onoff.id): Narapidana? Iya, benar. Peserta didik Sekolah Dai memang berisikan para narapidana perwakilan dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Lampung seperti Lapas Kalianda, Lampung Utara, hingga Lampung Timur, termasuk dua peserta perempuan dari lapas perempuan.
Kegiatan ini diinisiasi Forum Silaturahmi Dai Standarisasi Majelis Ulama Indonesia (FSDS MUI) Lampung bekerja sama dengan MUI Provinsi Lampung dan Lapas Narkotika Kelas IIA Bandar Lampung.
Pembekalan pelatihan dai, imam, dan khatib dilangsungkan secara rutin setiap hari Jumat pukul 09.00–11.00 WIB. Tempat pelaksana dipusatkan di Masjid Al-Hidayah, Lapas Way Hui.
Pada sesi Jumat (18 September 2026) ini Ustazah Nabilla Zainuri menyampaikan materi yang berfokus pada Retorika Dakwah.
Disampaikan olehnya bahwa dakwah berasal dari kata da’a – yad’u – da’watan yang berarti ajakan dan seruan kepada manusia untuk melakukan kebaikan melalui tindakan nyata.
Karena itu, penceramah wajib memiliki kredibilitas dengan tidak hanya memberikan imbauan baik (mau’izhah hasanah), melainkan juga menjadi teladan yang baik (uswatun hasanah).
Dalam praktiknya, lanjutnya, retorika harus dipersiapkan. Apapun yang mau disampaikan harus matang dan disiapkan.
Ustazah Nabilla menyoroti pentingnya persiapan ini sebelum seorang penceramah naik ke atas mimbar, terlepas dari seberapa berpengalamannya orang tersebut.
“Kata guru saya kalau kita naik mimbar tanpa persiapan maka siap-siap turun mimbar tanpa penghormatan,” ungkapnya.

Melatih Retorika dalam Public Speaking
Dalam penyampaian pesan, Ustazah Nabilla membekali peserta dengan teknik CIAS, yaitu Confident (percaya diri dan husnuzan), Inspiring (menginspirasi), Attractive (menarik), serta Skillful atau Humorous (terampil dan komunikatif).
Ia mengingatkan agar penceramah membangun ciri khas sendiri tanpa meniru gaya penceramah lain, serta mampu menyisipkan humor segar yang relevan tanpa menghakimi.
Selain penguasaan materi yang dikemas secara sistematis mulai dari pembukaan, pembahasan inti, hingga penutup berlandaskan Al-Qur’an dan hadis, keberhasilan retorika dakwah sangat dipengaruhi oleh aspek vokal dan fisik.
Aspek vokal mencakup pengaturan volume suara, artikulasi yang jelas, tempo bicara, serta jeda agar pesan mudah dicerna.
Sementara aspek fisik meliputi postur tubuh tegap untuk menunjukkan kepercayaan diri, ekspresi wajah yang sesuai, gestur tubuh yang wajar, serta menjaga kontak mata dengan seluruh jemaah.
Menutup pemaparannya, Ustazah Nabilla mengingatkan para peserta agar senantiasa menjaga kesantunan dan memperlakukan jemaah dengan baik.
“Hal yang paling penting dalam public speaking adalah berlatih, berlatih, berlatih,” ujarnya menekankan pentingnya latihan yang konsisten.
“K.H. Hasyim Asy’ari mengatakan dakwah dengan memusuhi adalah ibarat membangun kota tapi merubuhkan istananya,” tutupnya.
Sebelumnya pelatihan diawali doa bersama serta pembacaan Surah Al-Kahfi berjamaah yang dipimpin oleh Ustazah Sarah As-Shofa. Para warga binaan mengikuti seluruh rangkaian acara dengan khusyuk, tertib, dan penuh antusias.
Melalui program Sekolah Dai ini, FSDS MUI Lampung berharap para warga binaan memiliki bekal keterampilan retorika yang mumpuni sehingga siap menjadi dai, imam, maupun khatib yang bermanfaat bagi masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaannya.(*)

